Kelindan Bisnis dan Seni Nyoman Nuarta

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
video youtube embed

Garuda Wisnu Kencana yang bakal berdiri megah di Bali pada Agustus 2018 akan menjadi salah satu mahakarya Nyoman Nuarta, seniman patung asal Pulau Dewata yang kini tinggal di Bandung, Jawa Barat.

Ukuran Garuda Wisnu Kencana (GWK) dengan tinggi 121 meter dan lebar 64 meter seakan menunjukkan patung raksasa ini tak dibuat dengan main-main. Proses pengerjaannya yang jatuh-bangun hingga 29 tahun menjadi catatan penting: GWK adalah pencapaian sulit.

Namun karya seorang Nyoman Nuarta bukan hanya GWK. Ada puluhan karya fenomenal lain yang ia rancang, antara lain yang paling terkenal ialah patung Jalasveva Jayamahe di Dermaga Ujung, Surabaya, berupa sosok Perwira TNI Angkatan Laut dengan wajah dan tatapan mata mengarah ke laut; patung proklamator RI Sukarno-Hatta di bekas kediaman Sukarno di Jakarta; dan Patung Arjuna Wijaya yang memperlihatkan 8 kuda menarik kereta perang di perempatan Thamrin-Medan Merdeka, Jakarta.

Tak perlu diragukan lagi, Nuarta ialah seniman gigih dan berbakat. Lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung itu total telah menghasilkan ratusan patung hingga kini. Patung-patung itu tersebar di berbagai museum, ruang publik, juga dipesan para kolektor dan dipajang di galeri pribadi Nuarta di NuArt Sculpture Park, Bandung.

Berkat keuletannya berkreasi di dunia seni patung, Nuarta menjadi salah satu penerima penghargaan Padma Shri di bidang seni patung dari pemerintah India, Kamis (25/1). Padma Shri ialah salah satu penghargaan sipil tertinggi di India untuk menghormati jasa-jasa mereka--termasuk warga negara asing--yang dianggap berperan penting dalam bidangnya.

Segala karya dan pencapaian itu jelas tak didapat secara instan. Nuarta terus menyodorkan berbagai inovasi agar karya-karyanya dapat diterima oleh masyarakat. Ia pun memanfaatkan kemajuan teknologi dalam berkreasi.

Sekarang teknologi sudah canggih. Seniman harus menguasai teknologi.

“Seni patung itu sulit, tidak populer seperti seni lukis. Kita harus punya jurus-jurus lain untuk bisa bertahan, kemudian berkembang,” kata Nuarta saat berbincang dengan kumparan di galeri pribadinya, NuArt Sculpture Park, Rabu (17/1).

Ia menekankan pentingnya seorang seniman patung untuk berpikir jauh ke depan. Bukan cuma soal seni, tapi bagaimana membuat karya seni itu dapat diterima oleh masyarakat luas. Caranya ialah dengan memberikan bukti nyata melalui karyanya. Dengan demikian, akan tumbuh rasa percaya di kalangan penikmat seni.

Nyoman Nuarta (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Seniman pun, ujar Nuarta, tak bisa hanya bergantung pada pameran hasil penjualan kepada kolektor. Sebab meski patung yang dijual ke kolektor bisa menghasilkan nilai miliaran rupiah, tapi mereka tak selalu memesan patung.

Oleh karenanya amat penting untuk membangun dan memperluas jaringan perkenalan ke semua lini, termasuk pemerintah dan swasta.

“Kalau pemerintah yang pesan sudah pasti ada duitnya. Juga swasta nasional, misalnya perumahan-perumahan. Sekarang kan mereka perlu (kompleks) gedung cantik dan sebagainya,” kata Nuarta.

Ia sendiri mulai membangun jaringan dan melakukan promosi seni sekitar tahun 1970-an. Kala itu produk seni bukan prioritas bagi negara dan swasta. Meski demikian Nuarta terus bergerak. Ia berusaha memperkenalkan dan menjelaskan bahwa produk seni dapat menambah nilai estetis, baik untuk desain interior ataupun eksterior, baik di kediaman pribadi maupun area publik.

Mempromosikan sesuatu yang bukan prioritas tentu berat dan sulit. Nyaris tak ada yang mau mendengar Nuarta. Ia bak berbicara dengan dinding angin. Namun ia pantang menyerah, dan terus menjalin relasi dengan berbagai pihak.

Selalu ada tantangan dan hambatan. Tak ada yang namanya hidup mulus.

Menteri-menteri pun ia beri penjelasan soal pentingnya seni bagi bangsa. Lambat laun, pandangan Nuarta soal kebutuhan produk seni di area-area publik mulai diterima. Akhirnya, buah manis mulai dipetik.

Bank-bank negara bekerja sama dengan Nuarta untuk membuat patung. Pengembang-pengembang properti juga minta dibuatkan patung untuk ikon perumahan atau perkantoran yang mereka bangun.

Nuarta terang senang. Ia mengerjakan semua pesanan itu dengan sukacita dan sungguh-sungguh. Tak mau karyanya mengecewakan.

Menurut Nuarta, kala itu promosi seni dengan mendekatkan diri pada instansi negara dan swasta tak lazim dilakukan. Biasanya seniman menghasilkan karya untuk dipamerkan pada galeri seni.

“Saya (justru) tidak ikut galeri, jalan sendiri saja, punya cara sendiri. Ternyata cara itu jalan. Malah teman-teman (yang pakai cara biasa) kelihatan tersendat-sendat,” kata dia.

Nuarta memang berbeda. Cara pikir berbeda itu sudah melekat padanya sejak duduk di bangku SMA. Misalnya saja: dengan memilih berkuliah di jurusan seni patung--yang tak direstui banyak orang di sekelilingnya.

Saat itu, kebetulan jurusan arsitektur yang menjadi primadona. Maka pilihan Nuarta terjun ke seni patung disesali kerabat dan sahabat.

Pada satu momen saat ia berkuliah di ITB, pernah ada orang bertanya tentang apa yang akan dilakukan jika memiliki uang Rp 1 miliar. Ketika itu, banyak kawan Nuarta menjawab akan membeli mobil. Tapi Nuarta tidak. Ia dengan lantang berkata hendak membangun museum dan galeri. Jawaban itu segera saja membuat seisi kelas meledak tertawa.

Garuda Wisnu Kencana skala kecil. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Kini, Nuarta tak lagi menjadi bahan tertawaan. Ia bisa membuktikan tak salah pilih jurusan seni patung, dan tak salah bermimpi mendirikan museum. Nuarta sekarang memiliki galeri pribadi serupa museum, NuArt Sculpture Park, yang menawan di Bandung.

Nuarta menegaskan, pematung tak melulu berada di kubangan semen. Seorang pematung yang ideal, ujarnya, mampu menempatkan diri sejajar dengan kolektor, termasuk dengan memperhatikan hal paling sederhana seperti cara makan dan menjaga aroma tubuh.

“Kolektor kita super-super semua. Kalau kita makan ceplak-ceplak berlepotan, mana mau dia bawa kita. Jadi kita harus bisa berubah. Zaman Vincent Van Gogh sudah lewat, zaman Leonardo da Vinci sudah lewat. Sekarang zaman orang harus wangi. Seniman juga harus wangi,” kata Nuarta.

Dulu, seniman dianggap gelandangan. Itu stigma lama yang hendak saya ubah. Seniman juga bisa hidup layak seperti yang lain. Seniman bukan gelandangan.

Nuarta tak ambil pusing jika orang menilai dia lebih seperti pengusaha ketimbang seniman. Yang terpenting bagi dia: seorang seniman harus rapi, sehingga menyenangkan untuk diajak berbisnis dengan para pengusaha.

Resep tersebut memang terbukti manjur untuk Nuarta. Tahun 2018 ini saja ia mengantongi lima proyek besar dari dalam dan luar negeri yang akan segera dikerjakan. Salah satunya pengerjaan patung pada pulau seluas 22 hektare untuk objek wisata.

“Kami akan masuk ke dalam studio yang betul-betul paling profesional di dunia untuk bidang ini,” ucapnya.

Nuarta --bersama tiga orang seniman Indonesia lain--sebelumnya juga digandeng Samsung untuk merancang Galaxy Note 8 edisi khusus guna dilelang dan didonasikan hasilnya.

Deretan patung Nyoman Nuarta. (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)

Hidup Nuarta tentu tak sekadar kisah sukses. Sejumlah perkara tak mengenakkan ia lalui dalam menjalani profesi sebagai seniman patung. Sebut saja pembangunan GWK yang tersendat karena terhambat pendanaan, pembongkaran patungnya oleh sekelompok orang, menjadi korban penipuan, hingga menerima ancaman pembunuhan.

Tapi semua itu tak membuat Nuarta kapok dan gentar. Ia percaya pada hukum karma, dan meyakini orang-orang yang bersikap buruk akan mendapat balasan setimpal.

Saya percaya sama Tuhan. Selama hidup, bekerja baik itulah sembahyang saya, ibadah saya.

Prinsip-prinsip yang teguh dipegang Nuarta itu membuatnya bertahan dan bertekun hingga usia 66 tahun kini.

Terus berkarya, Nyoman Nuarta!

Patung Garuda di Galeri NuArt Nyoman Nuarta. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)