Kelompok HAM Tuduh Pasukan Ethiopia Lakukan Pembersihan Etnis

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang wanita Ethiopia membawa anaknya untuk melarikan diri dari perang di Tigray, (22/11). Foto: Mohamed Nureldin Abdallah/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang wanita Ethiopia membawa anaknya untuk melarikan diri dari perang di Tigray, (22/11). Foto: Mohamed Nureldin Abdallah/REUTERS

Amnesty International dan Human Rights Watch (HRW) merilis laporan bersama berjudul ‘Kami Akan Menghapus Anda Dari Tanah Ini’ pada Rabu (6/4). Dokumen itu mengungkap, pasukan keamanan regional telah meluncurkan kampanye pembersihan etnis di Ethiopia.

Dua pengawas hak asasi manusia terkemuka itu menerangkan, kekerasan menyasar Tigrayan. Mereka merupakan kelompok etnis dari Tigray barat. Tigrayan mencakup sekitar 6,1 persen dari keseluruhan populasi Ethiopia.

Wilayah Tigray barat telah lama diperebutkan sejak peperangan pecah pada November 2020. Kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan kemudian melanda wilayah itu.

Warga Ethiopia yang melarikan diri dari konflik di Tigray Ethiopia, tiba di tepi Sungai Tekeze di perbatasan Sudan-Ethiopia, di Hamdayet, Sudan, (21/11). Foto: Nariman El-Mofty/AP Photo

Pasukan keamanan dan otoritas sipil mengusir paksa ratusan ribu penduduk dari Tigray barat. Mereka melakukan pengusiran sistematis melalui pemerkosaan, pembunuhan, kelaparan, dan pelanggaran serius lainnya.

Kelompok HAM menekankan, tindakan kekerasan terkoordinasi itu bermotif etnis.

"Serangan yang meluas dan sistematis terhadap penduduk sipil Tigrayan ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan, serta kejahatan perang," tulis laporan Amnesty International dan HRW, seperti dikutip dari AFP.

Warga Ethiopia yang melarikan diri dari konflik di Tigray Ethiopia, tiba di tepi Sungai Tekeze di perbatasan Sudan-Ethiopia, di Hamdayet, Sudan, (22/11). Foto: Mohamed Nureldin Abdallah/REUTERS

Amnesty International dan HRW melangsungkan penelitian selama 15 bulan sebelum menerbitkan laporan tersebut. Pihaknya mewawancarai lebih dari 400 warga Tigray barat.

Sebagian di antara mereka merupakan pengungsi yang melarikan diri ke Sudan. Sedangkan sebagian lainnya adalah saksi mata kekerasan yang masih mendiami Ethiopia.

Kelompok HAM mendokumentasikan perbudakan seksual dan pemerkosaan berkelompok terhadap perempuan Tigrayan. Pemerkosa mengeklaim, mereka tengah ‘memurnikan’ darah korban.

Pelaku kekerasan juga membangun penjara yang penuh sesak untuk menahan dan menyiksa etnis Tigrayan. Eksekusi pun kerap mereka lakukan. Kelompok HAM telah menyingkap pembantaian terhadap puluhan pria di tepi sungai.

Anggota Pasukan Khusus Amhara memegang senjatanya di Humera, Ethiopia. Foto: Eduardo Soteras/AFP

Tuduhan kekerasan itu dilayangkan kepada administrator sipil di Tigray barat. Kelompok HAM turut menyebut keterlibatan pasukan regional dan milisi sipil. Mereka direkrut dari wilayah tetangga, Amhara.

Amhara dan Tigray adalah dua kelompok etnis terbesar di Etiopia. Keduanya menggenggam klaim bersejarah sepenuhnya atas hamparan subur yang luas di Tigray barat. Daerah itu membentang dari Sungai Tekeze hingga Sudan.

Pemerintah daerah Amhara tak lantas berdiam diri. Jubir Amhara, Gizachew Muluneh, menyebut segala temuan itu bohong dan bias.

"Tak satu pun dari pasukan kami terlibat dalam kejahatan seperti yang dinyatakan dalam laporan itu," tegas Gizachew.

Anggota milisi wilayah Amhara naik truk mereka saat mereka menuju untuk menghadapi Tigray People's Liberation Front (TPLF), di Sanja, wilayah Amhara dekat perbatasan dengan Tigray, Ethiopia. Foto: Tiksa Negeri/REUTERS

Gizachew menuduh pihak lain telah melanggengkan pelanggaran semacam itu. Ia mengacu pada partai Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF). Partai itu sempat berkuasa di Tigray dan pernah mendominasi politik Ethiopia.

Pengawas HAM juga menuding pasukan federal Addis Ababa. Pihaknya memojokkan pemerintah Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed. Menurut mereka, Abiy sengaja menutupi pelanggaran hak asasi. Pun ia dikatakan membatasi akses menuju Tigray barat.

"(Kekejaman terjadi) dengan persetujuan dan kemungkinan partisipasi pasukan federal Ethiopia," sambung laporan itu.

PM Ethiopia Abiy Ahmed. Foto: Tiksa Negeri/REUTERS

Pada November 2020, Abiy mengirim pasukan ke Tigray barat. Keputusan itu dibuat usai Abiy menuduh TPLF telah menggencarkan serangan terhadap kamp-kamp tentara federal.

Pasukan Amhara dan federal kemudian merebut wilayah itu dengan cepat. Pihaknya lalu menunjuk sebuah pemerintahan baru.

Pasukan Eritrea turut bergabung dengan Amhara. Eritrea bersekutu dengan Ethiopia dalam perang melawan TPLF. Mereka menjarah tanaman dan ternak, serta mengusir Tigarayan dari pemukiman. Para tentara menangkap dan menahan ribuan orang di kamp-kamp militer.

"Beberapa tewas akibat penyiksaan, penolakan perawatan medis, dan kekurangan makanan dan air; penjaga membunuh yang lain," imbuh laporan itu.

Warga Ethiopia yang melarikan diri dari pertempuran yang sedang berlangsung di wilayah Tigray, berkumpul di desa Hamdayet dekat perbatasan Sudan-Ethiopia, Sudan, (22/11). Foto: Mohamed Nureldin Abdallah/REUTERS

Laporan turut menunjukkan, pejabat setempat kerap menolak akses bantuan kemanusiaan. Pembersihan etnis itu juga meliputi larangan penggunaan bahasa Tigrayan. Kendati demikian, pemerintah bersikeras seluruh laporan itu tidak benar adanya.

"Otoritas Ethiopia dengan tegas membantah luasnya kejahatan yang mengejutkan yang telah terungkap dan gagal mengatasinya," terang direktur eksekutif HRW, Kenneth Roth.

Abiy telah berjanji untuk mengakhiri konflik dengan cepat. Tetapi, pertempuran meluas hingga ke luar Tigray barat. Addis Ababa kemudian mendeklarasikan ‘gencatan senjata kemanusiaan’ pada bulan lalu.

Sejumlah pasokan telah mencapai wilayah tersebut. Walau begitu, bantuan kemanusiaan itu tidak mencukupi. Sebab, ratusan ribu orang tetap menghadapi kelaparan di seluruh Tigray barat.