Keluarga dr Aulia Minta Kemendikbud Ikut Tanggung Jawab Kasus Bullying Dokter
·waktu baca 2 menit

Misyal Ahmad, pengacara keluarga almarhumah dokter Aulia Risma, meminta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bertanggung jawab atas kematian korban.
Misyal mengatakan kematian dr Risma tidak terlepas dari bobroknya sistem pendidikan dokter spesialis yang melanggengkan budaya bullying antara senior dan junior. Sistem pendidikan seperti ini merupakan ranah dari Kemendikbud.
"Ini sebetulnya tidak di Kemenkes, ini ranahnya Kementerian Pendidikan. Kementerian Pendidikan yang mempunyai program enggak tahu seperti apa bisa jadi korban seperti ini. Ini yang harus bertanggung jawab Kementerian Pendidikan," ujar Misyal di Polda Jateng, Kamis (5/9).
Ia menjelaskan, dalam pendidikan dokter spesialis mahasiswa senior lah yang mengajar juniornya, atau dalam kata lain tidak ada SOP yang jelas dalam sistem belajar di PPDS ini.
"Sekarang Kaprodi harus bertanggung jawab, dia tidak bisa bilang tidak tahu. Dan, ini yang mengajar ini seniornya, bukan dokter spesialis, dokter spesialis mengajar yang di atas, yang di atas mengajar bawahnya. Tidak jelas SOP programnya, standarnya seperti apa," jelas dia.
Sejauh ini belum ada komunikasi antara pihaknya dengan Kemendikbud. Namun ia meyakini antar kementerian sudah saling berkomunikasi terkait kasus ini.
"Sudah, antar-menteri mungkin sedang berkomunikasi. Saya juga mengapresiasi kepada presiden ini menunjuk menteri kesehatan bukan dari dokter, karena memang yang masalah di kementerian ini adalah sistemnya," kata dia.
Menurutnya, kasus bullying seperti ini merupakan fenomena gunung es yang tidak hanya terjadi di Undip saja. Kasusnya banyak namun tidak ada yang berani melapor sehingga ini terus dipelihara.
"Ini seperti fenomena gunung es yang berulang jadi rata-rata pelaku adalah korban. Nah kalau kita tidak putus mata rantai ini ya repot. Banyak terjadi di tempat-tempat lain tapi mungkinkan mereka nggak berani. Ini kan kita mencari satu cara agar mereka berani mengungkap," kata dia.
Ia juga menilai, dengan buruknya sistem pendidikan dokter spesialis ini, tidak jarang ditemukan dokter yang bersikap kurang enak saat menangani pasien.
"Kalau cara mendapatkan dokter dengan cara kekerasan seperti ini dihancurkan mentalnya, dibikin depresi bagaimana kita bisa memiliki dokter-dokter yang baik. Bagaimana kita bisa mendapatkan dokter yang memiliki empati kepada pasien, cara bicaranya baik, tidak emosional," kata Misyal.
