Keluarga Sebut Pengantar Jenazah Sutrimo Tak Bisa Dihubungi, Sempat Tak Curiga

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Garis polisi yang terpasang di Mordent Esthetic Clinic, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/7/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Garis polisi yang terpasang di Mordent Esthetic Clinic, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/7/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Pengacara keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, mengatakan nomor handphone (Hp) atau ponsel orang yang mengantar jenazah Sutrimo, tak bisa dihubungi.

Sutrimo yang disebut-sebut sebagai kepala rumah tangga eks Jampidsus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah ini sebelumnya ditemukan meninggal dunia di depan Klinik Kecantikan Mordent, kawasan Pulo, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

"Lalu orang yang nganter jenazah yang Hp-nya dulunya kemarin bisa dihubungi terus ternyata (nomor Hp-nya) mati," kata Aan melalui sambungan telepon, Senin (10/8).

Aan mengatakan, berdasarkan informasi dari keluarga, jenazah Sutrimo datang dalam kondisi dikafani dan bersih, sehingga saat itu keluarga tidak menaruh kecurigaan.

"Memang kan Sutrimo itu dibilangnya karena sakit, apa, gula, gulanya katanya sampai 600. Memang, memang punya riwayat gula," katanya.

"Jadi ya pihak keluarga begitu datang jenazah karena orang Islam meyakini bahwa sebaik-baiknya jenazah itu langsung dikuburkan di hari yang sama begitu kan, maka datang jam 10 itu ya langsung dikubur gitu kan," katanya.

Saat itu orang yang mengantar jenazah mengatakan ponsel dan barang Sutrimo lainnya akan dikirimkan besok.

"Nah, kemudian berapa hari kemudian kan ada berita dan lain-lain. Pihak keluarga ya di satu sisi merasa ini ada apa sih gitu kan? Kan menjadi berita bagi orang desa itu kan bukan hal yang menyenangkan ya," katanya.

Aan menyebut kecurigaan muncul, tetapi keluarga belum berani melapor saat itu. Setelah didampingi pengacara, pihak keluarga mulai terbuka.

"Dompet enggak pulang dan lain-lain ya mereka juga kecurigaannya kan bertambah. Lalu juga orang yang itu (mengantar) kan kejanggalan," katanya.