Keluh Kesah Warga soal Keberadaan Fotografer di Jalan yang Kini 'Menyeramkan'

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perlengkapan marathon. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perlengkapan marathon. Foto: Shutter Stock

Founder Drone Emprite Ismail Fahmi bercerita seputar pengalaman kurang mengenakkannya saat lari di sekitar Palembang Icon Mall belum lama ini. Ia merasa risih karena dipotret banyak fotografer saat melintas.

"Minggu lalu saya keliling di Palembang, fotografer itu banyak sekali. Itu seperti intimidating," kata Ismail pada Selasa (28/10).

Katanya, awalnya ia merasa wajar karena mungkin dikenal sebagian publik karena aktif di media sosial, khususnya X. Namun rasa tidak nyaman muncul ketika jumlah fotografer yang memotretnya dinilai sudah tak wajar.

"Awalnya saya merasa foto aja silakan, tapi kok lama-lama wajah saya di mana mana. Ini gila banget, ini sampai 15 meter itu ada lagi. Mungkin ini praktik biasa tapi menurut saya berlebihan." katanya.

Ia menambahkan, para fotografer itu memanfaatkan suatu aplikasi jual beli foto yang dapat mendeteksi wajah seseorang.

"Dulu kan kita lari harus menghubungi di Instagram, kan repot. Sekarang kita gak perlu cukup dengan aplikasi ketahuan. Saya lihat foto saya banyak sekali di sana," kata dia.

Ismail bercerita, saat mengajak istrinya untuk lari bareng. Dan ternyata, saat itu juga banyak fotografer yang memotretnya dari belakang.

"Saya juga minta istri saya lari dulu, difoto dari belakang. Kayak artis difoto jebret jebret, ini creepy (menyeramkan)," tuturnya.

Ilustrasi Fotografer Foto: Shutter Stock

Ajak Masyarakat Diskusi: Etika atau Ekonomi?

Ismail mengatakan, sengaja memposting isu ini di X untuk berdiskusi seputar fotografi, ekonomi, dan etika. Sebab, sampai ini belum ada aturan jelas soal praktik yang kian jamak tersebut.

"Saya sengaja pakai kalimat netral positif, ini harus dibahas secara publik. Ada teknik kita pura pura netral sehingga orang bisa memberikan ekspresinya, yang dihina-hina saya enggak apa-apa," kata Ismail yang postingannya soal foto jalanan di X menjadi viral ini.

Menurutnya, tak sedikit yang melapor atau sekadar bercerita dengannya soal fenomena ini. Katanya, mereka risih bila lari tapi banyak fotografer di jalan.

"Bukan kota besar saja, kabupaten kecil juga gitu. Banyak orang yang risih ke CFD, harus pakai masker, gak nyaman. Tujuan saya adalah let's talk about this, orang mempermudah pekerjaan, tapi ada motivasi yang lain. Di luar negeri gak ada gitu, di Indonesia selalu ada privasi gak ada," urainya.

"Foto bebas menjadi hal yang normal, tapi gak normal di luar negeri. Ada orang niat jahat pakai foto seksi-seksi, kita gak tahu niat mereka. Pura-pura fotografer, ini ada something wrong," sambung dia.

Ismail memahami, fenomena ini jadi ladang para fotografer mencari cuan. Namun di sisi lain ada sisi negatif yang mengintai.

"Ada dunia nyata dan digital, dengan mudah aplikasi dengan AI itu digital. Mungkin perlu ada tempat khusus, seperti wartawan kalau motret. Atau dari sisi yang difoto ngasih tahu atau tanda kalau gak mau difoto," tuturnya.

"Ini kan belum ada aturannya, misalnya rules of conduct. Jadi kalau dia gak berkenan difoto, dia sampaikan kalau gak mau dihapus. AI membantu, memudahkan fotografer, tapi jangan dengan kemudahan ini mereka ter-abuse dengan tidak adanya aturan," imbuh Ismail.

Katanya, harus ada diskusi antara berbagai pihak. Pemerintah pusat maupun daerah juga bisa terlibat.

"Ini aspeknya luas, dan organisasi, harus ada pembahasan ini bersama sehingga mewakili fotografer, runner, ini ruang publik. Gimana kalau ini terjadi di Jakarta, ini pemprov gimana. Kalau nasional di Kominfo, implementasi AI dan etika dan lain-lain, ini diharmoniskan,' kata Ismail.