Kemarau Panjang, Bendung Wilalung Kudus Sudah 3 Bulan Mengering

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana Bendung Wilalung yang berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (16/9/202). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Bendung Wilalung yang berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (16/9/202). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Kemarau panjang menerpa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Akibatnya, Bendung Wilalung yang berada di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah ikut mengering selama tiga bulan terakhir.

Pantauan kumparan di Bendung Wilalung pada Rabu (16/9) siang, tampak pada pintu nomor 1 sampai pintu nomor 11 tidak terdapat air. Di lokasi itu hanya ada sisa air yang berada di pintu nomor 11.

Di area bawah Bendung Wilalung tampak retakan tanah di beberapa titik. Kondisi tanah mengering dan gersang. Rumput di sekitar Bendung Wilalung juga menguning.

Operasional dan Pemeliharaan Bendung Wilalung, Sugeng Haryanto menyampaikan, kekeringan di area Bendung Wilalung sudah terjadi sejak tiga bulan terakhir. Salah satu faktornya kemarau panjang yang menerpa Kabupaten Kudus.

"Faktornya karena kemarau. Selain itu kondisi debit air dari Bendung Klambu di Kabupaten Grobogan masih aman. Sehingga debit airnya tidak dialirkan ke Bendung Wilalung," katanya kepada kumparan, Rabu (16/9).

Suasana Bendung Wilalung yang berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (16/9/202). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Sugeng memaparkan, kendati Bendung Wilalung mengering, tidak memberikan dampak apa pun kepada masyarakat sekitar. Sebab, fungsi Bendung Wilalung tidak mengalirkan air untuk irigasi sawah. Melainkan hanya sebagai penampung air saja.

"Bendung Wilalung ini fungsinya menampung air dan mengendalikan air saat terjadi banjir. Fungsinya sudah tidak lagi mengalirkan air ke irigasi," terangnya.

Ia melanjutkan, Bendung Wilalung biasanya terisi air ketika curah hujan tinggi. Dari situ, Bendung Wilalung menerima kiriman air yang berasal dari Bendung Klambu.

"Ketika musim kemarau seperti ini, debit air Bendung Klambu normal. Maka, tidak perlu membuka pintu air ke Bendung Wilalung," jelasnya.

Sementara itu, terkait tanah yang mengalami retak-retak di bawah Bendung Wilalung, ia menjelaskan penyebabnya memang karena kemarau. Tanah tersebut merupakan jenis tanah aluvial yang berupa endapan seperti lumpur dan pasir.

Suasana Bendung Wilalung yang berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (16/9/202). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Bendung Wilalung selama ini mengalirkan air ke Sungai Juwana (arah Kabupaten Pati) dan Sungai Wulan (dari Kabupaten Kudus ke arah Kecamatan Karanganyar Kabupaten Demak menuju ke muara Laut Jawa).

"Saat musim hujan, fungsi Bendung Wilalung ini membagi beban air ke Sungai Wulan dan Sungai Juwana. Yakni dengan catatan debit air di Bendung Klambu 800 meter kubik per detik," ujarnya.

Bendung Wilalung dibangun pada 1908. Dari sebelas pintu yang ada, hanya pintu nomor 8 yang masih dapat dioperasikan. Sisanya, keseluruhan pintu sudah tidak dapat dibuka tutup.

"Saat ini hanya pintu nomor 8 saja yang masih aktif dioperasikan. Tentunya dengan SOP yang disepakati bersama ketika hendak membuka pintu," imbuhnya.

Terpisah, Kepala BPBD Kudus, Jawa Tengah, Eko Hari Djatmiko mengatakan kemarau yang panjang mengakibatkan Bendung Wilalung mengering. Bahkan, Eko menyebut, kekeringan tidak hanya terjadi di Bendung Wilalung saja.

"Di Kabupaten Kudus ada lima desa yang terdampak kekeringan," katanya kepada kumparan, Rabu (16/9).

Suasana Bendung Wilalung yang berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (16/9/202). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Lima desa yang dimaksud oleh Eko adalah Desa Glagahwaru, Desa Colo, Desa Setrokalangan, Desa Kedungdowo, dan Desa Mijen. Jumlah ini bertambah satu desa yakni Desa Mijen dari yang sebelumnya pada 2 September 2026 silam hanya empat desa terdampak kekeringan.

"Semua daerah saat ini terdampak musim kemarau," imbuhnya.

Sementara itu, Kasi Kedaruratan BPBD Kudus, Jawa Tengah, Ahmad Munaji memaparkan, lima desa tersebut sudah diberikan air bersih. Hal itu untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat di tengah kemarau.

"Kekeringan melanda lima desa di tiga kecamatan. Jumlah terdampak 1.031 KK atau 3.154 jiwa," katanya, Rabu (16/9).

Dropping air tersebut sudah dialokasikan sejak beberapa bulan lalu. Seperti Desa Glagahwaru yang sudah di dropping air bersih sejak 15 Juli 2026.

Desa Colo menerima dropping air bersih sejak 9 Agustus 2026. Sedangkan Desa Setrokalangan menerima dropping air bersih pada 18 Agustus 2026.

Kemudian Desa Kedungdowo menerima dropping air bersih mulai 28 Agustus 2026. Sementara itu, Desa Mijen menerima dropping air bersih sejak 8 September 2026.

"Untuk Desa Glagahwaru kebutuhan dropping air bersih saat ini sudah mulai berkurang karena masyarakat sudah banyak yang menerima," imbuhnya.

Salah seorang warga, Faiq Maulana menyampaikan area Bendung Wilalung memang mengering beberapa bulan lamanya. Menurutnya, kekeringan juga melanda Desa Kalirejo, akan tetapi kebutuhan air masih tersedia.

"Ada beberapa RW terdampak kekeringan. Hanya, masih bisa teratasi dengan adanya PDAM serta aliran Waduk Kedungombo yang sudah mengalir sejak 15 September 2026 kemarin," imbuhnya.