Kematian Corona di India Melesat, Tempat Kremasi Dipakai 20 Jam per Hari

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja mengenakan alat pelindung diri (APD) melihat proses kremasi jenazah yang meninggal karena virus corona di sebuah krematorium, Mumbai, India, Kamis (15/4).  Foto: Francis Mascarenhas REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja mengenakan alat pelindung diri (APD) melihat proses kremasi jenazah yang meninggal karena virus corona di sebuah krematorium, Mumbai, India, Kamis (15/4). Foto: Francis Mascarenhas REUTERS

Hampir 180.000 orang di India meninggal dunia karena virus corona. Sebanyak 15.000 korban meninggal di antaranya terjadi hanya dalam sebulan ke belakang. Bahkan, angka kematian di India dinilai lebih tinggi dari angka yang tercatat di situs pemerintah.

Mengutip AFP, media sosial dan surat kabar lokal India dihiasi dengan gambar-gambar mengerikan dari lokasi krematorium alias tempat pembakaran jenazah yang kolaps. Ini imbas tsunami COVID-19 yang melanda India sejak beberapa pekan terakhir, dengan kasus positif 200 ribu orang per hari.

Di wilayah Ghaziabad, keluarga korban berbondong-bondong menunggu slot kremasi. Mereka menemani kerabatnya yang telah dibungkus kain kafan di atas trotoar menunggu proses pengabuan.

Pekerja mengenakan alat pelindung diri (APD) menyiapkan kayu untuk pemakaman jenazah yang meninggal karena virus corona di sebuah krematorium, Mumbai, India, Kamis (15/4). Foto: Francis Mascarenhas REUTERS

Di Gujarat, banyak krematorium di Surat, Rajkot, Jamnagar dan Ahmedabad beroperasi sepanjang waktu dengan tiga hingga empat kali lebih banyak jenazah dari biasanya.

Cerobong salah satu tungku listrik krematorium di Ahmedabad retak dan runtuh setelah digunakan terus-menerus hingga 20 jam setiap hari selama dua minggu terakhir.

Rangka besi krematorium di Surat bahkan meleleh karena tidak ada waktu untuk membiarkan tungku mendingin.

"Hingga bulan lalu, kami mengkremasi 20 jenazah setiap hari, tapi sejak awal April kami telah menangani lebih dari 80 jenazah setiap hari," kata seorang pejabat setempat di Krematorium Ramnath Ghela.

Orang-orang menguburkan jenazah COVID-19 di pemakaman di New Delhi, India, Jumat (16/4). Foto: Danish Siddiqui/REUTERS

Dengan waktu tunggu hingga 8 jam, Rajkot telah menyiapkan ruang kontrol setiap hari khusus untuk mengatur arus di empat krematorium.

Di dua krematorium di Lucknow di utara, warga diberi token bernomor dan harus menunggu hingga 12 jam.

Rohit Singh, warga yang ayahnya meninggal karena COVID-19, mengatakan, petugas krematorium mematok biaya sekitar 7.000 rupee ($ 100) -- hampir 20 kali lipat dari tarif normal.

Bahkan beberapa krematorium di Lucknow kehabisan kayu dan meminta orang-orang untuk membawanya sendiri.

Proses pemakaman jenazah COVID-19 di pemakaman di New Delhi, India, Jumat (16/4). Foto: Danish Siddiqui/REUTERS
Sejumlah orang mengangkat jenazah COVID-19 sebelum dikubur di pemakaman di New Delhi, India, Jumat (16/4). Foto: Danish Siddiqui/REUTERS

Belbhadra, petugas yang bekerja di salah satu krematorium di Varanasi, mengatakan, mereka mengkremasi setidaknya 200 korban corona setiap hari.

Lockdown telah diberlakukan di ibu kota India, New Delhi, selama enam hari. Lockdown akan dimulai pada Senin (19/4/2021). Pencabutan lockdown setelah pemberlakuan enam hari tergantung kondisi penyebaran COVID-19.

Saat ini, total infeksi virus corona di India mencapai 15 juta. Kasus di India bahkan diprediksi bisa melewati Amerika Serikat.

Meskipun lebih dari 108 juta orang telah divaksinasi, negara berpenduduk 1,3 miliar itu belum bisa menghentikan gelombang kedua.