Cover Lipsus Kematian Tak Beres di Kalideres.

Kematian Tak Beres di Kalideres (1)

21 November 2022 13:10
·
waktu baca 9 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Rudyanto Gunawan, Margaretha Gunawan, Dian Apsari, dan Budyanto Gunawan ditemukan tewas mengering dengan lambung kosong di rumah mereka, Kalideres, Jakarta Barat.
Tetangga menganggap mereka hidup berkecukupan sehingga meragukan asumsi bahwa keluarga itu mati kelaparan karena kemiskinan. Namun, tukang jamu di pasar sekitar kompleks menyebut bahwa keluarga itu pernah mencoba berutang kepadanya Rp 50 juta.
Apakah kesulitan diam-diam membelit keluarga itu sehingga mereka sengaja berpuasa sampai mati?
***
Jumat sore, 4 November 2022, Alvaro Roy, warga Perumahan Citra Garden Extension 1, Kalideres, hendak joging. Namun, baru beberapa langkah keluar rumah, ia mencium bau tak sedap. Roy mengira ada bangkai tikus di dekat-dekat situ. Ia mengabaikannya dan lanjut berlari pelan.
Beberapa hari kemudian, bau bangkai itu masih tercium, bahkan menguat. Roy tak bisa lagi tak mengacuhkannya. Ia mencari-cari sumber bau di sekitar rumahnya, namun tak juga ketemu. Kian hari, kian kencang bau busuk menerornya. Roy gelisah.
Bau itu juga tercium oleh sejumlah petugas PLN yang akan memutus kabel listrik di rumah tetangga dekat Roy di Blok AC5 Nomor 7, Rabu, 9 November. Aliran listrik di rumah itu diputus karena pemiliknya menunggak pembayaran dan meminta PLN untuk memutus saja listrik di rumahnya.
Namun, saat petugas PLN tiba, mereka tak cuma menghirup bau tajam, tapi juga mengalami kesulitan untuk masuk ke rumah tersebut. Pagar setinggi dua meter di rumah itu terkunci rapat. Petugas akhirnya menghubungi Ketua RT setempat, Tjong Tjie Xian alias Asiung.
Asiung yang tak hanya sekali mendapat laporan tentang bau menyengat di lingkungan itu, mulai menduga ada yang tak beres. Keesokannya, Kamis, 10 November, ia melapor ke petugas keamanan setempat. Pukul 17.30 WIB, ia dan petugas sekuriti mendobrak pagar dan masuk ke area halaman.
Begitu pagar terbuka, bau kian menusuk. Asiung bersama beberapa warga dan petugas keamanan lalu mencoba melihat ke dalam rumah dari jendela teras. Mereka tersentak melihat sesosok mayat terbujur di ruang tamu. Asiung pun langsung meminta rekannya menghubungi Polsek Kalideres.
Garis polisi di rumah keluarga yang tewas di Kalideres. Foto: Jonathan Devin/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Garis polisi di rumah keluarga yang tewas di Kalideres. Foto: Jonathan Devin/kumparan
Sekitar satu jam kemudian, pukul 18.30 WIB, polisi datang. Hadir pula aparat kelurahan. Garis polisi dipasang, dan warga menyemut di depan rumah keluarga Gunawan yang mati diam-diam.
Salah satu pengurus kelurahan ikut masuk bersama polisi dan petugas puskesmas. Namun, ia hanya sanggup melangkah sampai pintu ruang tamu.
“Saya mau masuk, tapi tak kuat karena bau yang sangat menyengat. Di situ (ruang tamu) saya melihat satu jenazah dengan separuh badan terbaring di sofa dan separuhnya lagi merosot ke lantai,” kata staf kelurahan yang tak mau namanya disebutkan.
Jasad itu tergeletak separuh badan di lantai yang telah menghitam, dengan tumpukan jemuran di atasnya. Melihat pemandangan itu, petugas kelurahan tersebut urung masuk ke dalam rumah. Ia melangkah mundur keluar rumah dan memilih mengambil gambar di sekitar rumah alih-alih melihat kondisi dalam rumah.
“Banyak orang berkerumun, termasuk anak-anak. Saya imbau agar tertib dan tak mengganggu TKP,” ujarnya.
Ilustrasi: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: kumparan
Jenazah di ruang tamu yang dilihat staf kelurahan itu, menurut polisi, adalah Budyanto Gunawan (68 tahun), adik dari Rudyanto Gunawan (71 tahun) sang kepala keluarga.
Polisi kemudian mengecek dua kamar di rumah itu yang juga memancarkan bau tak sedap. Di kamar depan, mereka menemukan mayat Renny Margaretha Gunawan (68 tahun), istri Rudyanto; dan Dian Febbyana Apsari Dewi (42 tahun), anak mereka. Margaretha terbujur di atas kasur, sedangkan Dian tergeletak di lantai beralas sarung.
Di kamar belakang, Rudyanto juga ditemukan meninggal. Alhasil, empat orang penghuni rumah itu seluruhnya telah tewas dengan kondisi jasad mengering, tanda mereka telah mati cukup lama.
Sekitar pukul 21.00 WIB, ambulans tiba; dan pukul 22.00 WIB, keempat jenazah diangkut ambulans menuju RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk diautopsi.
Olah TKP lanjutan di rumah keluarga Gunawan. Foto: Jonathan Devin/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Olah TKP lanjutan di rumah keluarga Gunawan. Foto: Jonathan Devin/kumparan
Asiung menyebut keluarga Gunawan tak pernah berinteraksi dengan warga sekitar. Mereka sangat tertutup. Warga pun jarang melihat mereka beraktivitas. Komunikasi dengan keluarga itu paling-paling berlangsung saat pemeriksaan jumantik atau penyemprotan disinfektan.
Asiung bahkan tak tahu pekerjaan para penghuni rumah itu. Selain itu, keluarga Gunawan juga tidak mau bergabung dengan grup WhatsApp RT meski sudah diundang Asiung.
Alhasil, Asiung hanya tahu soal keluarga itu seputar hal-hal yang bersifat materiel atau terlihat oleh mata, misalnya kendaraan yang mereka miliki, yakni satu unit mobil Honda Brio dan satu unit motor Honda Scoopy. Kedua kendaraan itu pun telah lama tak terlihat.
Kombes Pasma kemudian mengatakan mobil Brio tersebut telah dijual oleh Budyanto Gunawan pada 20 Januari 2022 seharga Rp 160 juta.
Rumah keluarga Gunawan terkunci rapat. Foto: Jonathan Devin/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rumah keluarga Gunawan terkunci rapat. Foto: Jonathan Devin/kumparan
Seorang tetangga yang tinggal tak jauh dari rumah keluarga Gunawan mengatakan, tak pernah melihat keluarga itu kedatangan sanak saudara. Saat menanyakan hal itu secara langsung ke pihak keluarga yang datang ke Kalideres melihat jasad Gunawan, ia mendapat jawaban pendek.
“Kalau chat mau ketemuan, [dia] selalu bilang enggak ada di rumah,” ujar kerabatnya.
Adik Margaretha, Ris Astuti, mengatakan bahwa dulu kakaknya pernah berjualan kue, sedangkan suaminya (Rudyanto) kerja kantoran.
“Kalau anaknya (Dian), kami enggak tahu kerja apa,” kata Handoyo, suami Ris Astuti, di Mapolsek Kalideres.
“Tapi itu dulu. Belakangan kami enggak tahu karena putus kontak,” imbuh Ris.
Ris Astuti (kiri) dan Handoyo (kanan), kerabat Gunawan, sudah lama putus kontak dengan keluarga itu. Foto: Jonathan Devin/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ris Astuti (kiri) dan Handoyo (kanan), kerabat Gunawan, sudah lama putus kontak dengan keluarga itu. Foto: Jonathan Devin/kumparan
Satpam kompleks pun menyebut keluarga Gunawan terhitung dingin. Sementara warga biasanya tersenyum dan menyapa satpam saat keluar-masuk perumahan, keluarga Gunawan tak demikian. Mereka tak pernah menyapa, bahkan terlihat selalu cemberut.
Gelagat mereka pun amat janggal. Beberapa tetangga, misalnya, sempat melihat Rudyanto memakai penutup kaki dari plastik. Saat ditanya warga, ia tak menjawab.
Penghuni rumah itu pun pernah memesan ojek online untuk bepergian, namun menemui driver di jalan tikus, bukannya di depan rumah.
Tak kurang aneh, keluarga Gunawan belakangan tidak pernah membuang sampah mereka di luar. Sampah-sampah itu ditumpuk begitu saja di halaman belakang rumah. Itu sebabnya tukang sampah jarang melihat kantong sampah di depan rumah itu.
Petugas jumantik yang hendak masuk ke rumah pun tidak diperbolehkan oleh keluarga itu.
Disinfeksi di rumah keluarga Gunawan. Foto: Jonathan Devin/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Disinfeksi di rumah keluarga Gunawan. Foto: Jonathan Devin/kumparan

Ingin Pinjam Duit Rp 50 juta

Seorang tukang jamu di sekitar Pasar Citra Garden bercerita bahwa keluarga Gunawan, khususnya Rudyanto dan Margaretha, adalah pelanggannya. Oleh sebab itu ia sering bertemu dan berinteraksi dengan mereka.
Kepada kumparan, tukang jamu—yang meminta namanya tak disebut—itu bercerita bahwa pasangan Gunawan pernah hendak meminjam uang sebesar Rp 50 juta. Permintaan itu ia tolak karena ia tak punya uang sebanyak itu. Kalau pun ada, ia tak berani meminjamkan duit sejumlah itu, termasuk ke kerabatnya sendiri.
Keluarga Gunawan juga pernah bertanya kepadanya tentang obat diabetes. Namun, ia tidak tahu-menahu soal itu dan menyarankan mereka untuk langsung berobat ke dokter.
Tukang jamu itu terakhir kali melihat keluarga Gunawan, termasuk Dian, sekitar dua bulan lalu. Mereka tampak berjalan dari arah pasar. Namun, ketika itu mereka sangat dingin terhadapnya, tak ramah seperti sebelumnya.
Saat tukang jamu itu menyapa, mereka hanya mengangguk kecil tanpa melempar senyum.
Kombes Hengki mengatakan, keluarga Gunawan telah menjual beberapa barang, termasuk mobil Brio milik mereka. Saat ini kepolisian tengah menginventarisasi barang-barang atau aset yang dijual tersebut.
Rumah keluarga Gunawan selama ini disangka kosong tak berpenghuni. Foto: Jonathan Devin/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rumah keluarga Gunawan selama ini disangka kosong tak berpenghuni. Foto: Jonathan Devin/kumparan

Kelaparan atau Berhenti Makan?

Jumat, 11 November, Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pasma Royce turun ke lapangan. Ia menyampaikan hasil sementara pemeriksaan forensik di RS Polri yang menunjukkan bahwa keluarga Gunawan tak mengonsumsi makanan atau minuman untuk kurun waktu yang lama.
“Di lambung para mayat ini tidak ada makanan. Berdasarkan keterangan dari dokter forensik, dugaan [waktu] kematian dari tiga minggu yang lalu,” kata Pasma.
Perut kosong itu lantas memunculkan dugaan bahwa mereka meninggal karena kelaparan. Terlebih, Kapolsek Kalideres AKP Syafri Wasdar sempat mengatakan bahwa tak ada makanan maupun bahan pangan di rumah mereka.
“Di dalam rumah tidak ditemukan nasi atau beras,” ujar Syafri, Sabtu (12/11).
Namun, esoknya polisi menyebut menemukan bungkus makanan di rumah tersebut.
“Ini kami teliti kapan yang bersangkutan terakhir makan, termasuk struk belanja di salah satu supermarket, akan kami teliti lagi,” kata Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Hariadi, Minggu (13/11).
Sementara itu, salah satu tetangga yang tak ingin diungkap identitasnya mengatakan, ia sempat melihat seseorang menerima makanan dari ojek online di depan pagar rumah keluarga Gunawan. Namun, ia tak tahu apakah orang yang memesan makanan tersebut adalah penghuni rumah itu atau bukan.
Ketua RT tak yakin keluarga Gunawan kelaparan karena miskin. Foto: Ananta Erlangga/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua RT tak yakin keluarga Gunawan kelaparan karena miskin. Foto: Ananta Erlangga/kumparan
Dugaan awal bahwa keluarga Gunawan kelaparan kemudian diragukan. Warga sekitar beranggapan bahwa mereka orang mampu. Ketua RT Asiung, misalnya, menyebut bahwa keluarga itu tidak pernah tercatat sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah.
Hal sama dikemukakan oleh keluarga besar Rudyanto Gunawan. Masalahnya, keluarga besar putus komunikasi dengan mereka lima tahun belakangan sehingga tak tahu kondisi terkini mereka.
Sumber kumparan di lingkaran kepolisian menyebut, kemungkinan besar kematian keluarga Gunawan adalah VSED (voluntary stopping of eating and drinking) atau berhenti makan dan minum secara sukarela. Istilah lainnya: end-of-life fasting alias berpuasa sampai mati.
Meski demikian, polisi belum menarik kesimpulan akhir. Di sisi lain, kriminolog UI Arthur Josias Simon Runturambi menyatakan, VSED bukan penyebab utama kematian, sebab ia sejenis penyakit psikologis yang memiliki pemicu.
Arthur menduga, keluarga Gunawan punya akumulasi masalah yang berujung pada keputusan untuk melakukan VSED guna mengakhiri hidup.
Kapolsek Kalideres AKP Syafri Wasdar. Foto: Jonathan Devin/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kapolsek Kalideres AKP Syafri Wasdar. Foto: Jonathan Devin/kumparan
AKP Syafri menyatakan, awal Oktober 2022, keluarga itu meminta aliran listrik di rumah mereka diputus. Sebelumnya, petugas PLN memang telah memberikan beberapa kali peringatan soal tunggakan listrik.
Warga sekitar menyebut, listrik di rumah itu telah padam sejak sebulan sebelumnya, di awal September. Itu sebabnya para tetangga mengira mereka telah pindah rumah. Terlebih, tak terlihat ada aktivitas di rumah tersebut.
Pembantu Asiung pun melihat keluarga Gunawan mengemas barang-barang mereka ke dalam kardus-kardus. Itu sebabnya ia dan para tetangga menyangka mereka pindah rumah.
Di dalam rumah Gunawan, polisi menemukan lilin merah. Lilin itu diduga menjadi penerangan utama di rumah tersebut setelah kediaman mereka tak lagi dialiri listrik.
Lilin merah jadi sumber penerangan di rumah yang tak dialiri listrik ini. Ilustrasi: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Lilin merah jadi sumber penerangan di rumah yang tak dialiri listrik ini. Ilustrasi: kumparan
Kini, setelah seluruh keluarga itu meninggal tak wajar, polisi meminta PLN menyalakan kembali listrik di rumah itu untuk kepentingan pemeriksaan.
Kompolnas sempat menyebut penemuan buku-buku berbagai agama di rumah tersebut. Namun, menurut Kanitreksrim Polres Jakarta Barat AKP Avrilendy, buku-buku itu tak memuat ajaran sekte tertentu.
Saat ini polisi masih mendalami berbagai temuan di rumah itu, dan belum mengambil kesimpulan akhir. Jenazah keempat keluarga Gunawan pun sampai sekarang belum dikremasi. Jasad-jasad itu masih berada di RS Polri dan belum dibuatkan akta kematian.
Misteri di balik kematian tak beres itu belum tersibak.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten