Kembangkan Placemaking di Kota Tua, MRT Jakarta Gandeng Komunitas Sejarah-Museum

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah wisatawan menikmati suasana kawasan Kota Tua di Jakarta, Senin (23/3/2026). Foto: Salma Talita/ ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah wisatawan menikmati suasana kawasan Kota Tua di Jakarta, Senin (23/3/2026). Foto: Salma Talita/ ANTARA FOTO

PT MRT Jakarta sedang mengembangkan konsep placemaking di beberapa titik di Jakarta, salah satunya di Kota Tua. Ini jadi ikhtiar MRT Jakarta dalam mencapai misi menghidupkan sebuah kawasan agar bisa ditinggali dengan nyaman (liveable) sekaligus dicintai oleh warganya (loveable).

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, Samuel Ryan Pradipta Pranowo, menjelaskan, konsep placemaking sendiri adalah perancangan dan pengembangan ruang ketiga yang berkualitas. Syaratnya, ruang tersebut harus hidup, inklusif, dan melibatkan masyarakat-bisnis lokal di sekitar.

Kota Tua jadi sasaran pengembangan konsep ini setelah sebelumnya sukses diterapkan di kawasan Blok M.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, Samuel Ryan Pradipta Pranowo. Foto: Sifa Maulida/kumparan

“Dan mudah-mudahan segera area kota tua itu akan kami revitalisasi juga dengan mempertahankan identitas heritage-nya,” kata Samuel di Wisma Nusantara pada Rabu (9/9) lalu.

Samuel bilang, rencananya, Kota Tua akan dikembangkan dengan tema sejarah-budaya, tapi tetap modern. “Jadi heritage Chinatown-nya, Little Amsterdam-nya itu gak hilang, tapi tetap areanya akan dibuat hidup dengan kombinasi retail, komunitas dan lain sebagainya,” jelasnya.

Suasana pengunjung saat berwisata pada libur Natal di Kawasan Blok M Square, Jakarta Selatan, Jumat (26/12/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Untuk mewujudkan rencana itu, MRT Jakarta akan berkolaborasi dengan berbagai pihak, salah satu yang tak kalah penting adalah komunitas. Menurut Samuel, komunitas adalah bagian dari masyarakat yang paling bisa memberikan masukan terkait pengembangan sebuah kawasan.

“Pelanggan kami yang loyal itu banyak berasal dari komunitas-komunitas, ada komunitas olahraga, ada komunitas hobi, ini banyak yang kami ajak,” tambah Samuel.

Merespons hal tersebut, arkeolog sekaligus Dewan Penasihat Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia (KPBMI), Djulianto Susantio, menyambut baik. Dia tak menutup kemungkinan untuk berkolaborasi dengan MRT Jakarta apabila dibutuhkan, demi menciptakan kawasan yang hidup dan bermanfaat bagi warganya.

“Bisa sebagai tenaga pembantu di bidang informasi, publikasi, atau lainnya sesuai kebutuhan,” kata Djulianto.

Wisatawan mengendarai sepeda di Taman Fatahillah, kawasan Kota Tua, Jakarta, Kamis (14/5/2026). Foto: Rakha Raditya Yahya/ANTARA FOTO

Lebih lanjut, Djulianto menyebut bahwa Kota Tua memang berpotensi untuk lebih berkembang. Apalagi, Kota Tua sudah lama dikenal dengan komunitas sejarah dan budayanya lewat acara blusukan.

“Cuma banyak komunitas punya waktu terbatas, kecuali komunitas onthel dan komunitas ‘manusia batu’ yang memang cari nafkah di Kota Tua,” paparnya.

Menurutnya, pengembangan kawasan bersama komunitas tetap harus sesuai ciri khas kelompok tersebut, karena katanya, tiap komunitas punya keunikan masing-masing.

instagram embed