Kemen P2MI: 320 Ribu Lowongan Kerja Luar Negeri Terverifikasi, Ini Sektornya
·waktu baca 3 menit

Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) mencatat 320 ribu lowongan kerja di luar negeri telah terverifikasi melalui Sistem Informasi dan Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI).
Hal itu disampaikan Menteri P2MI, Mukhtarudin usai pencanangan Gerakan Nasional Migran Aman di Kantor Kementerian P2MI/BP2MI, Jakarta, Senin (18/5).
“Kalau lowongan tenaga kerja migran kita dari data SISKOP2MI yang sudah SIP2MI, artinya sudah yang terverifikasi, job order yang sudah terverifikasi oleh perwakilan kita di luar negeri itu ada kurang lebih 320 ribuan lowongan pekerja migran,” ujar Mukhtarudin.
Mukhtarudin mengatakan, seluruh lowongan tersebut merupakan sektor formal yang mensyaratkan tenaga kerja terampil (skilled worker), mulai dari tingkat menengah hingga keahlian tinggi.
“Dan ini semuanya sektor formal, semuanya sektor formal yang membutuhkan skill, skilled worker yang dibutuhkan,” imbuhnya.
Ia merinci, sejumlah sektor yang paling banyak membutuhkan tenaga kerja Indonesia, antara lain caregiver, perawat (nurse), manufaktur, pertanian, perikanan (fishing), dan perhotelan (hospitality).
“Caregiver, kemudian perawat, dibutuhkan besar juga. Kemudian di manufaktur, pertanian, fishing, di kelautan perikanan, di hospitality besar banyak sekali,” kata Mukhtarudin.
Tak hanya itu, sejumlah posisi bergengsi juga terbuka bagi PMI. Mukhtarudin menyebut tenaga kerja Indonesia kini sudah mengisi industri strategis di luar negeri.
“Ada yang sudah bekerja di Korean Aerospace Industry, industrinya pertahanannya, pesawat tempurnya Korea, ada orang Indonesia. Ada di engineering di Jepang, ada perawat. Bahkan ada yang jadi pramugari di maskapai-maskapai asing, Dubai misalnya, Emirates, Qatar Airways, Saudi Airways. Mereka adalah pekerja-pekerja migran,” ujarnya.
Selain itu, Mukhtarudin menambahkan, negara-negara tujuan yang paling diminati meliputi Malaysia, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang. Beberapa negara Eropa seperti Jerman, Slovakia, dan Bulgaria juga menjadi tujuan penempatan PMI, khususnya di sektor hospitality dan kapal pesiar.
Mukhtarudin menyebut Jepang sebagai salah satu pasar yang terus berkembang di tengah fenomena penuaan penduduk (aging population) negara tersebut.
“Kemarin saya baru ketemu dengan salah satu prefektur dari Jepang, dari Miyazaki. Mereka butuh tenaga-tenaga yang profesional dan mereka butuh banyak karena mereka aging population. Mereka mengalami kekurangan pekerja, usia produktif mereka berkurang. Nah kita bonus demografi, maka kita harus persiapkan kompetensinya,” ujar Mukhtarudin.
Dari sisi penghasilan, Mukhtarudin menyebut gaji terendah berada di kisaran Rp10-15 juta per bulan. Sementara untuk tenaga perawat, penghasilan bisa jauh lebih tinggi.
“Rata-rata paling minimal 15 juta lah, 10 juta ke atas, itu sudah pekerjaan yang paling bawah. Tapi kalau nurse, perawat bisa 60 juta, 70 juta, bahkan ada yang perawat sampai 150 juta kalau di daerah di Amerika,” katanya.
Mukhtarudin menegaskan, pemerintah ingin mengubah citra pekerja migran Indonesia yang selama ini identik dengan pekerja kasar bergaji rendah.
“Prinsipnya kita rebranding bahwa pekerja migran itu bukan lagi TKW TKI kayak zaman dulu, tapi ini adalah mereka pekerja migran yang profesional, yang sudah formal, mempunyai skill. Jadi kita akan mengisi sektor-sektor yang sesuai arahan Bapak Presiden,” tegasnya.
Untuk mewujudkan hal itu, Mukhtarudin mengatakan, pemerintah tengah mempersiapkan SDM yang kompeten di bidang bahasa asing sekaligus keahlian teknis sesuai kebutuhan pasar kerja global.
“Kita siapkan bahasa, Inggris, Mandarin, Korea, Jepang, bahasa Arab. Yang kita tempatkan adalah orang-orang yang sudah terlatih, yang mempunyai keterampilan teknis, sudah mempunyai mental yang kuat, mempunyai wawasan kebangsaan yang baik, dan mereka adalah yang sehat, baru kita tempatkan ke sana,” pungkasnya.
