Kemenag Sebut Kloter Gado-gado Masih Akan Terjadi Jelang Puncak Haji

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jemaah haji usai salat jumat di Masjidil Haram, Makkah, Jumat (16/5). Foto: Moh Fajri/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jemaah haji usai salat jumat di Masjidil Haram, Makkah, Jumat (16/5). Foto: Moh Fajri/kumparan

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama, Hilman Latief, mengungkapkan keberangkatan kloter gado-gado yang terdiri dari berbagai syarikah yang berbeda masih akan terjadi menjelang puncak haji.

“Cuma saya sampaikan juga kepada pemerintah Saudi, nanti di belakang-belakang ada lagi gado-gadonya," kata Hilman saat rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI, Jakarta, Senin (19/5).

Hilman menuturkan, pihaknya sudah memberikan laporan kepada otoritas Arab Saudi terkait kloter gado-gado ini agar para jemaah tidak mengalami kesulitan di titik check point masuk kota Makkah.

"Tapi InsyaAllah untuk jemaahnya akan kita dorong, dan bahkan nanti ada di kloter Sapu Jagat mungkin kita sebut, ada jemaah yang dari provinsi berbeda itu digabungkan, dan insya Allah mungkin treatment-nya, kalau ini berjalan normal sebagian besar InsyaAllah," katanya.

Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Senin (19/5/2025). Foto: YouTube/ TVR Parlemen

Kloter gado-gado ini merupakan imbas molornya penerbitan visa haji jemaah Indonesia. Akibatnya banyak jemaah yang terpaksa mengundur waktu terbangnya dan harus menunggu visanya terbit.

Keterlambatan penerbitan visa ini pada akhirnya mengakibatkan jemaah tercecer dari rombongan kloternya. Kloter yang berangkat pun berisi jemaah dengan syarikah yang berbeda-beda.

Terkait hal ini Anggota Komisi VIII DPR RI dari NasDem Dini Rahmania pun menyayangkan Kemenag yang tidak bisa mengantisipasi pembaruan sistem syarikah ini.

“Syarikah ini yang saya tahu sudah ada sejak tahun 2022, namun yang ingin saya tanyakan kenapa kekacauan ini kita alami pada tahun 2025, padahal kita punya banyak waktu untuk memitigasi sistem ini,” kata Dini.

Dini pun meminta pemerintah untuk introspeksi diri agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.

“Ini bukan hanya sistem luar negeri, namun sistem internal. Artinya Kemenag perlu menginstropeksi bukan hanya sekedar menyalahkan pihak luar,” tuturnya.

Syarikah adalah perusahaan penyedia layanan haji yang ditetapkan Arab Saudi.

Pada haji 2025, ada 8 syarikah yang melayani jemaah haji Indonesia di Makkah, yaitu Al-Bait Guest melayani 35.977 jemaah, Rakeen Mashariq 35.090 jemaah.

Ada juga Sana Mashariq 32.570 jemaah, Rehlat & Manafea 34.802 jemaah, Alrifadah 20.317 jemaah, Rawaf Mina 17.636 jemaah, MCDC 15.645 jemaah, dan Rifad melayani 11.283 jemaah.

Sistem ini berbeda dengan haji tahun-tahun sebelumnya yang memakai sistem pembagiaan jemaah berdasar kloter. Tujuan perubahan ini adalah untuk mengoptimalkan mobilisasi dan pelayanan saat di Arafah, Muzdalifah, Mina (Armuzna), yang merupakan puncak ibadah haji pada awal Juni nanti.