Kemendikdasmen Bicara Pentingnya Pendidikan Nonformal untuk Dunia Kerja

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza di Kantor Kemendikdasmen, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (29/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza di Kantor Kemendikdasmen, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (29/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melatih 1.100 instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) melalui program Instruktur Naik Kelas.

Program ini digagas untuk memperkuat kualitas kursus sekaligus menjawab persoalan ketenagakerjaan, di mana angka pengangguran di Indonesia pada Februari 2025 masih mencapai 7,28 juta orang.

Dirjen Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan peningkatan kualitas instruktur menjadi kebutuhan mendesak agar keterampilan pekerja selaras dengan kebutuhan industri.

“Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum menunjukkan bahwa 6 dari 10 pekerja butuh pelatihan berulang sebelum tahun 2027. Saat ini baru separuh yang benar-benar mendapat akses,” ujarnya dalam Peluncuran Program Pelatihan 1.100 Instruktur LKP di Kantor Kemendikdasmen, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (29/9).

Ia menambahkan, ketidaksesuaian keterampilan menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka pengangguran.

“Data lain dari BPS mencatat bahwa angka pengangguran sampai Februari 2025 masih di angka 7,28 juta orang. Salah satu penyebabnya adalah keterampilan yang dimiliki belum selaras dengan kebutuhan industri,” ucapnya.

Peluncuran Program Pelatihan 1.100 Instruktur LKP di Kantor Kemendikdasmen, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (29/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Menurut Tatang, masih ada lebih dari 12.000 LKP di seluruh Indonesia dengan kualitas yang beragam.

“Hasil penilaian terakhir menunjukkan hanya 1 dari 5 LKP yang dinilai berkualitas sangat baik,” katanya.

Karena itu, instruktur yang mengikuti program pelatihan tidak hanya mendapat peningkatan kapasitas, tetapi juga diwajibkan melakukan pengimbasan di provinsi masing-masing agar manfaatnya lebih luas.

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai, kualitas instruktur merupakan kunci dalam menghasilkan lulusan kursus yang relevan dengan dunia kerja.

“Sehebat apapun kurikulum, secanggih apapun fasilitas, tanpa kehadiran instruktur yang kompeten, instruktur yang inspiratif dan adaptif, dan instruktur yang mau terus belajar dan mengasah keterampilannya sendiri sebelum membagi pengetahuan kepada orang lain. Itulah instruktur yang kita butuhkan,” katanya.

Ia menambahkan, 1.100 instruktur yang dilatih pemerintah dapat menjadi agen pengimbasan bagi ribuan instruktur lain di Indonesia. Dengan begitu, dampaknya diharapkan berlipat ganda dan langsung dirasakan oleh peserta didik.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza pun juga menegaskan pentingnya peran jalur pendidikan nonformal untuk menjawab kebutuhan keterampilan yang cepat berubah.

“Tanpa instruktur yang cakap, maka sulit bagi satuan pendidikan untuk benar-benar menerapkan pembelajaran yang baik dan menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing,” ujarnya.

Ia menekankan, program pelatihan instruktur bukan hanya soal peningkatan kapasitas, melainkan juga gerakan berbagi praktik baik dan pembelajaran sepanjang hayat.

“Ketika satu instruktur naik kelas, maka puluhan bahkan ratusan peserta didik diharapkan akan juga merasakan dampaknya ikut naik kelas secara kualitas,” tandasnya.