Kemendiktisaintek Bangun Sekolah Garuda Baru & Garuda Transformasi, Apa Bedanya?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menjawab pertanyaan wartawan di Kantor Kemendiktisaintek, Jakarta Pusat, Sabtu (17/5/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menjawab pertanyaan wartawan di Kantor Kemendiktisaintek, Jakarta Pusat, Sabtu (17/5/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tengah mempersiapkan pembangunan Sekolah Garuda Baru dan Sekolah Garuda Transformasi. Dua sekolah ini untuk tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas), dan difokuskan untuk siswa masuk ke perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Pembangunan Sekolah Garuda Baru ini akan menyasar kepada daerah-daerah yang masih kekurangan sekolah. Seperti wilayah Soe di Nusa Tenggara Timur, Belitung Timur, dan Papua Tengah.

Sementara Sekolah Garuda Transformasi lebih terfokus pada penguatan sistem pendidikan di SMA yang sudah tersedia. Terdapat 12 SMA yang tergabung dalam program Sekolah Garuda Transformasi.

Sistem pembiayaan dalam Sekolah Garuda baru dan Sekolah Garuda transformasi akan ditanggung oleh pemerintah sebesar 80 persen, dan 20 persen sisanya ditanggung secara mandiri. Tujuannya agar siswa dari seluruh kalangan ekonomi dapat berbaur.

"Tadi ada pertanyaan lagi mengenai biaya pendidikannya. 80% akan diberikan biaya penuh, 20% akan berbayar. Kenapa berbayar? Karena kita juga ingin supaya mereka berbaur. Anak-anak yang dari ekonomi menengah atau ekonomi bawah harus juga bisa mengerti dan berteman dengan anak-anak dari ekonomi atas dan sebaliknya," ujar Wamendiktisaintek Stella Christie di Kantor Kemendiktisaintek, Jakarta Pusat, Sabtu (17/5).

Lalu, apakah yang membedakan Sekolah Garuda Baru dan Sekolah Garuda Transformasi?

Kurikulum Pendidikan

Stella Christie mengatakan, Sekolah Garuda Transformasi akan menggunakan kurikulum pendidikan yang sejak awal telah digunakan, sehingga tidak ada perubahan kurikulum.

“Jadi kita tidak akan mengatur kurikulum di SMA-SMA yang sudah ada, yang akan menjadi sekolah transformasi. Kita juga tidak akan mengatur bagaimana mereka harus menerima siswa baru mereka,” kata dia.

Sementara Sekolah Garuda Baru akan mengelaborasikan kurikulum IB (International Baccalaureate) dan kurikulum nasional.

Kurikulum IB ini akan difokuskan untuk pendidikan di kelas 11 dan 12 guna mempersiapkan siswa ke perguruan tinggi terbaik di nasional maupun internasional. Adapun kurikulum nasional hanya akan diterapkan saat kelas 10.

“Kalau kurikulum IB memang khusus hanya di 2 tahun terakhir, kelas 11 dan kelas 12. Jadi kelas 10-nya, kita tetap akan pakai kurikulum nasional. Dan yang penting sekali dari curriculum IB itu, ada yang namanya activity and service. Dan itu berarti harus ada pengabdian kepada masyarakat sekitar. Jadi ekstra kurikulum itu harus memang kepada masyarakat sekitar. Jadi ini yang kita adopt (adopsi),” papar dia.

Siswa Wajib Melakukan Pengabdian ke Masyarakat

Selanjutnya, Stella mengatakan, kurikulum IB yang diterapkan dalam sistem pendidikan Sekolah Garuda Baru akan mewajibkan kepada para siswa untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Pengabdian ini dapat dilakukan baik di tanah air maupun di luar negeri dengan bekerja sama dalam bidang sains dan teknologi. Termasuk memberikan bimbingan kepada adik tingkatnya untuk masuk ke perguruan tinggi.

“Pengabdian tentu saja kepada tanah air. Tetapi lokasi pengabdian itu tentu bisa dilakukan, baik di tanah air maupun mungkin pada sementara waktu mereka bekerja sebagai orang-orang yang hebat di luar negeri. Karena kita juga sangat mendapatkan masukan dari mereka yang berada di luar negeri,” jelas Stella.

“Tapi pengabdiannya tentu saja kepada tanah air. Dengan cara apa? Dengan cara bekerja sama mungkin di bidang sains dan teknologi. Dengan cara memberikan mungkin yang masih berkuliah, kita minta mereka harus memberikan bimbingan kepada adik-adik,” lanjutnya.

Sistem Penerimaan Murid

Stella menjelaskan, sistem penerimaan murid dalam Sekolah Garuda Transformasi akan dikembalikan kepada masing-masing sekolah yang terpilih.

Sementara sistem penerimaan murid di Sekolah Garuda Baru lebih mempertimbangkan pada aspek prestasi dan latar belakang ekonomi. Murid yang memiliki latar belakang ekonomi menengah ke bawah akan memiliki peluang lebih tinggi untuk bisa diterima.

Terakhir, latar belakang geografi juga menjadi pertimbangan guna menciptakan pemerataan pendidikan di berbagai daerah Indonesia.

“Sehingga untuk penerimaan di penerimaan baru ini kita menimbang satu prestasi, jadi asas prestasi, dua asas latar belakang ekonomi. Jadi semakin ekonominya semakin bawah, semakin tinggi poinnya. Dan ketiga, latar belakang geografi untuk supaya kita bisa mencampurkan dan mendapatkan pemerataan dari seluruh wilayah Indonesia,” urai Stella.