Kemenkes: 9 dari 10 Orang dengan Depresi Belum Mendapat Pengobatan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peluncuran buku saku tindak lanjut hasil skrining kesehatan jiwa bersama Wamenkes, Dante Saksono Harbuwono dan Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Pusat, Minggu (11/10/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Peluncuran buku saku tindak lanjut hasil skrining kesehatan jiwa bersama Wamenkes, Dante Saksono Harbuwono dan Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Pusat, Minggu (11/10/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti besarnya kesenjangan layanan kesehatan jiwa di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, baru 12,7% orang dengan depresi yang menerima pengobatan dan sisanya 87,3% belum. Artinya, sekitar 9 dari 10 orang dengan depresi belum mendapatkan pengobatan.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, masalah kesehatan mental menjadi salah satu temuan besar dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Karena dalam cek kesehatan gratis, salah satu yang kita temukan besar adalah masalah kesehatan mental,” kata Dante saat ditemui dalam acara Festival Suara Jiwa di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Minggu (11/10).

Menurut Dante, kesehatan mental menjadi aspek penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ia menilai penguatan kesehatan mental diperlukan agar sumber daya manusia Indonesia dapat berkembang dengan baik.

“Karena dengan membuat kesehatan mental manusia Indonesia menjadi kuat, maka kita akan menghadapi masalah sumber daya manusia yang diolah dengan baik-baik,” ungkap Dante.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa kesenjangan pengobatan depresi masih menjadi tantangan.

"Baru 12,7% yang menerima pengobatan,” ujar Maria dalam sambutannya.

Kemenkes telah melakukan skrining kesehatan jiwa terhadap 71,8 juta penduduk melalui CKG dan pelayanan ibu hamil serta ibu pascamelahirkan. Skrining tersebut dilakukan untuk meningkatkan deteksi dini, mengingat gejala masalah kesehatan mental belum tentu dikenali oleh masyarakat.

"Sehingga upaya kita yang pertama adalah memasukkan ke CKG, kita juga memasukkan pemeriksaan bumil dan juga setelah melahirkan," ungkap Maria.

“Gejala itu kan masyarakat belum tahu, ya. Sebetulnya gejalanya cuma lesu, enggak semangat, penginnya tidur terus, atau apa pun, dulu kita belum menangkap,” tambahnya.

Selain memperluas skrining, Kemenkes juga menyiapkan panduan dengan menghadirkan empat buku saku skrining kesehatan untuk membantu tenaga kesehatan menangani berbagai kondisi yang ditemukan di masyarakat.

Dante menjelaskan, buku saku tersebut akan dibagikan ke puskesmas sebagai panduan praktis bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa.

“4 buku saku ini nanti dibagikan ke puskesmas-puskesmas yang jadi petunjuk kalau mereka mengalami gejala model tertentu, buku sakunya dipakai yang mana,” kata Dante.

Maria menambahkan, buku saku itu diperlukan agar tenaga kesehatan memiliki panduan praktis ketika menemukan gejala masalah kesehatan jiwa, meskipun sebelumnya telah mendapatkan pelatihan.

“Karena meskipun sudah mendapat pelatihan perawatnya, dokternya, tapi kalau ada buku saku itu lebih praktis untuk digunakan tenaga kesehatan kita,” tutupnya.