Kemenkes Akui Imun Sinovac Turun 6 Bulan: Tapi Warga Biasa Belum Perlu Booster

28 Juli 2021 15:13 WIB
·
waktu baca 2 menit
Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi saat memberikan keterangan secara virtual. Foto: Kemenkes RI
zoom-in-whitePerbesar
Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi saat memberikan keterangan secara virtual. Foto: Kemenkes RI
ADVERTISEMENT
Hingga saat ini, Sinovac adalah vaksin corona yang paling banyak dipakai di Indonesia. Namun, imunogenisitas (hasil kadar imun) vaksin Sinovac disebut turun 6 bulan usai seseorang disuntik penuh dan efikasinya baru mencapai 65%.
ADVERTISEMENT
Hal ini merupakan riset yang dilakukan di dua negara. Yakni China dan Indonesia.
Menanggapi hal ini, Jubir Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi mengakui fakta tersebut, Tetapi ia memastikan vaksin Sinovac masif efektif untuk memerangi virus corona.
“Penurunan [imunogenisitas] terjadi, tapi masih efektif sampai saat ini,” kata Nadia kepada kumparan, Rabu (28/7).
Sementara itu, saat ini booster vaksin sudah mulai diberikan kepada tenaga kesehatan menggunakan vaksin Moderna. Sebagai sasaran vaksinasi nasional tahap pertama, mayoritas nakes sebelumnya telah divaksin Sinovac dosis penuh sejak Januari.
Booster vaksin bertujuan untuk memberikan perlindungan ekstra bagi mereka yang tengah berjuang di garda depan menangani lonjakan pasien COVID-19. Terlebih apabila mengingat imunogenisitas vaksin Sinovac turun setelah 6 bulan.
ADVERTISEMENT
Kendati demikian, Nadia memastikan hingga saat ini belum ada rencana untuk memberikan booster vaksin corona kepada masyarakat umum. Ia menegaskan pencapaian target vaksinasi dosis pertama dan kedua bagi 208 juta penduduk RI masih menjadi prioritas utama.
“Kepada umum sampai saat ini tidak kita berikan, ya. WHO sendiri tetap merekomendasikan untuk percepatan vaksinasi yang mendapatkan dosis 1 dan 2 di tengah keterbatasan vaksin, dibandingkan pemberian vaksin ke 3,” jelas Nadia.
“Karena semakin banyak orang yang telah mendapatkan vaksin lengkap dua dosis maka laju penularan dan pandemi dapat dikendalikan,” tandas dia.
Sebelumnya, penurunan imunogenisitas vaksin Sinovac diungkap oleh Guru Besar FK Universitas Padjadjaran Prof Kusnandi Rusmil. Oleh sebab itu, kata Prof Kusnandi, penyuntikan ulang atau suntikan ketiga nantinya dianjurkan untuk dilakukan terhadap para penerima vaksin ini.
ADVERTISEMENT
"Sinovac setelah 6 bulan itu turun, sehingga memang rencananya setelah 6 bulan harus disuntik ulang," kata Prof Kusnandi kepada kumparan, Jumat (16/7/2021).