Kemenkes Catat Kenaikan Kasus Influenza Jadi 51%, Mayoritas Influenza A

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu hamil bersin. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu hamil bersin. Foto: Shutter Stock

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat peningkatan aktivitas influenza di Indonesia. Berdasarkan pemantauan Kemenkes hingga 18 September 2026, sebanyak 86 dari 193 sampel yang diperiksa pada minggu ke-36 terdeteksi positif influenza atau sekitar 51 persen.

Angka tersebut meningkat dibandingkan minggu sebelumnya yang berada di angka 37 persen.

“Berdasarkan data surveilans hingga 18 September 2026, aktivitas influenza di Indonesia menunjukkan peningkatan. Pada minggu ke-36, dari 193 spesimen yang diperiksa, sebanyak 86 spesimen terdeteksi positif influenza atau sekitar 51 persen. Angka ini meningkat dibandingkan minggu sebelumnya yang sebesar 37 persen,” demikian keterangan tertulis Kemenkes dikutip Sabtu (19/9).

Mayoritas kasus positif tersebut merupakan Influenza A. Kemenkes mencatat 76 kasus Influenza A (H1N1Pdm09) dan 8 kasus Influenza A (H3N2). Sementara itu, 2 kasus lainnya merupakan Influenza B/Victoria.

Kemenkes juga mencatat kasus influenza terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia. Pada minggu ke-35, Jawa Timur dan Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan proporsi kasus terbanyak, masing-masing sebesar 24 persen.

Sementara itu, kasus paling awal terdeteksi pada minggu ke-36 di Jawa Tengah, sedangkan kasus paling akhir terdeteksi pada minggu ke-51 di DKI Jakarta.

Berdasarkan kelompok usia, kasus influenza ditemukan pada berbagai kelompok umur. Proporsi terbesar berasal dari kelompok usia 0-4 tahun, yakni 35 persen. Kemudian, kelompok usia 5-9 tahun sebesar 22 persen, usia 10-17 tahun sebesar 21 persen, usia 18-59 tahun sebesar 17 persen, dan usia 60 tahun ke atas sebesar 5 persen.

“Pada dasarnya semua kelompok usia berisiko terkena influenza. Perlu perhatian khusus pada kelompok-kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, penderita imunokompromais dan lansia,” kata Kemenkes.

Di sisi lain, Kemenkes mencatat adanya peningkatan deteksi influenza pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Pada minggu ke-36, proporsi positif influenza di rumah sakit sentinel meningkat menjadi 32 persen dari 20 persen pada minggu sebelumnya.

Namun, pada minggu tersebut tidak ditemukan kasus positif influenza yang membutuhkan perawatan di ICU.

Kemenkes menyebut tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada dalam kategori rendah dan sesuai dengan pola musiman influenza di Indonesia.

Berdasarkan data pemantauan yang tersedia saat ini, belum terdapat data yang menunjukkan adanya kematian akibat Influenza A. Kemenkes menyebut kondisi tersebut sesuai dengan gejala yang dirasakan pasien yang berada pada tingkat ringan hingga sedang.

Kemenkes juga memastikan situasi influenza secara nasional masih terkendali, dengan terus melakukan pemantauan dan memperkuat kesiapsiagaan, terutama di daerah dan kelompok yang berisiko.

“Berdasarkan pemantauan surveilans Kementerian Kesehatan, aktivitas influenza secara nasional masih berada pada kategori rendah dan situasi masih terkendali. Peningkatan ini masih sesuai dengan pola musiman influenza di Indonesia,” jelas Kemenkes.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan mulai menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga kebersihan lingkungan, istirahat cukup, makan bergizi, dan menjaga kondisi tubuh,” imbau Kemenkes.

Selain itu, masyarakat yang mengalami gejala influenza dianjurkan menggunakan masker, terutama saat berada di tempat ramai atau berinteraksi dengan orang lain. Mereka yang sakit juga diminta mengurangi kontak dekat dengan orang lain.

Kemenkes turut mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pengobatan sendiri secara tidak tepat, khususnya menggunakan antibiotik tanpa pemeriksaan atau resep tenaga kesehatan.

“Influenza disebabkan oleh virus sehingga antibiotik tidak digunakan untuk mengobati infeksi virus influenza,” imbau Kemenkes.