Kemenkes: Distribusi Vaksin Corona Remaja 50% di Jawa-Bali, Laju Kasusnya Tinggi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin Sinovac kepada warga saat mobil vaksin keliling singgah di Kantor Kelurahan Cipedak, Jakarta, Selasa (13/7/2021). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin Sinovac kepada warga saat mobil vaksin keliling singgah di Kantor Kelurahan Cipedak, Jakarta, Selasa (13/7/2021). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Sejumlah pemerintah daerah saat ini telah melaporkan stok vaksin corona di wilayahnya yang mulai menipis. Padahal pemerintah saat ini tengah mengejar percepatan vaksinasi agar segera mencapai herd immunity.

Per 21 Juli 2021, sebanyak total 76,4 juta dosis vaksin telah disebar ke seluruh provinsi di Indonesia dan telah digunakan sekitar 58 juta dosis. Itu berarti kini total persediaan vaksin di daerah mencapai 14,9 juta dosis.

Termasuk yang dikebut saat ini adalah vaksinasi corona ke remaja 12-17 tahun menggunakan vaksin Sinovac. Namun sejauh ini progresnya belum merata.

"Sebenarnya vaksin untuk anak-anak ini atau remaja ini sudah kita berikan semua. Artinya sudah kita distribusi ke semua provinsi, ke 34 provinsi. Tapi memang kalau kita lihat sekarang ini, kebijakan kita adalah karena Jawa-Bali ini memang 2 minggu belakangan ini tingkat laju kasusnya cukup tinggi, sehingga distribusi vaksin 50% berada di Jawa-Bali. Sisanya itu kita bagi secara rata ke provinsi-provinsi lainnya dan ini termasuk juga alokasi untuk usia remaja tadi," jelas Nadia dalam dialog virtual, Jumat (23/7).

Petugas melakukan vaksinasi COVID-19 kepada pekerja Industri Keuangan Non Bank (IKNB) di Jakarta, Selasa (27/4). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

Untuk mencapai target vaksinasi pada sekitar 208 juta penduduk, dibutuhkan setidaknya 426 juta dosis vaksin. Sementara saat ini jumlah yang telah berhasil diamankan adalah 130 juta dosis. Itu berarti baru ada 30% dosis vaksin dari sasaran di setiap provinsi.

"Jadi artinya memang, kan, kita tahu jumlah vaksin yang ada ini tidak bisa mencukupi sesuai target seluruhnya. Jadi kalau kita berbicara target untuk vaksinasi kita ini kurang lebih 426 juta dosis, yang saat ini kita baru miliki 130 juta dosis, artinya kurang lebih baru 30% dari misalnya total sasaran di sebuah provinsi itu bisa terpenuhi," jelasnya.

Dengan adanya keterbatasan jumlah stok vaksin ini, Nadia mengatakan setiap pemerintah provinsi harus punya strategi yang tepat untuk mengatur jumlah vaksin yang tersedia untuk target yang telah ditentukan.

"Nah, ini menjadi penting untuk bagaimana provinsi tadi melakukan strategi-strategi untuk bisa mengoptimalkan jumlah vaksin yang didistribusi nanti termasuk juga kepada anak-anak," tutup Nadia.