Kemenkes Palestina: 8 Ribu Lebih Orang Tewas Akibat Agresi Israel
·waktu baca 2 menit

Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas pada Minggu (29/10) mengatakan, lebih dari 8.000 orang telah tewas akibat agresi Israel sejak perang pecah pada 7 Oktober lalu.
Laporan ini muncul, di saat Israel mengerahkan pasukan tempur ke Jalur Gaza untuk melakukan 'serangan darat' dengan misi menumpas para petinggi Hamas beserta fasilitas militernya.
"Jumlah korban tewas akibat agresi Israel telah melampaui 8.000 orang, separuhnya adalah anak-anak," kata Kementerian Kesehatan Palestina kepada AFP.
Adapun laporan terakhir mengenai korban jiwa dikeluarkan Sabtu (28/10) pagi, yang menyebut sekitar 7.703 orang telah tewas akibat bombardir Israel di Gaza dan penggerebekan di Tepi Barat.
Namun, jumlah korban jiwa kemungkinan bakal terus meningkat, seiring dengan gempuran intens dan masif yang menerpa Gaza.
Al Arabiya melaporkan, puluhan ribu tentara Israel telah memasuki wilayah Gaza dan mengerahkan dari segala jalur — dari udara, darat, hingga bawah tanah, untuk menghancurkan persembunyian Hamas.
Serangan paling masif sejak konflik Israel dan Hamas pecah dimulai pada Jumat (27/10). Menurut Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant diluncurkannya serangan tersebut menandai 'fase baru' dalam perang dengan Hamas.
"Tadi malam, tanah di Gaza berguncang. Kami menyerang di atas tanah dan di bawah tanah," kata Gallant, menyinggung soal lokasi persembunyian Hamas yang terletak di terowongan bawah tanah.
Berdasarkan perkembangan terkini, Israeli Defense Forces (IDF) telah memerintahkan penduduk di Kota Gaza dan di bagian utara wilayah kantong tersebut untuk dievakuasi ke bagian yang aman, yaitu selatan.
Di wilayah selatan, kata IDF, pasokan bantuan kemanusiaan yang dimediasi Mesir dan Amerika Serikat bakal diperluas pada Minggu (29/10). Dengan kata lain, warga Gaza yang selama beberapa pekan terkepung kini sudah bisa memperoleh kebutuhan pokok.
"Warga sipil di Gaza utara dan Kota Gaza untuk sementara waktu harus pindah ke bagian selatan Sungai Wadi Gaza — ke daerah yang lebih aman di mana mereka dapat menerima air, makanan, dan obat-obatan," kata juru bicara IDF, Daniel Hagari, dalam pesan video yang direkam pada Sabtu (28/10).
