Kemenkes Putar VN Dokter Internship di Jambi Sebelum Meninggal: Aku Enggak Kuat

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konferensi pers hasil investigasi internship kedokteran di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi pers hasil investigasi internship kedokteran di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memutar sejumlah voice note (VN) atau pesan suara milik dr. Myta Aprilia Azmy, saat menyampaikan kondisi kesehatannya kepada rekan sesama dokter internship sebelum meninggal dunia.

Voice note tersebut diperdengarkan Pelaksana Tugas (Plt) Inspektur Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna Nata Saputra, dalam konferensi pers hasil investigasi di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).

Rudi menjelaskan, dr. Myta mulai mengalami keluhan kesehatan ketika menjalani stase di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Kuala Tungkal pada 26 Maret 2026.

“Di tanggal 26 Maret, ketika menjalani stase IGD tadi di Kuala Tungkal, Dokter MAA ini merasakan gejala penyakit dan tetap bertugas di UGD. Kemudian, yang bersangkutan menjalani pengobatan mandiri,” kata Rudi.

Namun, kondisi tersebut disebut terus berlanjut hingga akhir Maret.

“Nah, keluhan ini terus berlanjut di tanggal 31 Maret 2026, yang bersangkutan juga masih kondisinya demam batuk pilek ya, dan jaga malam. Selepas jaga malam yang bersangkutan nanti ada, minta untuk diinfus, nanti kita akan lihatkan videonya. Dan Dokter MAA tidak melaporkan kondisinya kepada dokter pendamping. Jadi selama isip ini setiap peserta isip akan didampingi oleh satu orang pendamping,” ujarnya.

Kemenkes kemudian memutar voice note pertama yang disebut dikirim dr. Myta kepada rekannya bernama dr. M pada 1 April 2026.

“Nah, boleh diklik yang demam batuk pilek, kami akan sampaikan gambarnya. Oh, ini voice note. Jadi dokter Myta sudah sakit semenjak tanggal 31 Maret. Boleh diperdengarkan voice note-nya,” kata Rudi.

Dalam voice note tersebut, dr. Myta menceritakan dirinya mengalami demam tinggi, batuk, pilek, hingga sulit membuka mata.

“Kok kelihatan sakit nian gitu. Iyo, Bang, Mita bilang kan, batuk pilek, Bang, demam, panas nian. Eh, silau, dak bisa buka mato gitu kan. Dicubonyolah lah Bang tuh, uh panas nian katonyo jam 12-an tuh ya. Ini 40-an ini katonyo. Inject dia lah, Bang. Udah, udah, Bang. Bang, inject inject. Dak usah, Bang. Kato Mita sakit. Mita takut gitu kan. Ndak ndak ndak. Inject inject inject. Ambil lah dulu ini, ini, ini katonyo. Dak usah, Bang, minum obat bae ‘ya sudah, minumlah PCT 1000 mili gitu kan. Dikasihlah 1000 mili,” ujar dr. Myta dalam rekaman itu.

Kemenkes kemudian memutar voice note kedua yang juga dikirim kepada rekan sesama peserta internship.

Dalam pesan suara itu, dr. Myta mengeluhkan tubuhnya terasa panas, menggigil, hingga mual.

“Napas aku panas. Panas. Hidung aku panas, semua hal ini ni panas. Sepanas itu, Ren memang. Tapi aku menggigil. Minumlah, minum kato Abang tuh. Buka bae maskernyo. Aku make masker kan, aku batuk pilek kan, takut bae gitu kan. Buka bae eh biar napasnyo enak, minum. Mual, Bang. Nak muntah gitu. Ya sudah aku ambilkan dio obat, diambilnyo obat, dio lansoprazole biaso sih memang,” tutur dr. Myta.

Voice note ketiga juga diperdengarkan dalam pemaparan tersebut. Dalam rekaman itu, dr Myta mengaku merasa sangat lemah ketika tetap harus menjalani tugas jaga malam.

“Sudah mendingan. Tapi mati nian Ren, perasaan tuh kayak mati nian. Malam itu tuh. sampai jam 2 ini inject inject. Inject inject inject itu disuruh tidur di dalam. Aku ndak mau kan. Karena kayak ya segan bae Abang tuh di situ gitu kan. Abis itu sampe jam 2 sekianan tuh, pasien itu kan banyak ren. Maksudnya itu, ada yang masuk lagi. Duh nak konsul, jelek kali loh. Pasien aku pun yang jelek itu tuh, jadi dipegang bang david gitu kan. ‘Bang’ pokoknya selama ada space waktu aku selalu bilang ‘bang maaf ya bang, bang makasih ya bang’ gitu. Dia ‘yauda ndapapo istirahatlah’ kata abang tu,” ungkap dr Myta.

Rudi melanjutkan, pada 11 April dr Myta masih bertugas pagi di IGD meski dalam kondisi batuk, pilek, dan demam.

“Nah, berikutnya di tanggal 11, ini dokter MAA masih jaga pagi di IGD, dengan kondisi masih batuk pilek, demam. Diberikan obat oleh dokter IGD. Demikian pun di tanggal 12,” ujarnya.

Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) mengucapkan belasungkawa atas wafatnya dr. Myta Aprilia Azmi di RSMH Jambi, pada 1 Mei 2026. Foto: Instagram/@ismki_indonesia

Kemudian pada 13 April 2026, yang bertepatan dengan ulang tahun dr. Myta, ia disebut masih menjalani perawatan setelah bertugas jaga malam.

“Nah di tanggal 13 April, di mana 13 April ini hari ulang tahun dari dokter MAA. Jadi dia mendapatkan infus jadi paska jaga malam. Kemudian di UGD dia mendapatkan infus dipasang infus dan nanti coba bisa diklik dokter MAA. Bisa diklik videonya boleh. Jadi di video pertama itu dokter MAA diinfus oleh dokter jaga ya,” kata Rudi.

“Jadi dokter MAA merayakan ulang tahunnya dengan kondisi paska jaga malam dengan tangan terinfus kondisi yang tadi masih ada keluhan demam batuk pilek ininya,” lanjutnya.

Rudi juga memutar voice note lain yang dikirim dr. Myta kepada rekannya bernama Astri pada 15 April 2026. Dalam pesan itu, dr. Myta meminta jadwal jaganya digantikan karena merasa sudah tidak kuat.

“Dan di tanggal 15 April pagi tepatnya ada informasi dokter MAA ini mengirimkan voice note kepada rekan ishipnya. Jadi meminta digantikan jadwal jaganya. Dengan terdengar napasnya itu sudah agak sesak ya. Boleh diperdengarkan silakan,” ujar Rudi.

“Astri… Aku… Aku mau minta tolong… Ng… Mau minta tolong. Jadi, kalau dari jadwal kan Astri ini ya, apa, libur, ndak sih? Libur, ndak sih? Aku… Mau minta tolong gantiin jadwal aku, yang pagi ini. Kalau misal… Kamu… Bisa… Hari ini aja. Nanti yang malam biarlah Rena nanti yang gantiin… Kalau yang aku sih kayak… Enggak kuat, Astri…,” kata dr Myta dengan sesak.

Rudi mengatakan berdasarkan informasi dari rekan Dokter Myta, permintaan pergantian jadwal jaga itu kemudian disetujui.

“Ya, selanjutnya berdasarkan informasi keterangan dari rekannya, dokter A ini bersedia menggantikan dokter MAA untuk jaga di IGD,” tutup Rudi.