Kemenkes soal dr Piprim: Mutasi ASN Biasa, Kalau Kita Zalim Ditempatkan Jauh
·waktu baca 2 menit

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan seluruh dokter ASN (Aparatur Sipil Negara) harus bersedia untuk ditempatkan di mana pun. Selain itu, pemindahan tugas (mutasi) seorang dokter ke tempat lain adalah hal yang lumrah.
Hal ini disampaikan Ketua Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aji Muhawarman terkait pemindahan tugas Ketum IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso dari RSCM ke RS Fatmawati Jakarta.
“Dan sekali lagi kita tekankan bahwa mutasi ASN itu hal yang biasa, hal yang lumrah. Jadi itu memang sejak awal kita komitmennya siap ditempatkan di mana pun. Mau di Jakarta. Mau di Papua pun sebenarnya ya kita harus siap,” kata Aji di depan Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (7/5).
“Kalau kita bener-bener mau zalim. Itu pindahnya bukan di Jakarta. Ke IKN misalnya. Yang jauh-jauh gitu. Nah itu, daerah mana gitu. Jadi itu sesuatu yang nggak mungkin kalau dizalimi,” lanjut dia.
Aji mengatakan, alasan Kemenkes mutasi sejumlah dokter spesialis anak untuk mengisi kekosongan beberapa posisi dokter spesialis di rumah sakit vertikal. Dia memastikan, Kemenkes juga telah melakukan pertimbangan untuk pengisian tugas tersebut.
“Terus kalau misalnya kosong kok ada yang ngisi. Terus harusnya ini sudah penuh.Kenapa ini harus dipindahkan. Ya gitu kita yang tahu sebenarnya. Itu ada perhitungannya. Nggak mungkin formulasi itu kita gak melakukan. Ada pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk melakukan pengisian-pengisian di beberapa rumah sakit,” jelas dia.
Penjelasan Piprim Basarah
Sementara Piprim sebelumnya merasa permutasian dirinya aneh. Sebab, terkesan mendadak.
“Kemudian mutasi saya sendiri aneh. Saya pada saat itu Hari Jumat (2/5) ditelepon oleh teman yang melihat edaran itu, sementara saya sendiri belum tahu isinya," kata Piprim mengawali paparannya.
"Sampai hari ini pun saya belum menerima surat fisik mutasi," imbuh dia.
Piprim menambahkan, keanehan berikutnya adalah mengapa ia dimutasi ke RS Fatmawati. Sedangkan di sana tak ada spesialis jantung anak.
"Kalau masalah di narasi itu adalah ada pendidikan terkait profesi saya, sedangkan saya dimutasi ke RS Fatmawati yang tidak mendidik anak maupun subspesialis anak," katanya.
Kata dia, dengan mutasi ini, dikhawatirkan akan mengganggu produksi jumlah dokter spesialis jantung anak di Indonesia.
