Kemensos Bangun LENSA SR, Pastikan Informasi Sekolah Rakyat Valid & Terintegrasi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rapat LENSA SR Kemensos. Foto: Kemensos RI
zoom-in-whitePerbesar
Rapat LENSA SR Kemensos. Foto: Kemensos RI

Tingginya kebutuhan informasi publik mengenai Sekolah Rakyat mendorong Kementerian Sosial memperkuat tata kelola komunikasi. Hingga Mei 2026, tercatat 5.299 pertanyaan dan aduan melalui media sosial Kemensos, dengan pertanyaan terbanyak terkait lokasi, jadwal, dan ketersediaan Sekolah Rakyat.

Data tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif), sebuah mekanisme tata kelola komunikasi publik yang memastikan informasi mengenai Sekolah Rakyat bersumber dari data yang valid, konsisten digunakan lintas unit, serta responsif terhadap perkembangan isu.

Kebutuhan tersebut muncul karena informasi mengenai Sekolah Rakyat berasal dari berbagai kanal, sementara data program, aduan publik, pemberitaan, media sosial, dan informasi lapangan sebelumnya belum sepenuhnya terintegrasi dalam satu siklus tata kelola komunikasi. Respons terhadap isu juga masih cenderung dilakukan berdasarkan kasus per kasus dan bergantung pada koordinasi informal. Kondisi ini berisiko menimbulkan respons yang lambat, narasi antarkanal tidak seragam, klarifikasi berulang, hoaks, salah tafsir, serta publikasi yang belum sepenuhnya data-safe dan child-safe.

“Dengan adanya LENSA SR, segala informasi yang berkaitan dengan Sekolah Rakyat dapat terintegrasi dengan baik dari pusat hingga daerah. Sehingga masyarakat mudah mendapatkan informasi yang valid, cepat dan terhindar dari narasi hoax di media sosial,” kata Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa Fatkhurohman Taufik, dalam keterangan tertulis, Minggu (30/8/2026).

Melalui LENSA SR, informasi tidak langsung diolah menjadi materi publikasi. Informasi terlebih dahulu dihimpun dari berbagai sumber, mulai dari media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra/Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, hingga informasi lapangan.

Selanjutnya, informasi dikonfirmasi kepada PIC atau unit pemilik substansi untuk memastikan informasi yang digunakan akurat, terbaru, terkonfirmasi, dan dapat dipertanggungjawabkan. Setelah itu, informasi diolah menjadi narasi dan rekomendasi respons sesuai kebutuhan.

Mekanisme tersebut terdiri atas enam tahapan, yakni tangkap dan klasifikasi isu dan narasi, validasi substansi, olah isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi respons dan narasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi.

Penguatan tata kelola ini telah memasuki tahap implementasi dengan tersusunnya Nota Dinas Sekretaris Jenderal Nomor 3240/1/HM.01.03/8/2026 tentang Rekomendasi Isu dan Respons Komunikasi Sekolah Rakyat pada 27 Agustus 2026.

Nota tersebut memuat isu prioritas, rujukan informasi yang telah dikonfirmasi, tingkat risiko isu, serta arahan penggunaan FAQ dan rujukan narasi yang sama. Dokumen resmi ini telah disampaikan kepada unit pusat, Balai Besar, Sentra Terpadu/Sentra, serta kepala Sekolah Rakyat sebagai rujukan bersama.

Dalam rekomendasi tersebut, terdapat lima kebutuhan utama yang menjadi perhatian, yaitu ketepatan dan kemutakhiran data, kecepatan konfirmasi substansi, konsistensi informasi antarunit dan antarkanal, keamanan publikasi anak dan keluarga rentan, serta pencatatan tindak lanjut isu.

Aspek perlindungan anak menjadi bagian penting karena komunikasi mengenai Sekolah Rakyat bersinggungan langsung dengan anak dan keluarga rentan. Karena itu, materi publikasi diarahkan untuk memenuhi prinsip data-safe dan child-safe, termasuk tidak mengekspos kerentanan maupun membuka identitas sensitif anak.

Rapat LENSA SR Kemensos. Foto: Kemensos RI

Respons terhadap isu juga tidak disamaratakan. Isu ringan dapat ditangani melalui jawaban layanan, FAQ, atau koreksi informasi. Isu dengan risiko sedang memerlukan klarifikasi resmi atau konten penjelas yang dikoordinasikan dengan Biro Hubungan Masyarakat. Sementara isu berat yang berkaitan dengan keselamatan anak, kekerasan, kebocoran data, integritas anggaran, atau dugaan pelanggaran hukum segera dieskalasikan sesuai kewenangan.

Untuk menjaga konsistensi informasi, LENSA SR dilengkapi Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Instrumen tersebut dirancang sebagai dokumen yang dapat diperbarui mengikuti perkembangan isu, aduan masyarakat, pemberitaan, percakapan media sosial, dan informasi lapangan.

Ke depan, LENSA SR diarahkan untuk menjadi bagian dari tata kelola komunikasi publik Sekolah Rakyat secara berkelanjutan. Pengembangannya mencakup pelembagaan Forum Isu Mingguan, konsolidasi isu, aduan, pemberitaan, media sosial, dan informasi lapangan ke dalam matriks atau dashboard, serta pembaruan FAQ dan bank narasi berdasarkan hasil pengolahan isu.

“Semoga ke depan LENSA SR menjadi rujukan sebagai program layanan informasi terintegrasi, tidak hanya dalam lingkup Sekolah Rakyat tapi juga program lain seperti PKH, Sembako atau layanan lain di Kemensos. Sehingga semakin banyak masyarakat mendapat kemudahan dalam mengakses informasi dan terhindar dari hoaks,” kata Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico.

Dengan pendekatan tersebut, kebutuhan informasi publik mengenai Sekolah Rakyat tidak hanya dijawab dengan kecepatan, tetapi juga melalui informasi yang terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak serta keluarga rentan.