Kemensos Berdayakan Ratusan Petani Kakao Ende
·waktu baca 3 menit

Kementerian Sosial melalui Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial melaksanakan program pemberdayaan kepada 150 orang petani kakao dari Keluarga Penerima Manfaat PKH dan sembako di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin Ishaq Zubaedi Raqib menjelaskan program berfokus pada optimalisasi budidaya dan hilirisasi komoditas kakao organik.
Hal ini sebagai upaya peningkatan taraf hidup dan kemandirian ekonomi para penerima bantuan sosial, sehingga dapat sepenuhnya menjadi keluarga yang berdaya dan graduasi dari kepesertaan bansos.
“Semangat pemberdayaan adalah menjangkau masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya tersentuh pembangunan,” kata Zubaedi saat menghadiri acara Kerjasama Pemberdayaan Sosial Menuju Kemandirian Ekonomi Petani Kakao Organik di Kecamatan Nangapanda, Ende, beberapa waktu lalu.
Dalam kesempatan ini Kemensos memberikan bantuan stimulus berupa bibit unggul, sarana produksi organik, alat dan mesin pertanian, hingga fasilitas pascapanen dengan total nilai bantuan sebesar Rp826 juta.
Program ini menyasar 150 KPM petani kakao di Kecamatan Ende dan Nangapanda, yang tergabung dalam Koperasi Produsen Agro Niaga Asosiasi Petani Kakao Nangapanda (KOPAN-SIKAP).
Kabupaten Ende memiliki komoditas kakao yang sangat besar dengan potensi perkebunan kakao mencapai 7.498 hektare. Namun masih terdapat tantangan pada sektor hulu dan rantai niaga sehingga membatasi capaian nilai ekonomi yang optimal bagi para petani. Selain itu, ancaman lain datang dari penurunan hasil panen dan serangan hama.
Oleh karena itu, disamping memberikan penguatan kapasitas kepada keluarga penerima manfaat, Kemensos juga melakukan kolaborasi dengan PT Mega Inovasi Organik (MIO) selaku industri pengelolaan kakao organik global yang bertindak sebagai penjamin pasar (off-taker) yang berkomitmen menerapkan harga premium untuk produk kakao yang lolos sertifikasi international.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama yang dilakukan oleh Direktur Pemberdayaan Sosial Masyarakat Kemensos Adrianus Alla bersama Direktur PT MIO Dippos Naloanro Simanjuntak.
“Harapannya lahir generasi petani kakao organik Ende yang mampu menembus pasar ekspor melalui kerja sama dengan PT MIO,” ujar Zubaedi.
Salah satu KPM, Imelda Yunimani mengucapkan terimakasih atas bantuan yang diberikan. Dia mengaku akan merawat dan menggunakan bibit dan alat-alat yang diberikan dengan baik.
“Kami akan menggunakan alat-alat tersebut semaksimal mungkin dan kami menjaga alat itu untuk sampai kapan pun,” kata Imelda.
Sementara itu, Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda, menyambut baik program perberdayaan bagi para petani kakao di wilayah nya. Ia mengajak para petani memanfaatkan bantuan yang diberikan sebaik mungkin agar mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan memperkuat perekonomian
“Bantuan yang diberikan bukan sekadar dukungan ekonomi, tetapi juga membuka jalan bagi masyarakat untuk bangkit dan mandiri,” pungkasnya.
