Kementan Perkenalkan Pertanian Berkelanjutan Subak Jatiluwuh ke Delegasi AMM G20

29 September 2022 17:17 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Sekjen Kementan Kasdi Subagyono mendampingi Delegasi Agriculture Ministers Meeting (AMM) G20 melakukan field trip ke sawah terasering Subak Jatiluwih yang merupakan World Heritage di Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali, Kamis (29/8). Foto: Dok. Kementan
zoom-in-whitePerbesar
Sekjen Kementan Kasdi Subagyono mendampingi Delegasi Agriculture Ministers Meeting (AMM) G20 melakukan field trip ke sawah terasering Subak Jatiluwih yang merupakan World Heritage di Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali, Kamis (29/8). Foto: Dok. Kementan
ADVERTISEMENT
Delegasi Agriculture Ministers Meeting (AMM) G20 melakukan field trip ke sawah terasering Subak Jatiluwih yang merupakan World Heritage di Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali.
ADVERTISEMENT
Kunjungan yang diinisiasi Kementerian Pertanian (Kementan) RI ini bertujuan untuk memperkenalkan praktik pertanian berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim ekstrem.
Kegiatan kunjungan ini merupakan penutup rangkaian acara Agriculture Ministers Meeting (AMM) G20 Indonesia 2022 di Bali.
Sekjen Kementan Kasdi Subagyono mendampingi Delegasi Agriculture Ministers Meeting (AMM) G20 melakukan field trip ke sawah terasering Subak Jatiluwih yang merupakan World Heritage di Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali, Kamis (29/8). Foto: Dok. Kementan
Sekjen Kementan Kasdi Subagyono mengatakan, Desa Jatiluwih merupakan salah satu daerah yang memiliki sawah terasering terbesar dan penghasil beras berkualitas tinggi.
Desa dengan pemandangan rice terrace atau subak ini telah dinobatkan sebagai objek agrowisata kelas dunia dan diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.
"Kita sama sama datang di Subak Jatiluwih mengundang semua delegasi Agriculture Ministers Meeting untuk bersama-sama kita hadiri ini memperkenalkan bahwa tempat ini sangat luar biasa. Selain sudah disampaikan bahwa ini adalah heritage dari UNESCO sejak 2012," ujar kata Kasdi yang mewakili Mentan Syahrul Yasin Limpo pada kegiatan tersebut, Kamis (29/9/22).
Panorama indahnya Sawah Subak Jatiluwih, Bali. Foto: Yodgi/Shutterstock
Kasdi menambahkan lahan pertanian di Desa Jatiluwih menerapkan sistem pertanian berbasis budaya yang ramah lingkungan dan menerapkan pertanian dengan mengantisipasi perubahan iklim (climate change) dengan sistem irigasi yang baik sehingga ketersediaan air selalu terjaga.
ADVERTISEMENT
Kemudian tempat ini merupakan lahan yang sudah dimodifikasi dari plotting area, lahan yang kemiringan diubah menjadi teras.
"Dan lebih penting lagi terasnya digunakan untuk budidaya padi. Kalau biasanya di daerah Jawa atau di mana pun yang dominan adalah lahan kering," terangnya.
Sekjen Kementan Kasdi Subagyono mendampingi Delegasi Agriculture Ministers Meeting (AMM) G20 melakukan field trip ke sawah terasering Subak Jatiluwih yang merupakan World Heritage di Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali, Kamis (29/8). Foto: Dok. Kementan
Tidak hanya itu, sambung Kasdu, Desa Jatiluwih juga memiliki kelompok tani yang sangat spesifik yakni tidak hanya berdasarkan kelembagaan kelompok tani, namun juga menerapkan adat istiadat di dalam mengelola sumber daya alam, salah satunya air.
Pada beberapa kesempatan FAO menyampaikan bahwa Desa Jatiluwih bisa menjadi contoh bagi provinsi lain di Indonesia, bahkan negara lain.
"FAO di beberapa kesempatan sudah memberikan statement kepada Indonesia bahwa pertama pertanian Indonesia adalah menjadi best practice bagi negara lain, secara global. FAO pun mengapresiasi capaian pertanian Indonesia karena di masa pandemi mampu memberikan capaiannya luar biasa," ucap Kasdi.
Wisatawan yang sedang menikmati keindahan Sawah Subak Jatiluwih. Foto: Elizaveta Galitckaia/Shutterstock
Dalam kunjungan ini, para delegasi melihat langsung rice terrace yang telah menerapkan pengairan teratur oleh masyarakat adat Bali. Delegasi juga turut menyaksikan peragaan menumbuk padi, yang dilakukan dengan cara khas sesuai tradisi petani setempat.
ADVERTISEMENT
Pertemuan AMM G20 berlangsung di Bali dengan dihadiri secara fisik dan virtual oleh 188 delegasi asing (168 hadir fisik), yang merupakan perwakilan seluruh negara anggota G20, 7 negara undangan, serta 8 organisasi internasional.