Kementerian ESDM Update Aplikasi MAGMA, Warga Bisa Track Kawasan Rawan Bencana

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan MAGMA Indonesia versi terbaru di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (22/10). Foto: Kementerian ESDM
zoom-in-whitePerbesar
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan MAGMA Indonesia versi terbaru di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (22/10). Foto: Kementerian ESDM

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Geologi meluncurkan MAGMA Indonesia versi terbaru, yang memuat informasi aktivitas gunung api, gempa bumi, tsunami, dan gerakan tanah dalam satu layanan, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (22/10). Kini, Warga kini bisa mengetahui apakah posisinya berada di kawasan rawan bencana geologi langsung dari ponsel.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyebut, dengan update-nya aplikasi MAGMA, pelayanan informasi kebencanaan dan mitigasi risiko bagi keselamatan masyarakat bisa berjalan dalam satu rangkaian.

"Jadi nanti dari pemanfaatan sistem yang sudah dibangun, informasi yang sudah dibangun ini kita bisa sharing-kan dengan Kementerian/Lembaga," ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot.

Yuliot juga meminta hasil pemantauan diterjemahkan menjadi langkah nyata di setiap instansi. "Dari mitigasi ini harus kita uraikan di dalam rencana aksi untuk setiap Kementerian/Lembaga," katanya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan MAGMA Indonesia versi terbaru di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (22/10). Foto: Kementerian ESDM

Versi terbaru ini hadir sebagai aplikasi multiplatform yang bisa diakses melalui web dan perangkat Android, dan kini resmi tersedia bagi pengguna iOS. Peluncuran ini menjadi bagian dari transformasi digital layanan informasi kebencanaan geologi.

MAGMA Indonesia membawa 10 pembaruan fitur utama. Salah satunya Geohazard Location Awareness, yang mengenali posisi pengguna terhadap kawasan rawan bencana. Pembaruan lain mencakup pemantauan visual CCTV dan live seismogram yang lebih stabil, riwayat aktivitas kebencanaan, serta integrasi data melalui Application Programming Interface (API). Untuk peringatan dini, sistem ini memakai Common Alerting Protocol (CAP) sebagai format standar.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, pengembangan MAGMA Indonesia diarahkan agar informasi kebencanaan mendorong tindakan yang lebih cepat dan tepat.

"Sistem ini pada intinya dirancang untuk memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan aksi dini (early action) yang tepat sasaran, sehingga risiko dan dampak dari bencana geologi dapat diminimalisir," ujar Lana.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan MAGMA Indonesia versi terbaru di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (22/10). Foto: Kementerian ESDM

Integrasi API juga membuka akses data bagi lembaga lain. BNPB, BPBD, kementerian/lembaga, dan pemangku kepentingan lainnya dapat memanfaatkan informasi MAGMA Indonesia langsung di sistem masing-masing.

Integrasi ini diharapkan memperkuat koordinasi dan mempercepat penyampaian informasi kepada pengambil kebijakan maupun masyarakat.

Lewat pembaruan ini, Kementerian ESDM menyebut ingin informasi kebencanaan tidak berhenti sebagai data, tetapi bisa dipakai untuk peringatan dini, kesiapsiagaan, dan pengambilan keputusan. Dengan akses yang makin luas, masyarakat dapat memantau informasi bencana geologi kapan saja dan di mana saja, sebagai bekal untuk mengurangi risiko dan dampaknya.