Kementerian PU Selamatkan 8.000 Hektare Sawah Lampung dari Intrusi Air Laut

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kementerian PU percepat penanganan intrusi air laut di DIR Pisang, Lampung Selatan. Dok: Kementerian PU
zoom-in-whitePerbesar
Kementerian PU percepat penanganan intrusi air laut di DIR Pisang, Lampung Selatan. Dok: Kementerian PU

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat penanganan intrusi air laut di Daerah Irigasi Rawa (DIR) Pisang, Kabupaten Lampung Selatan, untuk menjaga produktivitas sekitar 8.000 hektare lahan pertanian. Penanganan dilakukan dengan memperlancar aliran air sekaligus menjaga ketersediaan air baku bagi lahan pertanian masyarakat guna mencegah potensi gagal panen.

Menteri PU, Dody Hanggodo mengatakan penguatan infrastruktur sumber daya air menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Infrastruktur yang andal diperlukan untuk memastikan layanan air bagi petani tetap tersedia sehingga produktivitas lahan dapat dipertahankan.

“Kehadiran infrastruktur sumber daya air sangat penting untuk mendukung ketersediaan air irigasi pertanian, menjaga produktivitas lahan, serta memastikan pasokan pangan tetap terjaga,” kata Dody kepada wartawan, Kamis (8/10).

Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung, Kementerian PU melakukan penanganan pada jaringan saluran yang terhubung dengan Sungai Way Sekampung dan Saluran Pembuang Sekunder (SPS) Sragi. Pekerjaan meliputi normalisasi saluran suplesi dari Sungai Way Sekampung menuju SPS Sragi sepanjang sekitar 1,3 kilometer serta normalisasi SPS Sragi sepanjang 3,2 kilometer.

Menteri PU, Dody Hanggodo di Kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan pada Jumat (10/4). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Dengan total penanganan sekitar 4,5 kilometer, normalisasi dilakukan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperlancar aliran air menuju jaringan irigasi. Dengan demikian, suplai air untuk kebutuhan pertanian diharapkan dapat berlangsung lebih optimal.

Selain normalisasi saluran, Kementerian PU telah menyelesaikan perbaikan empat unit pintu Tabat Gayau dan 13 unit pintu pembuang. Sebanyak tiga unit gorong-gorong dengan total panjang 30 meter juga telah dipasang, termasuk penguatan konstruksi menggunakan pasangan batu kali.

Penanganan infrastruktur tersebut dilakukan untuk memperlancar distribusi air ke jaringan pertanian sekaligus mengendalikan masuknya air laut ke saluran. Di lapangan, air dari Sungai Way Sekampung dipompa menuju saluran sepanjang sekitar 700 meter menggunakan mobile pump.

Untuk mendukung kelancaran aliran menuju lahan pertanian, Kementerian PU juga melakukan pengangkatan sedimentasi pada Saluran Pembuangan Primer (SPP) Sekampung–SPS Sragi sepanjang 5,8 kilometer dan SPP Sekampung–SPP Bali Agung sepanjang 5,6 kilometer. Pekerjaan tersebut dikerjakan dengan mengerahkan lima unit Excavator Long Arm.

Material sedimentasi diangkat untuk membuka kembali kapasitas saluran sehingga aliran air dapat diteruskan ke saluran SPP dan selanjutnya dipompa menuju sawah.

Perbaikan Tabat Gayau juga menjadi bagian penting dalam pengendalian tata air di kawasan tersebut. Tabat berfungsi mengatur aliran saluran. Pada musim hujan, pintu dapat dibuka untuk membuang aliran ke Sungai Sekampung. Sementara pada musim kemarau, pintu ditutup untuk menahan intrusi air asin sekaligus menjaga air hasil pompanisasi tetap mengalir di saluran SPP.

Melalui rangkaian penanganan tersebut, Kementerian PU berupaya memastikan aliran air menuju jaringan pertanian tetap lancar dan terkendali. Upaya ini diharapkan dapat menjaga pasokan air bagi lahan sawah sekaligus mendukung masyarakat mempertahankan produktivitas pertanian di wilayah yang terdampak intrusi air laut.