Kemhan Klaim Latsar untuk Calon Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Bukan Paksaan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BPSDM Kemhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia (tengah) didampingi Kapus Komcad Bacadnas Brigjen TNI Hengki Yuda (kiri) dan Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait (kanan) jumpa pers di Kemenhan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026). Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BPSDM Kemhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia (tengah) didampingi Kapus Komcad Bacadnas Brigjen TNI Hengki Yuda (kiri) dan Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait (kanan) jumpa pers di Kemenhan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026). Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), Mayjen TNI Ketut Gede Wetan, menyebut keikutsertaan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dalam pelatihan dasar kemiliteran bukan merupakan suatu paksaan.

Dia menyebut, para peserta sudah mengetahui bahwa salah Latihan Bela Negara dan Manajerial merupakan salah satu tahapan yang mesti dilalui.

“Perlu kami sampaikan pula bahwa peserta SPPI yang mengikuti program ini bukan karena pemaksaan. Sejak proses rekrutmen dan seleksi, para peserta telah mengetahui bahwa salah satu tahapan program adalah mengikuti pembentukan karakter melalui Latihan Bela Negara dan Manajerial,” kata Ketut dalam jumpa pers di Kantor Kemhan, Jakarta, Sabtu (27/6).

Ketut menambahkan, kegiatan tersebut bukan membentuk peserta menjadi prajurit, tetapi membentuk karakter yang disiplin dan profesional.

“Perlu kami tegaskan bahwa kegiatan ini bukan bertujuan membentuk peserta menjadi prajurit atau anggota militer. Latihan Bela Negara dan Manajerial ini diarahkan untuk membentuk karakter, disiplin, kepemimpinan, integritas, kerja sama, tanggung jawab, profesionalisme, kemampuan bekerja dalam tekanan, serta semangat pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya.

Peserta Diklat SPPI Kopdes dan Kampung Nelayan mengikuti upacara pembukaan diklat, Juni 2026. Foto: IG/@puskompetensi_bela_negara

Selain itu, Ketut menyebut, Latihan Bela Negara dan Manajerial ini tetap memperhatikan latar belakang peserta sebagai masyarakat sipil dan tidak disamakan dengan pendidikan militer.

“Penyelenggaraan Latihan Bela Negara dan Manajerial ini disusun secara terukur dengan memperhatikan latar belakang peserta sebagai masyarakat sipil. Kegiatan ini tidak disamakan dengan pendidikan militer prajurit. Melainkan pada pembentukan mental, karakter, tanggung jawab, daya juang, kerja sama tim, dan kemampuan memecahkan masalah,” tutur dia.