Kenangan Mardijo Sempat Foto di Pantai Palu Sebelum Tsunami Datang

Mardijo masing ingat, saat jelang magrib, Jumat (28/9) dia masih berada di pinggir pantai di Palu, Sulteng. Bersama rekannya, sore itu dengan bermotor dia hendak berwisata. Kebetulan proyek yang dia kerjakan sudah hampir rampung.
Mardijo sempat foto-foto dan bergaya. Foto itu juga dia kirimkan ke bosnya, sebagai bahan candaan.
Tapi sekitar pukul 18.02 Wita, tiba-tiba guncangan keras datang. Di pantai banyak orang panik berteriak.

"Allahu akbar, allahu akbar," tutur Mardijo menceritakan kondisi saat itu, Senin (1/10).
Di pinggir pantai memang ramai warga. Mardijo tak tahu pasti ada acara apa, pastinya suasana berubah panik. Ada yang teriak tsunami, lalu kemudian warga berlarian.
"Saya dan teman saya lalu lari ke motor, tancap gas ke tempat atas," beber dia.
Mardijo tak tahu lagi kondisi setelah itu di pantai. Dia sendiri melihat ada warga yang lari menyelamatkan diri, ada juga yang santai-santai. Mardijo tak ambil pusing.

Di perbukitan selama dua hari dia berlindung bersama warga lainnya. Dia mendengar kabar ada tsunami datang dan banyak yang tewas.
"Kita makan dan minum seadanya. Air susah, makanan juga susah. MCK juga susah," kata dia.
Minggu (30/9) pagi, Mardijo baru bisa berkirim kabar dengan bosnya di Jakarta. Dia mengaku, selama dua hari komunikasi sangat sulit. Setelah dia turun dari bukit, baru bisa mengontak mereka yang di Jakarta.
"Sekarang kondisi hancur. Cari makan susah, minum juga," tutup dia.

