Kenapa dan Apa Tujuan Tentara Bayaran Rusia Wagner Group Memberontak?
·waktu baca 5 menit

Rusia dilanda ketegangan sejak tentara bayaran Wagner Group meluncurkan pemberontakan yang bertujuan menggulingkan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu, sejak Jumat (23/6).
Aksi pemberontakan Wagner Group semula ditargetkan ke Moskow. Namun, kegentingan sudah terlihat di beberapa kota lainnya di Rusia, khususnya Rostov-on-Don yang berada di selatan.
Sejumlah tank dan alat berat berada di jalanan, dengan puluhan pria bersenjata berdiri di sekitarnya. Itu memperlihatkan pemandangan yang sangat tak biasa di kota yang berjarak lebih dari 1.000 km dari Ibu Kota Moskow itu.
Imbasnya, beberapa kota selain Rostov-on-Don termasuk Moskow, Saint Petersburg, dan Lipetsk menerapkan pengamanan ketat.
Insiden ini dilaporkan sebagai krisis militer terbaru dan terbesar di Moskow — yang terjadi bertepatan saat pasukan Ukraina sedang meluncurkan serangan balasan besar-besaran di medan perang.
Lantas, apa penyebab pemberontakan ini?
Pemberontakan tersebut diketahui merupakan puncak rasa kecewa dan amarah dari Wagner Group terhadap petinggi militer Rusia.
Selama beberapa bulan terakhir, Wagner Group yang dipimpin oleh Yevgeney Prigozhin bertempur bersama tentara yang direkrut Kementerian Pertahanan Rusia melawan pasukan Ukraina.
Wagner Group, pada gilirannya, berfokus untuk merebut Kota Bakhmut yang berhasil ditaklukkan pada 20 Mei 2023.
Adapun Wagner Group sendiri adalah perusahaan swasta, bukan bagian dari Kementerian Pertahanan Rusia. Sebelum menjadi seorang pengusaha, Prigozhin juga tak lain sebelumnya bekerja sebagai koki di Kremlin.
Dalam mencapai tujuan itu, Wagner Group mulai merekrut narapidana Rusia guna dipekerjakan di medan perang — menjanjikan mereka kebebasan setelah enam bulan di garis depan.
Pada saat yang sama, Prigozhin secara terbuka acap kali mengkritik Shoigu dan Panglima Militer Rusia Valery Gerasimov atas kurangnya dukungan atau jika ada kemunduran militer yang terjadi.
Lebih lanjut, komentar pedas terbaru yang dilayangkan Prigozhin kepada Shoigu diunggah pada Jumat (23/6), pada hari yang sama dia memerintahkan pasukannya memasuki wilayah Rusia.
Dalam sebuah video berdurasi 30 menit, Prigozhin mengatakan Rusia tidak menghadapi ancaman keamanan yang mendesak untuk menjustifikasi serangan skala penuhnya ke Ukraina.
"Angkatan Bersenjata Ukraina tidak akan menyerang Rusia bersama blok NATO," ungkap Prigozhin, seperti dikutip dari The Moscow Times.
"Kementerian Pertahanan Rusia menipu publik dan presiden [Vladimir Putin]," sambung dia.
Komentar Prigozhin bertentangan dengan alasan yang diberikan Putin ketika memulai operasi militer khususnya pada Februari 2022 lalu.
Selama berulang kali, Putin menekankan ekspansi NATO ke wilayah dekat perbatasan negaranya sebagai salah satu alasan mengapa operasi militer khusus diluncurkan. Barat menyebut operasi militer khusus sebagai invasi.
Sementara itu, Prigozhin juga sempat mengeklaim bahwa Rusia berperang hanya demi kepentingan sekelompok 'bajingan'. Dia menyalahkan pemimpin militer Rusia atas perencanaan yang buruk dan memalukan setelah serangkaian kemunduran di medan perang tahun lalu.
Atas dari perencanaan yang buruk itulah, menurut Prigozhin, ribuan nyawa tentara Rusia terbantai dan mereka yang harus menanggung akibatnya.
"Shoigu membunuh ribuan tentara Rusia yang paling siap tempur pada hari-hari pertama perang," ujar Prigozhin.
"Para bajingan yang sakit jiwa itu memutuskan, 'Tak apa, kami akan melemparkan beberapa ribu orang Rusia sebagai 'umpan meriam'. Mereka akan mati di bawah tembakan artileri, tetapi kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan'," lanjut Prigozhin.
"Itulah mengapa perang ini menjadi perang yang berlarut-larut," tutup dia.
Lalu, apa tujuannya?
Beberapa analis menafsirkan komentar terbaru Prigozhin sebagai tanda ambisi politiknya yang semakin besar.
Pada 11 Juni 2023 lalu, Shoigu menandatangani sebuah dekrit yang mendesak semua relawan militer untuk menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan.
Langkah tersebut dipandang sebagai upaya untuk membawa tentara Wagner Group berada di bawah kendali Rusia.
Namun, Prigozhin menegaskan bahwa dia dan pasukannya tidak akan mengikuti perintah yang keluar dari mulut Shoigu.
Sehingga, para analis berpendapat kemungkinan pria berusia 62 tahun itu tidak hanya ingin menjadi pemimpin sebuah organisasi tentara bayaran — tetapi juga mengambil alih kepemimpinan militer Rusia.
Adapun amarah Prigozhin diketahui telah dipantik oleh klaim Kementerian Pertahanan Rusia menyerang kamp-kamp pasukannya di Ukraina.
"Serangan rudal diluncurkan ke kamp-kamp Wagner Group. Banyak korban. Menurut saksi mata, serangan itu diluncurkan dari belakang, yang berarti diluncurkan oleh Kementerian Pertahanan Rusia," ujar Prigozhin.
Dalam pesan videonya yang disebarluaskan di Telegram, Prigozhin sudah tidak berpikir dua kali untuk mengejek Shoigu.
"Kami siap untuk memberikan konsesi kepada kementerian pertahanan, untuk menyerahkan senjata kami, untuk menemukan solusi tentang bagaimana kami akan terus mempertahankan negara. Namun, para bajingan itu tak kunjung tenang," sambung dia, merujuk kepada Shoigu.
Shoigu juga bersikeras keputusannya untuk memberontak bukanlah sebuah 'kudeta militer' atau sebuah upaya untuk menyerang Putin secara pribadi.
Menurut dia, langkah ini justru adalah bentuk 'gerakan menjunjung keadilan'. "Kejahatan yang diwujudkan oleh kepemimpinan militer negara ini harus dihentikan," kata Prigozhin.
"Keadilan dalam angkatan bersenjata akan dipulihkan, dan kemudian keadilan akan dipulihkan di seluruh Rusia," tegas dia.
Namun, di sisi lain Kementerian Pertahanan Rusia menepis klaim Prigozhin. Pihaknya memandang tuduhan itu sebagai provokasi.
Apa yang terjadi selanjutnya?
Setelah 36 jam konfrontasi dan drama untuk menggulingkan Shoigu, Prigozhin pada Sabtu (24/6) akhirnya menyetujui untuk berdamai.
Kesepakatan tersebut disetujui setelah Presiden Belarusia Alexander Lukashenko turun tangan dan menjadi penengah dalam konflik.
Tindakan Prigozhin juga membuat penjuru Kremlin, termasuk Putin, murka. Putin bersumpah akan menghukum mereka yang telah 'mengkhianati' Rusia.
Atas dasar itulah, Prigozhin diminta untuk meninggalkan Rusia dan pindah ke Belarusia. Namun, Kremlin mengatakan Prigozhin tidak akan dituntut — begitu pula dengan pasukan setianya.
Kini, belum diketahui siapa yang akan mengganti posisi Prigozhin atau bagaimana pertempuran di medan perang akan berlangsung tanpa bantuan Wagner Group.
