Kepala BMKG Minta Hentikan Penggalian di Perbukitan Antisipasi Longsor di Bali

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dan Gubernur Bali Wayan Koster saat bertemu di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Rabu (9/10/2025). Foto: Dok. Pemprov Bali
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dan Gubernur Bali Wayan Koster saat bertemu di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Rabu (9/10/2025). Foto: Dok. Pemprov Bali

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta Gubernur Bali Wayan Koster menghentikan aktivitas penggalian di lereng perbukitan. Hal ini karena aktivitas penggalian di lereng perbukitan memiliki potensi longsor yang tinggi.

Menurutnya, potensi longsor saat musim hujan bisa terjadi sehingga pemerintah daerah perlu melakukan mitigasi.

"Agar aktivitas penggalian di lereng perbukitan dihentikan di daerah yang memiliki potensi longsor tinggi untuk mencegah risiko bencana yang lebih besar," kata Dwikorita dalam keterangan rilis Pemprov Bali, Kamis (9/10)

Dwikorita juga mengingatkan agar waspada potensi banjir saat musim hujan yang diperkirakan memasuki puncak pada Januari–Februari 2026. Dia menginstruksikan agar warga segera dievakuasi apabila terjadi tanda-tanda banjir.

“Segera evakuasi ke tempat yang lebih tinggi bila ada tanda-tanda banjir bandang, seperti air sungai yang naik cepat, suara gemuruh, atau bau lumpur yang menyengat,” katanya.

Di tempat yang sama, Koster mengaku sudah memerintahkan sejumlah instansi terkait melakukan pemetaan daerah rawan banjir dan longsor, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap daerah aliran sungai (DAS) dari hulu hingga hilir mencegah banjir di sejumlah wilayah.

“Langkah-langkah ini meliputi normalisasi sungai, penanaman kembali kawasan gundul, audit terhadap empat DAS besar yaitu Ayung, Badung, Mati, dan Unda, serta penertiban bangunan yang melanggar tata ruang di bantaran sungai,” kata Koster.

Bali dilanda banjir pada Rabu (10/9) lalu, dengan nilai kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp 93,5 miliar. Adapun rincian dampak banjir tersebut adalah :

1. Banjir terjadi di 521 titik, yaitu :

* 279 titik di Kabupaten Karangasem

* 81 titik di Kota Denpasar

* 63 titik di Kabupaten Jembrana

* 56 titik di Kabupaten Badung

* 28 titik di Kabupaten Tabanan

* 14 titik di Kabupaten Gianyar

2. Tanah longsor di 95 titik, yaitu :

* 44 titik di Kabupaten Tabanan

* 27 titik di Kabupaten Karangasem

* 13 titik di Kabupaten Badung

* 5 titik di Kabupaten Gianyar

* 3 titik di Kabupaten Jembrana

* 2 titik di Kabupaten Klungkung

* 1 titik di Kabupaten Bangli

3. Pohon tumbang di 51 titik, yaitu :

* 17 titik di Kabupaten Tabanan

* 15 titik di Kabupaten Karangasem

* 7 titik di Kabupaten Badung

* 5 titik di Kabupaten Klungkung

* 4 titik di Kabupaten Bangli

* 2 titik di Kabupaten Gianyar

* 1 titik di Kabupaten Jembrana

4. Jembatan putus/rusak di 4 titik, yaitu :

* 2 titik di Kabupaten Karangasem

* 1 titik di Kabupaten Gianyar

* 1 titik di Kabupaten Badung

5. Jalan jebol/rusak di 7 titik yaitu :

* 3 titik di Kabupaten Badung

* 2 titik di Kabupaten Bangli

* 2 titik di Kabupaten Karangasem

6. Tembok/bangunan/saluran irigasi/ruas jalan/senderan jebol di 87 titik, yaitu :

* 57 titik di Kabupaten Badung

* 22 titik di Kabupaten Karangasem

* 4 titik di Kabupaten Bangli

* 3 titik di Kabupaten Gianyar

* 1 titik di Kota Denpasar

7. Korban meninggal : 18 orang

* Kota Denpasar: 12

* Kabupaten Gianyar: 3

* Kabupaten Jembrana: 2

* Kabupaten Badung: 1

8. Korban hilang : 4 orang

* Kota Denpasar: 1

* Kabupaten Badung: 3