Kepala BMKG: RI Bukan Negara Rawan Siklon Senyar, tapi Ada Anomali

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BMKG Teuku Faisal dalam raker dengan Komisi V DPR, Senin (1/12/2025). Foto: Dok DPR RI
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BMKG Teuku Faisal dalam raker dengan Komisi V DPR, Senin (1/12/2025). Foto: Dok DPR RI

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani memberi penjelasan soal peringatan Siklon Senyar yang sudah disampaikan 8 hari sebelum kejadian. Faisal menyebut, siklon ini terjadi karena adanya anomali.

Faisal mengatakan, dari arah pergerakan siklon, sebenarnya Indonesia tidak masuk dalam daftar wilayah yang rawan terdampak. Lagi-lagi, perubahan mendadak kondisi cuaca membuat hujan turun di Indonesia.

“Sejak dari kita tumbuh, bahwa kita tidak merasa bahwa Indonesia ini adalah daerah yang rawan terhadap siklon,” kata Faisal kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (2/12).

Ilustrasi Siklon Senyar. Foto: BEST-BACKGROUNDS/Shutterstock

Faisal menjelaskan siklon biasanya justru terjadi di negara Jepang, Filipina, atau Hongkong. Negara-negara ini berada di 5 derajat lintang utara atau 5 derajat lintang selatan.

Siklon atau badai terbentuk karena berbagai faktor, dari mulai angin monsun dari Asia, serukan dingin dari Siberia, IOD (Indian Ocean Dipole) negatif di daerah Samudera Hindia. Siklon ini sempat diprediksi akan melewati Aceh menuju Malaysia, tapi ternyata siklon itu terhalang dan mengakibatkan hujan dengan intensitas yang sangat tinggi.

Foto udara dampak banjir bandang yang melanda pemukiman penduduk di Jalan Murai, Sibolga, Sumatera Utara, Minggu (30/11/2025). Foto: Muhammad Irsal/ANTARA FOTO

“Kita siklon tropis itu bukan kejadian yang lazim karena kita berada tidak lebih dari 5 derajat lintang utara atau selatan," kata Faisal.

Ini kejadian akibat anomali cuaca dan atmosfer sehingga terjadilah siklon."

--Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani

Suasana permukiman Jorong Kayu Pasak yang rusak akibat banjir bandang di Nagari Salareh Aia, Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Minggu (30/11/2025). Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO

Lebih lanjut, Faisal mengungkapkan BMKG juga sudah mendeteksi adanya potensi siklon tersebut. Sebelum siklon itu turun, menurutnya, BMKG juga sudah memberikan informasi awal kepada sejumlah pemangku kebijakan.

“Jadi komunikasi kita ke pemerintah daerah, semua stakeholders, itu berlangsung selama beberapa tahap. Jadi 4 hari sebelum terjadi siklon yang tanggal 25 itu, bibitnya sudah terdeteksi tanggal 21. Itu kita melakukan diseminasi informasi, SMS blasting, WA blasting dan sebagainya di grup BPBD daerah,” paparnya.