Kepala BMKG: Waspadai Fenomena El Nino Berbarengan dengan Musim Kemarau

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BMKG Teuku Faishal Fathani di Wisma Serbaguna GBK, Jakarta, Sabtu (23/5/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BMKG Teuku Faishal Fathani di Wisma Serbaguna GBK, Jakarta, Sabtu (23/5/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fatani, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi fenomena El Nino yang diperkirakan mulai aktif pada Juni 2026 dan berpotensi terjadi bersamaan dengan musim kemarau di Indonesia.

Hal itu disampaikan Teuku Faisal Fatani usai menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) IKASTARA di Wisma Serbaguna GBK, Jakarta, Sabtu (23/5).

"Ya begini, jadi perlu diketahui bahwa El Nino itu adalah fenomena dari anomali iklim dunia ya. Dia akan muncul tiga sampai tujuh tahun sekali, dan itu terus dipantau oleh banyak negara, ada Amerika, Jepang, semua negara memantau," kata Teuku.

Ilustrasi El Nino. Foto: Neenawat Khenyothaa/Shutterstock

Ia menjelaskan El Nino diperkirakan mulai aktif pada Juni dengan intensitas moderat hingga kuat.

"Untuk tahun ini, itu El Nino akan mulai aktif diperkirakan di bulan Juni, nanti dia dengan intensitas kira-kira moderate ya, sampai sini moderate sampai kuat," ujarnya.

Menurutnya, kombinasi El Nino dengan musim kemarau berpotensi menyebabkan musim kering di Indonesia berlangsung lebih lama dibandingkan pola normal dalam tiga dekade terakhir.

"Dan itu yang perlu kita waspadai ketika di bulan Juni, Juli, Agustus, nanti puncak musim kemarau Agustus, September, itu dapat membuat kemarau di Indonesia akan lebih panjang dan juga lebih kering dari yang terjadi dalam rata-rata 30 tahun terakhir," kata Teuku.

Teuku menyebut Indonesia sebelumnya juga pernah mengalami fenomena serupa dengan dampak yang lebih kuat pada beberapa tahun tertentu.

"Dari rata-rata ya, ada yang lebih kuat lagi yaitu di tahun 2015, 2019, dan 2023 sebelumnya," ucap dia.

Untuk mengantisipasi dampaknya terhadap ketahanan pangan, Teuku mengatakan, pihaknya telah berdiskusi dengan pemerintah mengenai langkah pengisian cadangan air melalui operasi modifikasi cuaca.

"Nah, kemudian tadi Bapak Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan berdiskusi banyak dengan kami bahwa kita punya 220-an bendungan di Indonesia, sehingga mulai sekarang ketika awan masih ada, kita melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengisi tampungan-tampungan air kita ini agar swasembada pangan dapat kita jamin di tahun ini," imbuhnya.

Dampak El Nino

Sementara terkait dampaknya, Teuku menjelaskan wilayah Indonesia yang paling terdampak umumnya berada di bawah garis khatulistiwa.

"Kemudian yang terpengaruh El Nino itu umumnya adalah Indonesia di bawah garis khatulistiwa, itu yang terpengaruh El Nino. Tapi yang di bagian atas seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, Kalimantan bagian utara itu tidak terpengaruh signifikan terhadap El Nino," kata Teuku.

Ia juga menegaskan bahwa musim kemarau bukan berarti hujan berhenti sepenuhnya. Intensitas hujan hanya akan jauh berkurang.

"Sehingga masyarakat sering bertanya 'katanya sudah kemarau kata BMKG kok masih ada hujan', nah itu sebenarnya artinya hujannya masih ada tapi dalam jumlah yang jauh lebih sedikit," ucapnya.