Kepala BPGMN Dorong Komoditas Ramah Gambut: Sagu-Nanas

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional Satyawan Pudyatmoko di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional Satyawan Pudyatmoko di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) Satyawan Pudyatmoko mendorong pengembangan komoditas yang ramah terhadap ekosistem gambut, mulai dari sagu, jelutung, hingga nanas.

Satyawan menegaskan perlindungan gambut tidak boleh mematikan sumber penghidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

"Kita akan mendorong komoditas yang ramah terhadap kondisi gambut, misalnya sagu, jelutung, nanas, dan komoditas lainnya. Jangan sampai perlindungan gambut mematikan ekonomi masyarakat. Itu yang menjadi tugas kita," kata Satyawan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10).

Menurut Satyawan, ekosistem gambut dan mangrove memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, pengelolaannya juga harus memperhatikan potensi ekonomi.

"Gambut dan mangrove berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Selain menjaga ekosistem gambut dan mangrove, ada potensi ekonomi besar yang bisa dikembangkan," ujarnya.

Ia mencontohkan pemanfaatan lahan gambut tidak harus bergantung pada kelapa sawit. Sagu, kata dia, memiliki potensi besar dikembangkan sekaligus mendukung ketahanan pangan.

"Di lahan gambut, misalnya, komoditas yang bisa dikembangkan tidak hanya kelapa sawit. Presiden juga selalu menyampaikan pentingnya ketahanan pangan. Sagu sangat potensial untuk dikembangkan di tanah gambut," kata Satyawan.

Satyawan ingin manfaat ekonomi dari komoditas tersebut dapat langsung dirasakan masyarakat.

"Masyarakat harus langsung merasakan manfaat ekonomi dari penanaman sagu di lahan gambut. Selain itu, ada jelutung yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku permen karet," tuturnya.

Tak hanya gambut, Satyawan menjelaskan, BPGMN juga akan mendorong pemanfaatan kawasan mangrove yang tetap menjaga kelestarian ekosistem.

"Di kawasan mangrove, kita juga bisa mengembangkan potensi perikanan yang tidak merusak ekosistem, termasuk pariwisata dan kegiatan ekonomi lainnya yang sesuai dengan kondisi lingkungan," ujarnya.

Satyawan menilai keterlibatan masyarakat desa menjadi kunci dalam menjaga gambut dan mangrove.

"Masyarakat desa merupakan salah satu kunci agar tugas ini bisa berjalan efektif. Intinya adalah melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, dan sebanyak mungkin menciptakan desa yang memiliki rasa kepemilikan terhadap ekosistem gambut dan mangrove," katanya.

Ia juga menyoroti masih adanya masyarakat yang membakar lahan gambut untuk membuka pertanian maupun perkebunan. Karena itu, pendampingan dan penyuluhan akan terus dilakukan.

"Kita mengetahui masih banyak masyarakat yang membakar lahan gambut untuk pertanian atau perkebunan. Karena itu, kita akan terus menekankan pendampingan dan penyuluhan agar perlindungan ekosistem menjadi bagian dari kehidupan masyarakat," pungkasnya.