Kepatuhan Protokol Kesehatan Masyarakat Terus Menurun, Ayo Kembali Disiplin!

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mural tentang pandemi COVID-19 Foto: Dhemas Reviyanto/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Mural tentang pandemi COVID-19 Foto: Dhemas Reviyanto/Antara Foto

Meningkatnya penularan virus corona ternyata diiringi dengan menurunnya kesadaran masyarakat untuk disiplin protokol kesehatan.

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan tren penurunan kedisiplinan protokol kesehatan terus terjadi sejak long weekend akhir Oktober lalu. Bahkan, terus menurun hingga akhir November.

"Sangat disayangkan trennya terus penurunan terkait kepatuhan individu dalam memakai masker, menjaga jarak, dan hindari kerumunan. Hal ini bertepatan dengan periode libur panjang 28 Oktober-1 November," kata Wiku dalam konferensi persnya, Kamis (2/12).

"Tren penurunan terus berlanjut sampai pemantauan 27 November 2020," imbuhnya.

Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito berpose usai memberikan keterangan di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (21/7). Foto: /Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Wiku lantas merinci masyarakat yang hanya memakai masker saat ini berkisar 59,32 persen. Sedangkan menjaga jarak sekitar 43,46 persen.

"Disimpulkan bahwa liburan panjang merupakan momentum pemicu utama penurunan kepatuhan disiplin protokol kesehatan dan kepatuhan tersebut semakin menurun," tambahnya.

Selain itu, Wiku juga mengungkapkan lokasi kerumunan dengan tingkat ketidakpatuhan masyarakat dalam memakai masker. Seperti saat berada di restoran dan kedai sebesar 30,8 persen, rumah 21 persen, tempat olahraga publik 18,8 persen, jalan umum 14 persen, dan tempat wisata 13,9 persen.

Sejumlah penumpang menggunakan masker dan duduk berjarak di dalam gerbong KRL Commuter Line, Stasiun Bogor, Jawa Barat. Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Wiku khawatir, apabila penurunan kedisiplinan protokol kesehatan masih terus berlanjut maka bisa menjadi faktor kenaikan kasus penularan corona ke depannya.

"Jika masyarakat semakin lengah dalam menjalankan protokol kesehatan seperti ditujukan dalam 3 periode libur panjang, maka dapat meningkat penularan," katanya.

"Dan apabila dilakukan testing dan tracing, maka kasus positif akan meningkat. Jika terus seperti ini, maka sebanyak apa pun fasilitas kesehatan yang tersedia tak akan mampu menampung lonjakan yang terjadi," pungkasnya.

Infografik Keajaiban Cuci Tangan. Foto: kumparan
kumparan post embed