Kepsek SMAN 1 Banguntapan: Sekolah Kami Tak Wajibkan Siswi Berjilbab
ยทwaktu baca 5 menit

Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri 1 Banguntapan, Bantul, Agung Istianto akhirnya angkat bicara terkait kasus dugaan seorang siswi baru yang dipaksa memakai jilbab di sekolah tersebut.
Agung membantah bahwa sekolahnya seperti yang dituduhkan pendamping siswi.
"Pada intinya sekolah kami tidak seperti yang ada di pemberitaan. Sekolah kami tetap tidak mewajibkan yang namanya jilbab," kata Agung saat ditemui di Kantor Disdikpora DIY, Senin (1/8/2022).
Agung dan bersama beberapa rombongan dari SMA N 1 Banguntapan hari ini memenuhi panggilan dari Disdikpora DIY. Sebelumnya pada Jumat kemarin, Agung juga sudah dimintai keterangan oleh ORI DIY. Namun saat itu Agung enggan memberikan keterangan kepada wartawan.
"Tuduhannya salah. Wong nggak seperti itu masalahnya. Karena negeri kan, negeri nggak boleh mewajibkan jilbab," katanya.
Agung sendiri tak menampik bahwa guru BK sempat memakaikan jilbab ke siswi tersebut. Namun, menurutnya hal itu hanya tutorial dan atas seizin siswi tersebut.
"Itu hanya tutorial, ketika ditanya siswanya belum pernah memakai jilbab dan dijawab nggak. Oh belum. Gimana kalau kita tutorial dijawab mantuk (mengangguk) iya," katanya.
Setelah itu guru tersebut mengambilkan jilbab di ruangan tersebut dan memakaikannya. Agung mengatakan hal itu dilakukan hanya untuk mencontohkan.
"Artinya memang ada komunikasi antara guru BK dengan siswanya dan siswanya mengangguk boleh," bebernya.
Dia mengeklaim bahwa tidak ada hal yang kasar yang dilakukan guru kepada siswi tersebut.
Saat ditanya soal informasi dari pendamping siswi tersebut bahwa muncul kata-kata tak pantas seperti kata-kata "orang tuamu nggak pernah salat ya" oleh guru BK, Agung mengatakan tidak ada hal seperti itu.
"Nggak. Mboten lah (tidak lah)," katanya.
"Misalnya pendidikan di sekolah kan ngeten meniko dari sedikit demi sedikit kalau kita membimbing dari sedikit sampai kalau misalnya siswanya tidak mau pun kami sekolah tidak mempermasalahkan," katanya.
Soal penggunaan jilbab yang diajarkan guru BK, dia menegaskan bahwa hal itu hanya tutorial dan tidak harus diajarkan oleh guru agama.
"Karena ketika ditanya hanya tutorial. Kan tidak harus guru agama," bebernya.
Di sisi lain, Agung mengatakan bahwa kebetulan siswi muslim yang ada di SMA-nya semua berjilbab.
"Kebetulan nggih berjilbab semua siswi muslimnya," katanya.
Pantauan kumparan di SMA tersebut, kegiatan belajar mengajar masih seperti biasanya. Hanya saja ketika wartawan datang untuk melakukan konfirmasi, satpam meminta awak media mengumpulkan KTP dan memotret identitas awak media.
Setelah beberapa lama menunggu, satpam mengkonfirmasi bahwa humas tidak bisa memberikan keterangan. Satpam juga menjelaskan bahwa keterangan dari sekolah satu pintu di kepala sekolah yang saat itu diketahui tengah berada di Disdikpora.
Awal kasus
Seorang siswi SMA Negeri 1 Banguntapan, Kabupaten Bantul mengalami depresi diduga karena dipaksa gurunya untuk mengenakan jilbab. Peristiwa tersebut terjadi pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Yuliani selaku pendamping anak yang bersangkutan menjelaskan bahwa saat mengikuti MPLS sebenarnya anak tersebut nyaman-nyaman saja. Hanya saja pada tanggal 19 Juli anak tersebut dipanggil oleh 3 guru BK atau Bimbingan dan Konseling.
"Anak itu dipanggil di BP (BK) diinterogasi 3 guru BP (BK). Bunyinya itu kenapa nggak pakai hijab. Dia sudah terus terang belum mau," kata Yuliani saat di kantor Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY, Jumat (29/7/2022).
Dijelaskan bahwa bapak sang anak ini telah membelikan jilbab dari sekolah. Akan tetapi, memang sang anak masih belum mau dan hal ini merupakan hak asasi masing-masing, guru pun tak boleh memaksa meski siswi itu Muslim.
Yuli mengatakan, sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 tahun 2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, tidak ada kewajiban model pakaian kekhususan agama tertentu menjadi pakaian seragam sekolah.
Sekolah pun tidak boleh melarang peserta didik jika mengenakan seragam sekolah dengan model pakaian kekhususan agama tertentu sesuai kehendak orang tua, wali, dan peserta didik.
Menurut Yuliani saat itu sang anak merasa dipojokkan karena diinterogasi. Selain itu, disebutkan bahwa guru sempat memakaikan jilbab ke anak tersebut.
"Dia juga paham mungkin dia (guru) nyontohin pakai hijab, tapi anak ini merasa tidak nyaman. Jadi merasa dipaksa," katanya.
Saat itu guru sempat bilang ke anak tersebut "lha terus kamu kalau nggak mulai pakai hijab mau kapan pakai hijab". Menurut, Yuliani hal itu sudah jelas merupakan pemaksaan.
"Anak merasa banget dipojokkan. Mungkin gurunya masih prolog yang macam-macam itu. Anaknya minta izin ke toilet. Nangis satu jam lebih di toilet," katanya.
"Izin ke toilet kok nggak masuk-masuk kan mungkin BP (BK) ketakutan terus digetok, anaknya mau bukain pintu dalam kondisi sudah lemas terus dibawa ke UKS. Dia baru dipanggilkan orang tuanya," katanya.
Yuliani yang juga dari Persatuan Orang Tua Peduli Pendidikan (Sarang Lidi) ini mengatakan bahwa pada Senin 25 Juli lalu sang anak sempat pingsan di sekolah saat upacara. Hal itu kemungkinan karena sang anak masih merasa tertekan.
Yuliani mengatakan bahwa sejak hari Selasa 26 Juli lalu, si anak mengalami depresi dan mengurung diri di kamar. Bahkan Yuliani pun baru bisa berkomunikasi dengan sang anak melalui WhatsApp.
"Dia depresi yang sangat luar biasa dengan dia dipakein hijab sama gurunya BP itu. Jadi itu kan ada pemaksaan," katanya.
Beberapa hari lalu, Yuliani pun telah bertemu dengan sekolah dan dinas terkait. Namun saat itu pihak sekolah justru mengkambinghitamkan siswi dengan menuduh bahwa siswi tersebut ada masalah di rumah.
"Seolah-olah dia mengkambinghitamkan bahwa ini adalah ada persoalan di keluarga. Waktu SMP itu juga tidak ada masalah. Sampai dia ujian lulus itu enggak ada masalah. Terus waktu di dinas itu seolah-olah dia memojokkan bahwa itu bukan masalah karena hijab tapi itu masalah keluarga. Saya marah," katanya.
Kondisi terkini, anak tersebut masih trauma. Si anak pun tidak mau sekolah di SMA itu lagi.
"Sampai sekarang aja belum masuk. Trauma dia tidak mau sekolah di situ. Okelah pasti nanti kita pindah karena KPAI saya libatkan, ORI juga terlibat," katanya.
