Keracunan MBG karena Makanan Basi, BPOM Evaluasi Mitigasi dan Siap Dukung BGN

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BPOM Taruna Ikrar (kanan) dan Kepala Badan Karantina Sahat Manaor Panggabean memberikan keterangan pers usai pertemuan di Gedung BPOM, Jakarta Pusat, Kami (22/5/2025).  Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BPOM Taruna Ikrar (kanan) dan Kepala Badan Karantina Sahat Manaor Panggabean memberikan keterangan pers usai pertemuan di Gedung BPOM, Jakarta Pusat, Kami (22/5/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menyebut indikasi keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebabkan oleh makanan yang basi dan terkontaminasi mikroorganisme.

Ia memastikan pihaknya kini sudah evaluasi dan siap mendukung perbaikan mitigasi agar kasus serupa tidak terulang.

“Kita temukan ada kontaminasi, kedua karena makanan basi menimbulkan denaturalisasi atau degradasi produk itu akhirnya kan basi, muncul mikroorganisme, akhirnya muncul kejadian keracunan,” kata Taruna saat ditemui di Gedung BPOM, Jakarta Pusat, Kamis (22/5).

Menurut Taruna, penyebab utama keracunan berasal dari berbagai faktor dalam rantai penyediaan makanan. Mulai dari bahan baku, penyimpanan, distribusi, hingga tempat penyiapan makanan.

“Tapi di tahap berikutnya kita berupaya untuk mencegah itu bila kami dilibatkan. Kesalahannya ada di penyimpanannya, ada dari bahan bakunya, dalam distribusinya, kemudian ada tempat penyiapannya,” lanjutnya.

Sebanyak 64 lansia warga Desa Sidomulyo, Kabupaten Blitar mengalami keracunan diduga usai mengonsumsi kolak kacang hijau dan pisang saat pemeriksaan kesehatan. Foto: Dok. Polres Blitar Kota

BPOM menyatakan siap mendukung program MBG yang menjadi bagian dari program prioritas pemerintah. Taruna menegaskan, kerja sama akan dijalin dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dan instalasi kesehatan untuk memastikan keamanan pangan yang disalurkan ke masyarakat.

“Kita akan kerja sama untuk support Badan Gizi Nasional, karena program makan bergizi gratis ini secara scientific, berdasarkan hitung-hitungan ekonomi, dan berdasarkan prioritas Asta Cita ini sangat penting,” ujarnya.

“Kami sebagai pembantu Presiden akan punya komitmen tegas untuk support secara maksimal. Nah, support-nya supaya kita bantu supaya ke depan tidak terjadi lagi. Kalaupun terjadi sesuatu, kita mitigasinya lebih diperbaiki. Makanya kami bersama instalasi kesehatan atau fasilitas kesehatan baik di pusat atau daerah kita berkoordinasi,” tambahnya.