Keraton Yogyakarta Gelar Rangkaian Maulid Nabi, Tertarik Melihat?
ยทwaktu baca 3 menit

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW digelar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tanggal 1 sampai 7 Oktober mendatang.
Prosesi peringatan Maulid Nabi dimulai dengan Miyos Gangsa yaitu dikeluarkannya Gamelan Sekati Kanjeng Kiai (KK) Gunturmadu dan KK Nagawilaga dari kraton.
Gamelan dibawa ke Pagongan Kagungan Dalem Masjid Gedhe pada tanggal 6 Mulud hingga 12 Mulud. Kemudian akan ditabuh setiap hari mulai pukul 10 pagi hingga 10 malam. Prosesi ini dikenal dengan istilah Sekaten.
"Miyos Gangsa dijadwalkan Sabtu (1/10) malam sedangkan Kondur Gangsa atau kembalinya Gamelan Sekati ke Keraton akan dilaksanakan pada Jumat (7/10) malam," kata Penghageng Pengulon KRT Jayaningrat dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Jumat (30/9).
Pada prosesi ini, beberapa alternatif protokol kesehatan akan disiapkan. Hal ini lantaran tidak menutup kemungkinan masyarakat umum akan datang untuk menyaksikan.
"Kita menyiapkan beberapa alternatif protokol kesehatan karena tidak menutup kemungkinan masyarakat umum akan menyaksikan rangkaian acara ini," jelasnya.
Prosesi Miyos Gangsa akan dilaksanakan di Bangsal Pancaniti, Pelataran Kamandungan Lor. Kemudian setelah Isya, utusan dalem akan menyebar udhik-udhik. Udhik-udhik ini disebar secara terbatas hanya untuk pengrawit atau wiyaga yang bertugas di lokasi.
Kemudian, Gamelan Sekati dibunyikan hingga pukul 11 malam atau sebelum dibawa menuju Pagongan Masjid Gedhe.
Dijelaskan, sebelum prosesi Kondur Gangsa, Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Ngarso Dalem akan menyebar udhik-udhuk mulai dari pagongan sisi selatan, pagongan sisi utara, kemudian ke dalam Masjid Gedhe.
Udhik-udhik itu berisi bunga, uang logam, beras, dan biji-bijian. Prosesi ini sebagai lambang sedekah raja bagi rakyat.
Setelah itu, Ngarso Dalem akan mendengarkan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW dengan mengenakan simping melati di telinga, sebagai lambang bahwa raja selalu mendengarkan keluh kesah rakyatnya.
Prosesi Kondur Gangsa ini dapat disaksikan oleh masyarakat juga. Namun, tetap harus menerapkan protokol kesehatan.
"Kami akan membuka pelataran Kagungan Dalem Masjid Gedhe saat penyebaran udhik-udhik yang dibagikan kepada masyarakat umum. Namun jumlahnya tetap dibatasi," katanya.
Sementara itu, prosesi Garebeg Mulud dengan arak-arakan prajurit dan gunungan yang sejatinya dilaksanakan pada Sabtu (8/10) masih ditiadakan. Formasinya masih sama seperti sebelumnya yakni pembagian pareden gunungan. Bregada atau prajurit Keraton pun turut terlibat dalam peringatan Hajad Dalem Sekaten ini.
Sementara itu, Wakil Penghageng Tepas Keprajuritan Keraton Yogyakarta, KRT Wiraningrat menjelaskan bahwa saat Miyos Gangsa ini Bregada Jagakarya dan Bregada Prawiratama atau Patangpuluhan akan turut mengawal iring-iringan gamelan dari Bangsal Pancaniti hingga ke Masjid Gedhe.
Kemudian, ketika Kondur Gangsa, empat bregada gaitu Bregada Wirabraja, Ketanggung, Mantrijero, dan Prawiratama atau Patangpuluhan akan menjadi pengiring gamelan.
"Para bregada ini juga bertugas menjaga keamanan dan mengatur kerumunan masyarakat agar prosesi berjalan tertib dan lancar," katanya.
Rute iring-iringan Miyos Gangsa ini akan dimulai dari Bangsal Pancaniti kemudian ke utara menuju Sitihinggil, Pagelaran lalu ke barat hingga ke Masjid Gedhe.
Menurut Kanjeng Wiraningrqt ada beberapa perubahan di tahun ini, terlebih pada paraga atau pengageman (pakaian). Jika sebelum-sebelumnya paraga untuk mengusung gangsa atau gamelan atau kanca gladag dan kanca bekaken yang membawa lilin dari masyarakat umum, pada tahun ini paraga-nya diganti prajurit bregada.
"Untuk kapten atau wedana yang biasanya memakai busana peranakan dan iket/udeng, sekarang diubah menjadi memakai busana beskap hitam dan kuluk," pungkasnya.
