Kerek Kenaikan Harga, Kementan Dorong Pengembangan Vanili di Salatiga

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengembangan budidaya vanili di Randuacir, Salatiga, yang didukung oleh Kementan. Foto: Kementan RI
zoom-in-whitePerbesar
Pengembangan budidaya vanili di Randuacir, Salatiga, yang didukung oleh Kementan. Foto: Kementan RI

Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pengembangan budidaya perkebunan vanili seiring dengan naiknya komoditas ini di pasaran. Mentan Syahrul Yasin Limpo menargetkan pertumbuhan ekspor untuk sejumlah komoditas perkebunan, salah satunya vanili, lada, pala, kopi, dan kelapa.

Bahkan, ia menargetkan pertumbuhan ekspor hingga tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan, atau disebut juga kebijakan Gerakan Ekspor Tiga Kali Lipat (Gratieks). Mentan mendorong para produsen dari hulu dan eksportir memacu produksi komoditas perkebunannya.

"Harus dibantu oleh stakeholder lainnya, eksportir, pengusaha hingga di level paling bawah untuk mengembangkan. Tiga kali lipat ini dalam lima tahun, karena perkebunan paling tidak tanam dua sampai tiga tahun baru bisa tumbuh," ujar Syahrul dalam keterangannya, Rabu (9/9).

Mentan Syahrul Yasin Limpo memberikan sambutan di acara peringatan Hari Kopi Indonesia, Rabu (11/3). Foto: Dok. Kementan

Untuk mendukung kebijakan Gratieks, Dirjen Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono mengungkapkan saat ini terdapat 7 komoditas perkebunan yang berpotensi untuk peningkatan ekspor.

"Ketujuh komoditas tersebut, yakni kopi, kakao, kelapa, jambu mete, lada, pala, dan vanili. Peningkatan produktivitas dan volume ekspor pada tujuh komoditas tersebut akan dilakukan melalui program Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah, dan Daya Saing (Grasida)," jelasnya.

Selain itu, Kementan juga menggenjot pengembangan komoditas vanili di daerah-daerah yang sebelumnya menjadi sentra produksi. Salah satunya di Salatiga, Jawa Tengah.

Tim Identifikasi Vanili Kementan terdiri dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya dan Balai Penelitian Rempah dan Obat (Balittro), serta Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah. Mereka sudah melakukan peninjauan ke Desa Randuacir, Kecamatan Argomulyo, pertengahan Juli lalu untuk meninjau lokasi penyebaran awal vanili di Salatiga.

Biji vanili Foto: Shutter Stock

Salah satu petani vanili di desa Randuacir, Harjo (90), hingga kini masih melestarikan tanaman vanili. Bahkan, ia sudah melakukannya sejak tahun 1960.

Harjo menceritakan, dahulu vanili di Salatiga pernah mencapai masa kejayaannya. Bahkan, hasil panennya bisa ikut dibelikan ternak, lahan, bahkan menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Namun, masa keemasan itu memudar ketika harga vanili jatuh di pasar internasional. Vanili lndonesia pernah hanya dihargai Rp. 100 per kilogramnya.

Saat ini, Harjo bersama putranya, Jito, tetap menekuni budidaya vanili di Randuacir. Jito yang juga pensiunan PNS Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan masih aktif bersama Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Griya Vanili Salatiga Semarang dalam pengembangan vanili, termasuk ke daerah lain.

embed from external kumparan

Pada kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Salatiga, Muhammad Haris, mengungkapkan pentingnya pendampingan dan bimbingan agar vanili Salatiga kembali ke era kejayaannya. Perlu dikembangkan pembangunan infrastruktur, terutama sumber air, agar dapat meningkatkan perekonomian di Desa Randuacir. Kemudian memberikan bimbingan kepada petani vanili Salatiga agar bisa meningkatkan data saingnya.

“Sejarah membuktikan bahwa Salatiga turut berpotensi sebagai lumbung hasil bumi bernilai ekonomi tinggi seperti vanili, kopi, karet, aren, kelapa dan masih banyak lainnya. Ini selayaknya menjadi kekayaan bangsa sendiri dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar daerah tersebut pada khususnya,” pungkasnya.

=====

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona