Keris Milik Diponegoro Cocok Dimiliki Seorang Presiden

Ketua Lar Gangsir, komunitas pecinta keris di Yogyakarta, Nilo Suseno, menganggap keris milik Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro yang telah pulang ke Indonesia cocok untuk presiden.
Nilo sendiri menyebut keris itu merupakan Nogo Sosro, bukan Nogo Siluman.
Sebagai orang yang sudah belasan tahun berkecimpung di dunia perkerisan, Nilo melihat keris dari Belanda itu cocok untuk dimiliki seorang penguasa, dalam hal ini seorang presiden.
"Karena peran tanggung jawab presiden sangat besar," kata Nilo dalam keterangan tertulis, Kamis (12/3).
Dari sisi spiritual, kata dia, keris jenis nogo itu melambangkan kekuatan dan pas untuk orang yang memiliki status tinggi.
Tidak harus status politik atau wilayah tetapi juga bidang keilmuan atau profesi masing-masing. Ibaratnya keris ini cocok bagi pemimpin.
"Jadi peran atau tanggung jawab yang diemban seorang pemimpin atau penguasa orang nomor satu kan harus mengayomi banyak orang, jutaan orang. Kemudian harus memakmurkan, melindungi, memikirkan nasib sekian banyak orang," kata Nilo.
Dia mengatakan tujuan pemimpin memang bisa diraih secara rasional dengan kekuatan ekonomi atau militer. Namun, menurut Nilo, faktor spiritual juga diperlukan. Dia meyakini dengan keris jenis nogo.
"Kewibawaan efek samping saja. Kalau orangnya sudah wibawa tinggi pasti dihormati orang. Tidak harus orang memiliki keris tertentu tiba-tiba kewibawaan muncul, itu tidak. Harus berkaitan upaya atau usaha. Ikhtiar apa yang dilakukan," kata Nilo.
Keris seperti ini akan menambah kepercayaan diri. Hanya saja ada ungkapan curiga manjing warangka, yaitu harus ada kecocokan batin antara pemilik dengan keris itu.
"Curiga itu keris, warangka itu wadahnya. Kalau nggak manjing, kan dipaksakan, nggak bisa masuk ke wadahnya," pungkas Nilo.
