Kesaksian Bocah Keturunan Gaza soal Penembakan Horor di Masjid San Diego

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas Kepolisian San Diego, Farah, menghibur seorang pria yang menghadiri konferensi pers kelompok Muslim di dekat Pusat Islam San Diego, sehari setelah insiden penembakan fatal, di San Diego, California, AS, 19 Mei 2026. Foto: REUTERS/Mike Blake
zoom-in-whitePerbesar
Petugas Kepolisian San Diego, Farah, menghibur seorang pria yang menghadiri konferensi pers kelompok Muslim di dekat Pusat Islam San Diego, sehari setelah insiden penembakan fatal, di San Diego, California, AS, 19 Mei 2026. Foto: REUTERS/Mike Blake

Seorang bocah berusia sembilan tahun, Odai Shanah, menjadi saksi penembakan yang terjadi di sebuah masjid di San Diego, Senin (18/5). Bocah laki-laki keturunan Gaza itu bersama teman-temannya terpaksa bersembunyi di ruang kelas saat kejadian berlangsung.

Shanah memberikan kesaksian mengenai horor penembakan di Islamic Center of San Diego kepada Reuters beberapa jam setelah insiden terjadi. Reuters telah memperoleh izin dari orang tua Shanah untuk merilis kesaksian sang bocah.

Dalam keterangannya, Shanah mengaku mendengar rentetan tembakan yang berasal dari luar bangunan. Lokasi tersebut tidak hanya digunakan sebagai masjid, tetapi juga memiliki sekolah Islam yang berada dalam satu kompleks.

Suasana usai penembakan di Islamic Center of San Diego di California, Amerika Serikat pada Senin (18/5). Foto: Reuters

Shanah menambahkan, setelah mendengar suara tembakan dirinya dibawa masuk ke dalam lemari untuk bersembunyi. Dari dalam lemari yang juga berisi sejumlah anak lain, dia mendengar belasan suara tembakan.

Dia menjelaskan lemari itu berada di dalam ruang kelas. Setelah suara tembakan berhenti, Shanah mendengar anggota tim SWAT kepolisian berteriak dari luar sebelum membuka pintu ruang kelas untuk melakukan evakuasi.

“Saya melihat banyak hal buruk, orang-orang tergeletak dan hal-hal buruk lainnya,” kata Shanah seperti dikutip Reuters.

“Kaki saya gemetar dan tangan serta kepala saya sangat sakit. Saya merasa seperti batu,” lanjutnya.

Menurut laporan aparat keamanan San Diego, insiden tersebut menewaskan tiga orang. Dua pelaku juga ditemukan tewas sesaat setelah kejadian.