Kesaksian Raden Saleh Jadi Kunci Pembuktian Keaslian Keris Nogo Siluman

Keris Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro telah kembali ke Indonesia. Namun, sejumlah pihak ragu apakah keris tersebut merupakan Nogo Siluman atau bukan.
Dr Sri Margana, Ketua Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga tim ahli yang melakukan verifikasi keris tersebut, sangat yakin keris yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta ini merupakan Nogo Siluman.
“Jadi saya sebagai tim verifikasi keris itu tugas kami adalah memverifikasi apakah kesimpulan yang dibuat para tim peneliti yang dibentuk di Belanda itu sudah didasarkan pada dokumen-dokumen yang akurat,” kata Margana ditemui di Kafe Pas Podjok, Sewon, Kabupaten Bantul, DIY, Rabu (11/3).
Tidak sembarangan, Margana memverifikasi 4 penelitian berbeda dari keris itu. Total penelitian yang dilakukan mencapai 36 tahun.
“Dari laporan panjang yang saya baca maka saya bisa menyatakan bukti-bukti yang dihadirkan 4 tim peneliti yang berbeda itu cukup akurat, cukup valid,” tegas Margana.
“Ada 3 arsip penting yang juga disertai foto-foto dokumen yang menyakinkan. Ada catatan nilai inventaris obyek atau barang keris itu sendiri di Museum Volkenkunde, Leiden,” katanya.
Margana juga menyampaikan, dari bermacam penelitian itu, bahkan ada dokumen yang sempat menyebut keris itu diberikan Sultan Hamengku Buwono V kepada Belanda. Dalam penelitian yang dilakukan Petter Pott kurator Museum Volkenkunde tahun 1984 itu tidak disebutkan tahun berapa keris itu diserahkan.
“Setelah Diponegoro ditangkap, keris dilucuti, kemudian diserahkan ke HB V, lalu diserahkan ke Belanda. Tetapi keterangan ini kurang meyakinkan,” ujar Margana.
Penelitan selanjutnya dilakukan oleh Prof Susan Legene yang berasal dari Vrije Universiteit Amsterdam. Dalam penelitiannya itu juga mengidentifikasi keris milik Pangeran Diponegoro.
Penelitian kuat selanjutnya dilakukan oleh Leigjfeldt, di situ didapati dokumen kesaksian Sentot Prawirodirjo. Dalam dokumen itu Sentot memberikan kesaksian langsung bahwa dia melihat dengan mata kepala sendiri Pangeran Diponegoro mempersembahkan kerisnya kepada Kolonel JB Cleerens.
“Di situ disebut kerisnya Nogo Siluman. Itu dokumen pertama yang dipakai untuk bukti bahwa dari situ jelas bahwa sudah terjadi peralihan dari keris Diponegoro kepada JB Cleerens,” katanya.
Lalu, dokumen kedua adalah kesaksian Raden Saleh, sosok yang melukis penangkapan Diponegoro di Magelang.
“Dia (Raden Saleh) mengaku sudah melihat langsung keris itu, dia memberikan kesaksian tentang ciri-ciri keris itu dan juga mengartikan apa nama Nogo Siluman itu. Kesaksiannya ditulis di dokumen yang sama dari Sentot tadi. Ciri fisik dilapisi emas dengan gambar seperti ini,” kata Margana.
Dari tangan JB Cleerens itu pada tahun 1831 atau setelah perang Diponegoro, keris diserahkan kepada Raja Wiliem I. Keris lantas disimpan di Kabner van Zeldzaamheden (KKZ) atau koleksi khusus kabinet Kerajaan Belanda. Lalu pada 1883 keris dipindah ke Museum Volkenkunde, Leiden.
“Tentu sangat penting (kembalinya keris ini) karena ini diasosiasikan dengan Pangeran Diponegoro. Seorang pejuang, Pahlawan Nasional, yang reputasinya tidak hanya diakui bangsa Indonesia, tapi dunia internasional mengakui. Ini untuk melengkapi bukti Pangeran Diponegoro melawan Belanda,” tegas Margana.
