Kesepian Bisa Melanda Siapa Saja: Cukup Didengar untuk Merasa Tak Sendirian

Gita (bukan nama sebenarnya) merasakan sakit migrainnya semakin parah sejak akhir tahun lalu. Biasanya ia hanya mengalami itu dalam rentang waktu 3-6 bulan, tak sering. Namun, setelah semakin parah, perempuan asal Makassar itu bisa mengalami migrain hampir tiap minggu.
Saat dihubungi kumparan pada Kamis (20/8), Gita bercerita bahwa dirinya memutuskan untuk berobat ke dokter saraf. Lantaran terlalu sering sekali kambuh, Gita disarankan untuk berkonsultasi ke psikiater. Dokter menduga migrain yang dialami Gita disebabkan oleh persoalan psikologis.
Gak ada teman ngobrol ini kan kepalanya jadi full, sampai migrain, terus akhirnya dibawa tidur kalau gak ngobrol, ya terpaksa minum obat (migrain) lagi,"
- Gita (31)
Walaupun sudah disarankan ke Psikiater, langkah Gita masih maju-mundur. Bukan soal biaya, ia takut dengan hasil pemeriksaan kejiwaannya nanti, belum lagi obat yang diberikan psikiater biasanya seabrek. Ia juga merasa malu apabila ketahuan mengkonsumsi obat psikiater, adapun Gita masih tinggal bersama keluarganya.
“Takut dengar jawabannya, terus takut dikasih resep, kalau psikiater kan ngasih kebanyakan kasih resep obat kan,” terang Gita.
Gita mengaku, ia kerap merasa kesepian di usianya yang sudah menginjak kepala tiga, berbeda dengan pertemanannya di masa usia 20-an. Ia bercerita bahwa ia sering datang ke event lari sendirian. Baginya, lebih baik datang sendirian daripada terlalu lama menunggu teman.
Hal itu sering kali membuatnya sedih. Perasaan kesepian mulai melanda sejak 2025, sudah setahun. Ia juga mengaku, waktu bertemu dengan teman-temannya semakin sedikit.
Tinggal bersama keluarga tak cukup untuk mengusir kesepiannya, ia kerap bersenda gurau dengan sang ibu. Namun, perbedaan generasi jadi penghalang, sering ada perbedaan pandangan. Sementara di kantor, ia mengaku pertemanannya sebatas rekan kerja.
Ia mengaku, ia butuh teman untuk mengobrol, perlu didengarkan dan dibantu keluar dari persoalan hidup.
“Kalau situasinya itu sebatas yapping doang kayak gitu kan kita cuma maunya didengerin. Tapi jika ngobrolnya itu berupa ada masalah, itu sih sebenernya butuh solusi bukan cuma mau didengerin aja,” ungkap Gita.
Untuk mengalihkan perasaan itu, ia mencoba ikut komunitas hobi seperti komunitas lari dan buku. Sayangnya, ada kebiasaan dalam grup yang tak sesuai dengan prinsip-prinsipnya, sehingga ia memutuskan untuk keluar.
Saat ini, ia mencoba bergabung dengan komunitas pertemanan online di Whatsapp. Grup ini berisi orang-orang kelahiran tahun 1990-an yang ingin menambah teman. Para anggota grup berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ia dan teman-teman grup cabang Makassar juga telah merencanakan pertemuan pada September.
Ia juga mencoba mengaktifkan kembali hobi lama seperti menonton drakor dan membaca buku.
Cerita lain datang dari Rian (bukan nama sebenarnya). Saat dihubungi kumparan pada Kamis (20/8), ia mengaku bahwa bergaul tatap muka bukan perkara mudah baginya.
Sebagai seorang yang merasa dirinya introvert, pria berusia 34 tahun itu sering merasa kesulitan saat bergaul langsung dengan teman-teman.
Bukannya merasa tak diperhatikan, pria asal Purworejo ini merasa ‘tak hadir’ dalam percakapan yang bergulir. Makanya, walaupun berada dalam keramaian, Rian tetap merasakan sepi.
Akhir-akhir ini sejak putus asa, rasanya aku tuh ada, tapi kayak enggak di situ,"
- Rian (34)
“Aku tuh tipe yang baru bisa ngomong kalau ada yang mancing. Jadi bukan tipe yang bisa nyari topik buka obrolan tuh susah. Tapi kalau sudah klop, ya obrolan bisa lancar,” ujar Rian saat menceritakan pengalamannya.
Ia juga mengaku, ia adalah orang yang tak terlalu suka bercerita. Ia lebih banyak memendam perasaannya sendiri.
“Benar-benar stres masalah hati lah ya. Lagi ada masalah, masalah ekonomi, dan mau ngeluh ke teman pun kok kayaknya enggak lah, ya malu lah. Itu sempat agak beneran malas. Rasanya tuh malas ketemu gitu sama orang-orang tuh malas,” terangnya.
Persoalan ini membuat acap kali merasa kesepian, lebih-lebih saat kedai minuman miliknya sedang sepi pembeli. Ia juga harus bekerja mengurus kedai seharian sehingga tak punya banyak waktu untuk bersosialisasi langsung.
Ia juga bercerita bahwa akhir-akhir ini ia sempat merasa putus asa, hingga mencoba bangkit dengan kegiatan-kegiatan lain.
Rian berupaya menyibukkan diri dengan main game atau kegiatan menarik lainnya. Intinya, ia mencoba menikmati keadaan yang dialami. Ia pun mencoba berteman secara daring, dengan lebih banyak orang. Baru-baru ini, ia juga bergabung ke grup pertemanan untuk mengusir rasa sepi. Dan, ya, itu berhasil.
“Karena itu kan tempatnya kan enggak ada yang tahu, (aku) pemalu, jadi enggak pede kalau di komunitas yang secara offline. Makanya aku pikir kayaknya online, relasi enggak tatap muka, enggak ada komunikasi ini (bisa) ngobrol tanpa takut,” ujarnya.
Ini salah satu cara Rian mendapatkan teman dan mengusir kesepian. Ia merasa diterima dan diapresiasi.
“Bagiku dari mereka ketawa-tawa, membalas obrolan, terus mereka menanggapi, nah itu tuh udah bagus banget. Intinya mulai merasa dihargai,” ungkap Rian.
Hal tersebut tak ia dapatnya di rumah. Rian mengaku, selama ini ia merasa kurang dihargai oleh keluarganya. Sejak kecil, ia jarang diapresiasi atas prestasi yang ia raih. Akhirnya, ia merasa seperti ‘tak dianggap’ oleh keluarganya sendiri.
Adapun Rian masih memiliki ayah dan ibu serta satu orang adik. Namun, ia mengaku tak terlalu dekat dengan saudaranya.
1 dari 6 Orang di Dunia Alami Kesepian
Dalam laporan WHO berjudul "From Loneliness to Social Connection" yang dipublikasikan pada Juni 2025, disebutkan bahwa 1 dari 6 orang di dunia mengalami kesepian. Laporan tersebut merangkum penelitian yang dilakukan pada 2014–2023 di 154 negara melalui metode survei.
Kesepian bukan fenomena remeh, temuan WHO mengungkap bahwa ada sekitar 100 kematian setiap jam atau 871.000 kematian per tahun yang disebabkan oleh alasan terkait kesepian.
PBB mengungkapkan bahwa kematian terkait kesepian dapat disebabkan oleh kesehatan yang buruk, pendapatan dan pendidikan rendah, hidup sendirian, kurangnya infrastruktur komunitas dan kebijakan publik yang memadai, serta aspek-aspek tertentu di era digital.
Kesepian Tak Hanya soal Sendirian
Kesepian bukan semata-mata berarti sendirian. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Wuri Prasetyawati menyebut bahwa kesepian juga bisa dialami oleh orang yang berada di keramaian, seperti yang dialami oleh Rian.
"Kesepian dimaknai sebagai perasaan subjektif yang dirasakan seseorang terkait dengan hubungan interpersonalnya yang dirasakan kurang baik secara kualitatif maupun kuantitatif," terangnya kepada kumparan, Jumat (21/8).
Secara kualitatif, kata dia, hubungan interpersonal yang kurang berarti kurang didengarkan oleh teman maupun keluarga. Sementara kurang kuantitatif ketika jumlah teman hanya sedikit.
Wuri memaparkan bahwa ada beberapa faktor pemicu kesepian. Faktor diri sendiri seperti kepribadian, kepercayaan diri, hingga pengalaman masa lalu. Ada pula faktor perubahan seperti pindah kota, konflik, atau putus hubungan asmara.
Wuri menambahkan, faktor sikap individualis masyarakat modern tak serta merta biang keladi maraknya kesepian, mengingat ada dua jenis kesepian dapat dialami seseorang dan kesepian itu perasaan subjektif.
"Ada orang yang merasa tidak kesepian meskipun ia hanya memiliki sedikit teman. Karena kualitas hubungan dengan teman tersebut cukup intensif, maka ia tidak merasa kesepian. Sebaliknya, ada orang yang berada dalam kelompok dengan banyak orang tapi merasa kesepian karena merasa kualitas pertemanannya kurang berdampak bagi dirinya," terangnya.
Merasa Kesepian? Turunkan Ekspektasimu ke Orang Lain
Menurut Wuri, kesepian justru ada kaitannya dengan ekspektasi seseorang ke orang lain. Maka, menurunkan harapan ke orang lain dapat menjadi salah satu solusi persoalan ini.
Karena kesepian ini ada kaitannya dengan harapan seseorang dan kenyataan, maka mengubah atau menurunkan harapan diharapkan dapat mengurangi rasa kesepian,"
- Wuri Prasetyawati, Dosen Psikologi Universitas Indonesia
Sementara untuk merek memiliki sedikit teman atau kualitas pertemanannya kurang, Wuri menyarankan untuk menyadari hal tersebut dan mulai membangun pertemanan dari lingkaran kecil terlebih dahulu, dengan cara yang sederhana pula. Misalnya dengan bertukar pesan, lalu berlanjut ke hal yang lebih personal.
"Lalu pelan-pelan lebih banyak lagi jumlah orang yang dihubungi, sehingga ia kembali menjalin hubungan dengan beberapa orang sekaligus," tambahnya.
Ia juga menyoroti jalur pertemanan lewat komunitas, seperti yang diikuti Gita dan Rian. Menurutnya, komunitas yang bertujuan mencari teman dapat berakar dari kesepian. Sedangkan komunitas minat dan hobi cenderung untuk mencari teman dengan ketertarikan yang sama.
