Kesiapan Pemerintah Hadapi El Nino dan Karhutla: Bentuk Satgas-Modifikasi Cuaca

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi El Nino. Foto: Toa55/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi El Nino. Foto: Toa55/Shutterstock

Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri dan kepala lembaga ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7). Pertemuan tersebut membahas langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan El Nino.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, berdasarkan prediksi BMKG, siklus El Nino diperkirakan terjadi lebih cepat. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi.

"Seperti kita ketahui siklus El Nino itu kan terjadi empat tahunan. Dulu 2015, kemudian 2019, 2023, mestinya tahun depan, 2027. Tapi prediksi BMKG ini akan terjadi apa, El Nino yang cepat, jadi awalnya mestinya 2027 akan terjadi tahun ini," kata Raja Juli.

"Jadi kekeringannya datang lebih cepat, ya, dan berakhirnya lebih lambat. Nah, itu tentu harus ada antisipasi dan terima kasih kepada Bapak Presiden yang justru, apa namanya, mengantisipasi ini, mengundang kami," lanjut dia.

Menurut Raja Juli, karhutla perlu dicegah karena dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat hingga aktivitas ekonomi.

"Kita tahu, ya, karhutla ini akibatnya dari segi kesehatan masyarakat kita kena ISPA, dari segi ekonomi bandara tutup, misalkan dulu, ya, sekolah tutup, pusat-pusat perekonomian berhenti. Jadi perlu sekali kita mengantisipasi karhutla ini," ucapnya.

AHY Siapkan Satgas

Menko Infrastruktur, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), usai mengikuti ratas dengan Presiden Prabowo Subianto terkait upaya menghadapi kemarau dan El Nino di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (28/7/2026). Foto: Jonathan Devin/kumparan

Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi potensi El Nino yang berbarengan dengan musim kemarau.

Antisipasi dilakukan untuk menekan dampak terhadap masyarakat, terutama pada sektor pangan dan perekonomian.

"Kita harus menyiapkan diri sebaik mungkin agar El Nino yang berhimpit dengan masa kemarau tidak terlalu menghadirkan permasalahan yang terlalu berarti bagi masyarakat kita, termasuk mengganggu sektor pangan dan ekonomi secara keseluruhan," kata AHY usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (28/7).

Dari sisi infrastruktur, AHY mengatakan pemerintah memprioritaskan kesiapan sumber daya air. Ketersediaan air bersih harus tetap terjaga dengan memastikan bendungan dan waduk memiliki debit air yang mencukupi.

"Misalnya, memastikan bendungan dan waduk kita memiliki debit air yang cukup untuk suplai air bersih, suplai air baku bagi masyarakat, dan juga untuk mendukung irigasi. Irigasi ini penting karena kita harus memastikan air tetap mengalir ke sawah-sawah kita dan menjamin produktivitas pertanian kita tidak terlalu terganggu," ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum, kata AHY, kondisi neraca air nasional masih memadai. Stok pangan nasional juga dinilai masih aman.

Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah tidak boleh lengah karena intensitas El Nino masih berpotensi meningkat.

"Tetapi kita tidak boleh lengah karena El Nino juga bisa terus meningkat derajatnya. Tadi Kepala BMKG misalnya, juga menyampaikan ada trendline yang harus kita antisipasi bersama, terutama jika masih berhimpit antara El Nino dengan masa kemarau. Mengapa? Karena di samping isu kesiapan atau ketersediaan air bersih, juga ada isu kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.

AHY mengatakan, pemerintah juga telah memetakan sejumlah wilayah yang rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Karena kita tahu di sejumlah provinsi, misalnya Riau, kemudian juga Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan sejumlah provinsi lain, apakah itu yang sifatnya lahan gambut maupun yang non-gambut, ini kerap hadir hotspot ataupun titik-titik api yang harus segera diantisipasi," papar dia.

Pemerintah menyiapkan Satgas Darat dan Satgas Udara serta melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari langkah antisipasi.

"Melalui Operasi Modifikasi Cuaca dengan metodologi yang diharapkan bisa segera memadamkan titik-titik api. Termasuk Operasi Modifikasi Cuaca untuk memastikan debit air di bendungan dan waduk, termasuk danau kita juga dalam status yang aman," ujar AHY.

BMKG Ungkap El Nino Masuk Level Kuat

Kepala BMKG bersama Deputi Bidang Klimatologi BMKG dan Direktur Informasi Perubahan Iklim BMKG menyampaikan keterangan saat konpers prakiraan awal musim kemarau 2026 di Gedung D BMKG, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena El Nino telah masuk kategori kuat. BMKG meminta langkah antisipasi dilakukan untuk menghadapi risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (28/7).

Faisal menjelaskan El Nino dinyatakan aktif ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat lebih dari 0,5 derajat Celsius di atas kondisi normal.

Menurutnya, indikator tersebut telah menunjukkan El Nino masuk kategori kuat sehingga memerlukan kewaspadaan lebih tinggi.

"Jadi kita perlu mengantisipasi khususnya pada dua hal. Yang pertama, antisipasi terkait dengan kekeringan, dan yang kedua terkait dengan kebakaran hutan dan lahan," ungkap Faisal.

Untuk mengurangi risiko kekeringan dan karhutla, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC).

"Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar," paparnya.

Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Jakarta

Warga menggunakan payung saat berjalan di trotoar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (16/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Faisal mengatakan OMC juga akan dilakukan secara situasional di Jakarta apabila terjadi hari tanpa hujan dalam waktu cukup panjang.

"Jadi ketika memang kondisinya sudah hari tanpa hujan cukup panjang, maka dilakukan Operasi Modifikasi Cuaca dengan catatan ketika awan masih ada, ya. Karena kalau tanpa awan kita tidak bisa memodifikasi, sehingga nantinya bisa membuat Jakarta lebih adem," kata Teuku.

Dalam pelaksanaan OMC di Jakarta, BMKG akan bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta.

Teuku mengatakan, BMKG bersama BPBD DKI Jakarta juga memasang ground-based generator di sejumlah gedung tinggi di Jakarta.

"Jadi ketika nanti ada awan yang kira-kira 'sehat' untuk menghujankan Jakarta, maka akan dilepaskan uap air atau flare untuk kemudian terjadilah hujan," ujarnya.

Menurut Teuku, langkah tersebut dapat dilakukan apabila Jakarta tidak diguyur hujan selama dua hingga tiga minggu. Kondisi tanpa hujan dalam waktu panjang, kata dia, juga dapat berdampak pada kualitas udara Jakarta.

"Ini biasanya kalau dalam dua-tiga minggu tanpa hujan sama sekali, kualitas udara di Jakarta juga menurun. Jadi salah satu upayanya adalah dengan melakukan hujan pada saat kondisinya memungkinkan di Jakarta," jelas dia.