kumparan
News6 Januari 2020 15:49

Keterlibatan Swasta Kunci Keberhasilan SDGs

Konten Redaksi kumparan
17 Goals SDGs
com-17 Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yang diinisiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2015. Foto: Sustainable Development Goals (SDGs)
Memasuki tahun kelima pascadisepakatinya agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), 193 negara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah melakukan inisiatif dan aksi nyata untuk mengintegrasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke dalam rencana pembangunan nasional masing-masing negara.
ADVERTISEMENT
Dalam laporan terbaru The Sustainable Development Goals Report 2019 yang dirilis PBB, beberapa progres di sejumlah sektor kritis telah berhasil dibuat. Misalnya, angka kemiskinan global yang terus berkurang, angka kematian anak dibawah lima tahun (balita) yang turun hingga 49 persen antara tahun 2000-2017, hingga sebagian besar populasi dunia saat ini telah memiliki akses listrik.
Negara-negara juga telah mengambil langkah konkret untuk menciptakan Bumi sebagai rumah yang nyaman dan aman bagi generasi mendatang. Contohnya, luasan kawasan konservasi laut yang bertambah hingga dua kali lipat sejak 2010, langkah 186 negara yang telah meratifikasi Perjanjian Paris tentang perubahan iklim, hingga 71 negara dan Uni Eropa yang telah menerbitkan lebih dari 300 kebijakan untuk merealisasikan tujuan SDGs nomor 12 yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
ADVERTISEMENT
Namun, laporan tersebut juga memaparkan bahwa meskipun hasil nyata telah terlihat di berbagai sektor utama, tantangan yang sangat besar masih membayangi agenda global untuk bisa terwujud pada 2030 mendatang. Area yang paling mendesak untuk segera ditindaklanjuti adalah perubahan iklim. Jika dunia tidak memangkas emisi gas rumah kaca yang sangat tinggi saat ini, pemanasan global diproyeksikan akan meningkat hingga 1,5 derajat Celsius dalam beberapa dekade mendatang.
Efek dari fenomena ini akan menjadi bencana baru yang menyeluruh. Mulai dari meningkatnya tingkat keasaman air laut, erosi pantai, kondisi cuaca yang semakin ekstrem, berlanjutnya degradasi lahan, hingga hilangnya spesies-spesies penting dan hilangnya ekosistem. Dampaknya, kondisi ini akan membuat produksi pangan terganggu, menyebabkan kekurangan pangan dan meluasnya kelaparan, hingga berpotensi menggusur tempat tinggal 140 juta orang pada tahun 2050.
Nursery RAPP
com-APRIL Group menerapkan pengelolaan produksi kayu yang lestari, dapat terlacak (traceable), dan berkelanjutan. Foto: Dok. RAPP
Upaya untuk mewujudkan tujuan SDGs demi kelangsungan hidup manusia dan planet bumi tidak bisa dicapai dari kerja satu pihak saja. Di Indonesia, pemerintah berupaya menyelaraskan 17 tujuan SDGs ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Panjang Nasional (RPJMN) melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).
ADVERTISEMENT
Tidak hanya dari pemerintah, seluruh pihak diharapkan bekerja sama untuk mewujudkan tujuan global pada 2030 mendatang. Keterlibatan swasta dinilai menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan SDGs.
Dalam empat tahun pertama penerapan SDGs, banyak perusahaan yang melibatkan, menyesuaikan, bahkan mengubah nilai bisnis mereka agar sejalan dengan SDGs sembari menerapakan model usaha yang berkelanjutan — APRIL Group salah satunya.
Bekerja sama dengan PwC dan UNDP sejak 2018, APRIL Group menetapkan tiga tujuan utama (core goals) dan empat tujuan katalis (catalytic goals) SDGs yang terkait langsung dengan operasional perusahaan. Core goals tersebut yakni: Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Berkelanjutan), 13 (Perubahan Iklim), dan 15 (Ekosistem Darat) dan empat catalytic goals lainnya: Tujuan 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan), Tujuan 4 (Pendidikan Bermutu), Tujuan 6 (Akses Air Bersih dan Sanitasi), serta Tujuan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Area Restorasi Ekosistem Riau
com-Proyek Restorasi Ekosistem Riau (RER) seluas dua kali wilayah Singapura yang dijalankan APRIL Group Foto: Dok. RAPP
Salah satu aksi nyata APRIL Group dalam menjalankan komitmennya terhadap lingkungan tercermin dalam proyek restorasi dan konservasi perusahaan. Salah satunya adalah Restorasi Ekosistem Riau (RER) yang bertujuan melindungi dan merestorasi hutan gambut di Semenanjung Kampar. Mencakup area seluas lebih dari dua kali Singapura, proyek yang telah dijalankan APRIL sejak 2013 ini sejalan dengan SDGs Tujuan 13 (Perubahan Iklim) dan SDGs Tujuan 15 (Menjaga Ekosistem Darat).
ADVERTISEMENT
Tidak hanya itu, salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di Indonesia ini juga memastikan seluruh bahan baku produksi berasal dari pengelolaan yang bertanggung jawab atau sejalan dengan SDGs Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Aksi ini juga selaras dengan kebijakan perusahaan yang tertuang dalam Sustainable Forest Management Policy (SMFP) versi 2.0, bahwa pengelolaan produksi kayu dilakukan secara lestari, dapat terlacak (traceable), dan berkelanjutan.
APRIL Group, lewat unit bisnis PT Riau Andalan Pulp dan Paper (RAPP), meyakini bahwa penerapan SDGs tidak cukup jika hanya tentang kegiatan operasi perusahaan saja. Memastikan masyarakat sekitar terlibat dalam keberhasilan perusahaan sudah menjadi prioritas APRIL bahkan sebelum SDGs berlaku. Berbagai program Community Development (CD) ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan tingkat pendidikan, penyediaan air bersih, dan kemitraan untuk mencapai tujuan.
Area produksi APRIL Group di Pangkalan Kerinci
com-Sejalan dengan Sustainable Forest Management Policy (SMFP) versi 2.0, pengelolaan produksi APRIL Group dilakukan secara lestari, dapat terlacak (traceable). Foto: Dok. RAPP
Direktur Utama PT Riau Andalan Pulp and Paper Sihol Aritonang menjelaskan saat ini APRIL tengah mengukur dampak atau kontribusi dari operasional perusahaan yang terkait dengan target dan tujuan dalam SDGs. Proses ini merupakan tahapan selanjutnya yang dilakukan perusahaan setelah menetapkan core goals dan catalytic goals.
ADVERTISEMENT
“Salah satu tujuan yang terkait dengan bisnis kami adalah Tujuan 12 yakni Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Tahap selanjutnya adalah mengukur dampak pencapaian terhadap pencapaian Tujuan 12 ini. Pengukuran dilakukan pada level target, misalnya salah satu target dibawah Tujuan 12 ini adalah pengurangan limbah hingga 50 persen,” ujarnya.
Artikel ini merupakan hasil kerja sama dengan RAPP
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan