Ketika Donald Trump Membuat Presiden Jokowi Geregetan

Dua hari lalu, Presiden Jokowi dibuat kesal saat pertama kali mendengar keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Rasa jengkelnya membuat kenangannya saat terakhir bertemu dengan Trump muncul kembali.
Saat itu, ia dan pemimpin lainnya, termasuk Trump, menghadiri forum Asean di Vietnam dan Filipina. Makan malam pun tiba, kebetulan istri Jokowi, Iriana, duduk di antara Jokowi dan Trump.
"Saat makan malam, kebetulan jejer (sebelahan) dengan istri saya di sini, terus Presiden Trump di sini (sebelah kanan Iriana), saya di sini (sebelah kiri). (Trump) ngajak ngomong istri saya terus," ucap Jokowi di Istana Bogor, Jumat (8/12).
Entah apa yang dibicarakan, sikap Trump yang terus menerus mengajak Iriana mengobrol menarik perhatian Jokowi. Bagaimana tidak, Jokowi yang duduk di sebelah Iriana tidak dilibatkan dalam pembicaraan tersebut.
Meski menjabat sebagai kepala negara, namun Jokowi tetap manusia biasa jika berkaitan dengan pasangannya. Ia pun memasang sikap waspada. Jika sewaktu-waktu Trump berniat memonopoli permaisurinya lebih lanjut.

"Terus sepanjang makan malam ngajak ngomong Bu Jokowi, saya juga saya liatin terus," ungkapnya.
Pertemuan tersebut berakhir, ia pun berusaha melupakan momen saat Iriana dimonopoli Trump. Sayang, kekesalannya muncul kembali saat Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hal yang sebelumnya tidak pernah diungkapkan Trump dalam pertemuan antar-negara sebelumnya.
"Ya, inilah perubahan-perubahan dunia yang kadang menjengkelkan, kadang menyakitkan. Tapi itulah fakta yang kita hadapi," ujar Jokowi.
Meski kembali ingat soal insiden Iriana-Trump, namun kali ini hal tersebut harus ia singkirkan jauh-jauh. Ia pun segera meraih telepon, menghubungi para kepala negara, serta raja anggota OKI untuk memastikan dukungan kepada Palestina tidak akan berubah, meski Trump mengambil keputusan berbeda.
"Dan yang kita takutkan, kita khawatirkan ini nanti bisa mengguncang stabilitas keamanan, stabilitas perdamaian di dunia. itu yang kekawatiran saya kira semua kepala negara, kepala pemerintahan di sana," ungkapnya.
