Ketika Pembunuhan Terjadi di Negara Paling Aman di Dunia

Kedamaian di Islandia seakan terenggut di awal tahun ini. Ada seorang gadis dibunuh. Hal biasa mungkin bagi warga di banyak negara, tapi tidak di Islandia. Ini Islandia! Pembunuhan langka di negara ini, bisa dihitung jari.
Kasus kematian Birna Brjánsdóttir pada pertengahan Januari ini mengejutkan negara berpopulasi 330 ribu orang itu. Hanya ada dua pembunuhan di Islandia dalam tiga tahun terakhir, dan tidak pernah seheboh kali ini.
Dikutip dari media Islandia, Iceland Magazine, Birna dinyatakan hilang pada 14 Januari lalu setelah orang tuanya melapor ke polisi. Wanita 20 tahun ini terakhir terlihat di kota Reykjavik sekitar pukul 5 pagi, keluar dari bar bersama kawan-kawannya. Keesokannya, Birna tidak masuk kerja dan tidak bisa dihubungi, keluarga dan kawannya kalut.

Islandia langsung geger.
"Tidak biasanya wanita muda hilang di tengah kota Reykjavik. Tidak biasanya. Orang-orang tidak menghilang di sini," kata juru bicara tim SAR Islandia, Þorsteinn G Gunnarsson, kepada media Inggris The Independent.
Pencarian terbesar dalam sejarah negara itu lantas dilakukan. Sekitar 685 orang tim pencari dan 11 anjing pelacak dikerahkan. Alat-alat yang digunakan terdiri dari 57 super jeep, 17 bus, 12 quadbike, 15 drone, 4 perahu boat dan dua helikopter.
Pencarian berlangsung selama delapan hari. Jasad Birna ditemukan di tepi pantai dekat mercu suar Selvogsviti di Semenanjung Reykjanes, lebih dari 40 km dari kota Reykjavik. Mayat Birna ditemukan setelah polisi mendapati sebuah mobil dengan bercak darah.
Tiga hari kemudian, polisi menahan dua orang pelaut berkewarganegaraan Greenland dari sebuah kapal pukat. Di kapal itu mereka juga ditemukan narkotika jenis ganja seberat 20 kg.
Kedua pelaut terduga pembunuh Birna itu tidak memiliki hubungan dengan Birna. Hingga saat ini, penyebab kematian Birna masih misterius. Polisi tidak pernah menemukan senjata pembunuh. Penyelidikan masih terus berlangsung.
Kasus ini mengguncang Islandia dan Greenland. Sekitar 300 orang menyalakan lilin dan meletakkan karangan bunga tanda belasungkawa di depan Konsulat Islandia di Nuuk, Greenland. Di media sosial, ucapan belasungkawa membanjir.
"Semua orang di Greenland membicarakan hal ini. Setiap rumah, semua orang di jalan. Kami mengikuti berita berbahasa Inggris atau menggunakan penerjemah Google untuk menerjemahkan bahasa Islandia," kata warga Islandia, Aviâja E. Lynge kepada media Iceland Monitor.
Islandia adalah satu dari tiga negara dengan tingkat pembunuhan terendah di dunia. Menurut data soal pembunuhan yang dirilis lembaga think tank Brasil, Igarape, selama 13 tahun antara 2000-2012 hanya ada 25 orang yang tewas terbunuh di Islandia. Tahun terbanyak pembunuhan di negara itu terjadi pada 2000 dengan lima kematian. Pada 2003, 2006 dan 2008 bahkan tidak ada pembunuhan sama sekali.
Tingkat pembunuhan di Islandia adalah 0,3 per 100 ribu penduduk. Dua negara dengan tingkat pembunuhan terendah lainnya adalah Liechtenstein (0,0) dan Singapura (0,2).
Menurut Helgi Gunnlaugsson, profesor sosiologi di University of Iceland, kasus ini mengejutkan Islandia bukan hanya karena tingkat pembunuhan di negara itu sangat rendah, tapi juga karena pelakunya adalah orang asing.
"Kebanyakan kasus pembunuhan di Islandia bukan misteri. Korban dan pembunuhnya biasanya saling kenal, pembunuh jarang menutupi kejahatannya dan biasanya kasus dipecahkan dengan cepat," ujar Gunnlaugsson kepada New York Times.
"Keterlibatan orang asing juga tidak pernah terjadi. Reaksinya akan berbeda jika tersangka adalah dua pria Islandia," lanjut dia.
