Ketika Pengungsian Menjadi Ladang Berdarah

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Korban meninggal di area pengungsian Borno (Foto: MSF/reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Korban meninggal di area pengungsian Borno (Foto: MSF/reuters)

Sebuah area pengungsian di negara bagian Borno sebelah utara Nigeria pada senin siang (17/1) waktu setempat menjadi ladang berdarah. Hal ini lantaran jet tempur Angkatan Udara Nigeria melakukan kesalahan dengan menjatuhkan bom ke pengungsian tersebut yang sebenarnya ditargetkan kepada milisi Boko Haram.

Pengungsian yang menjadi lokasi terjatuhnya bom (Foto: MSF/reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Pengungsian yang menjadi lokasi terjatuhnya bom (Foto: MSF/reuters)

Pejabat setempat melaporkan jumlah korban meninggal mencapai 100 orang yang terdiri dari para pengungsi dan relawan. Sementara itu menurut data organisasi internasional Doctors Without Borders, korban meninggal mencapai 52 orang dan korban luka-luka yang masih dalam perawatan berjumlah 120 orang.

Para korban yang sedang dirawat di pengungsian  (Foto: MSF/reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Para korban yang sedang dirawat di pengungsian (Foto: MSF/reuters)

Negara bagian Borno selama ini menjadi tempat berlindung bagi 25.000 warga sipil dari konflik berkepanjangan antara pemerintah dan kelompok Boko Haram. Dari jumlah tersebut, 15.000 di antaranya adalah anak-anak yang sebelum peristiwa ini sudah banyak menderita dan bahkan meninggal karena kelaparan.

Perlindungan bagi warga sipil, pengungsi dan relawan kemanusiaan sebenarnya telah diatur dalam Konvensi Geneva 1949. Namun dalam kondisi konflik bersenjata, serangan-serangan yang salah target masih kerap terjadi, seperti dalam konflik di Suriah dan Palestina.

Peristiwa yang terjadi di Borno ini juga menewaskan setidaknya 6 relawan dari International Committee of the Red Cross (ICRC) dan melukai 13 relawan lainnya.