Ketika Si Jambul Kuning Jinak dan Dilatih Terbang Bebas bak Merpati

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ahmad Sofian, Pecinta Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)
zoom-in-whitePerbesar
Ahmad Sofian, Pecinta Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)

Monti namanya. Si Jambul Kuning berusia 1,5 tahun ini lihai dalam free fly atau terbang bebas. Jambul Kuning adalah burung dengan nama ilmiah Cacatua Sulphurea, burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 35 cm, dari marga Cacatua. Burung ini dilindungi, tetapi masyarakat boleh merawatnya dengan izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Baca juga: Melihat Aneka Burung Langka di Pameran Unggas Nasional TMII

kumparan (kumparan.com) berkesempatan berbincang dengan Ahmad Sofian, pecinta burung paruh bengkok. Dia tergabung dalam Komunitas Pecinta Burung Paruh Bengkok chapter Bekasi.

Komunitas Pecinta Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)
zoom-in-whitePerbesar
Komunitas Pecinta Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)

Memulai pembicaraan, Sofian menekankan izin resmi untuk pemeliharaan burung yang dilindungi. Menurut dia, memelihara dan merawat burung harus mengikuti aturan UU. Tak boleh asal sembarang merawat dengan alasan suka saja.

"Ini namanya Monti, usianya 1,5 tahun. Saya beli dari penangkaran, izinnya lengkap," terang Sofian, Sabtu (24/4).

Ahmad Sofian, Pecinta Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)
zoom-in-whitePerbesar
Ahmad Sofian, Pecinta Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)

Penertiban beberapa waktu lalu akan pemeliharaan burung-burung yang dilindungi memang membuat pecinta burung was was. Tapi itu tidak berlaku bagi mereka yang resmi memiliki izin. Seperti yang Sofian dan teman-temannya. Seminggu sekali dengan para pecinta burung paruh bengkok, mereka berkumpul dan saling bertukar pengetahuan.

Setiap akhir pekan di kawasan Harapan Indah, Bekasi Sofian dan anggota komunitasnya menunjukkan kebolehan-kebolehan burung-burung mereka.

"Kalau untuk jenis Kakatua ini ada dua, bisa dilatih trik biasanya untuk sulap atau meniru kata-kata, dan juga untuk terbang bebas, free fly," beber dia.

Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)
zoom-in-whitePerbesar
Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)

Free fly ini bak burung Merpati yang dilepas terbang ke angkasa, kemudian kembali setelah pasangannya ditunjukkan. Mungkin banyak di antara kamu yang kerap melihat para pecinta merpati melakukan ini.

Kalau si jambul kuning berbeda, setelah dilepas dan terbang tinggi, dia kembali kepada orangnya yang memelihara. Dengan teriakan nama atau kode peluit, si jambul kuning akan kembali.

"Kalau jambul kuning ini kenal sama orang, jadi kita kasi kode peluit atau teriakan nama, dia akan kembali setelah terbang," tuturnya.

video youtube embed

Sofian membeli Monti pada usia 3 bulan. Kemudian dia melatihnya, dimulai dari terbang pendek, sampai bisa terbang tinggi dan kembali.

"Butuh 4-6 bulan untuk free fly. Jadi mesti sabar, dan memastikan burung sudah siap ketika dilepas," beber dia. Setiap hari, Monti diberi makan jagung, kwaci, dan juga buah.

Komunitas Pecinta Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)
zoom-in-whitePerbesar
Komunitas Pecinta Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)

Komunitas pecinta burung paruh bengkok tersebar di seantero Indonesia. Mereka juga ketat soal urusan izin, karena ingin memberikan contoh bahwa memelihara hewan yang dilindungi harus sesuai aturan.

"Kalau beli dari penangkaran harganya sekitar Rp 8-9 juta, usia 3 bulan. Ini dengan surat lengkap. Kalau beli yang tidak berizin murah, Rp 2-3 juta, cuma ini kan melanggar hukum," beber dia.

Komunitas Pecinta Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)
zoom-in-whitePerbesar
Komunitas Pecinta Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)

Paruh bengkok ini juga ada macam jenisnya, mulai dari kelas love bird, jambul kuning, hingga burung jenis makaw yang impor. Mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

"Jadi untuk paruh bengkok lebih bersahabat dengan manusia, karena mereka burung koloni," imbuh Sofian.

Menurut Sofian, untuk burung yang sudah terlatih harganya juga melambung, apalagi yang menang kontes.

"Pemilik baru tinggal mengikuti kebiasaan pemilik lama, si burung akan nurut," tutup dia.

Ahmad Sofian, Pecinta Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)
zoom-in-whitePerbesar
Ahmad Sofian, Pecinta Burung Paruh Bengkok (Foto: Dok. Ahmad Sofian)