Ketua Komisi VIII Beberkan Catatan Timwas Haji DPR 2026 Jelang Pengawasan
·waktu baca 2 menit

Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang mengatakan, Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI Tahun 2026 akan bekerja secara menyeluruh dan ketat dalam mengawasi penyelenggaraan ibadah haji.
Pengawasan dilakukan mulai dari proses keberangkatan jemaah di Indonesia hingga pelaksanaan puncak ibadah di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Sedangkan Timwas Haji 2026 berangkat bertahap mulai 16 hingga 21 Mei. Total ada 2 Timwas Haji DPR pada tahun ini.
Pengawasan Berbasis Temuan Lapangan
Marwan menekankan, pengawasan DPR harus berbasis temuan langsung di lapangan yang akan menjadi bahan evaluasi nasional penyelenggaraan haji 2026.
“Yang menjadi perhatian kita sebetulnya bukan saja di Makkah dan Madinah, tetapi sejak dari sini jemaah berangkat. Ketika jemaah mendarat di Madinah pun itu sudah menjadi catatan pengawasan kita,” kata Marwan dalam Rapat Timwas Haji DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5).
Ia menambahkan, tim pengawas akan mendokumentasikan seluruh temuan dan kondisi lapangan secara detail selama proses pengawasan berlangsung.
“Dalam pengawasan Timwas Haji DPR tidak mungkin semua temuan dicatat sendiri oleh anggota. Karena itu tim pendukung akan melekat untuk memastikan seluruh persoalan, pelayanan, dan potensi masalah tercatat dengan baik,” ujarnya.
Fokus pada Hotel hingga Transportasi
Pengawasan Timwas difokuskan pada sejumlah sektor vital pelayanan jemaah, mulai dari akomodasi hotel, konsumsi, layanan kesehatan, hingga transportasi.
Untuk akomodasi, DPR menetapkan hotel jemaah maksimal berjarak 4,5 kilometer dari pusat ibadah.
Namun, Timwas menemukan indikasi adanya hotel yang melebihi ketentuan tersebut dengan jarak mencapai sekitar 13 kilometer dari Masjidil Haram.
“Ini akan menjadi objek peninjauan kita. Ada hotel yang melebihi keputusan Panja dan itu harus dicek langsung,” tegasnya.
Soroti Akses Berat bagi Jemaah Lansia
Timwas juga menyoroti kawasan Jabal Ka’bah yang menjadi titik penurunan jemaah dari bus.
Lokasi tersebut dinilai cukup berat bagi jemaah lanjut usia karena harus berjalan sekitar 1,5 kilometer menuju Masjidil Haram dengan kondisi jalan menanjak.
Sekitar 21 ribu jemaah lansia disebut berpotensi terdampak kondisi tersebut, terutama saat operasional bus selawat dihentikan menjelang puncak haji.
