Ketua Matakin Budi Tanuwibowo Jadi Wantimpres: Terharu Dapat Perhatian yang Sama

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Budi Tanuwibowo saat pengangkatan Dewan Pertimbangan Presiden RI dan Kepala Bakom RI oleh Presiden Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Budi Tanuwibowo saat pengangkatan Dewan Pertimbangan Presiden RI dan Kepala Bakom RI oleh Presiden Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Budi Tanuwibowo mengaku terharu setelah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (2/10). Dia dilantik bersama 25 Wantimpres lainnya.

Ia merasa mendapat perhatian yang sama meski berasal dari komunitas Konghucu yang jumlah pemeluknya relatif kecil di Indonesia.

Budi mengaku tak menyangka mendapat kepercayaan tersebut. Ia mengatakan baru menerima telepon dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya pada Jumat (2/10) pagi untuk menjadi salah satu anggota Wantimpres.

“Hari ini saya terus terang kaget ya. Karena baru tadi pagi menerima telepon dari Pak Teddy Indra Wijaya untuk menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden,” kata Budi kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (1/10).

Ia menjelaskan, komunitas Konghucu di Indonesia pernah mengalami pembekuan selama dua dekade, yakni pada 1978 hingga 1998. Kondisi tersebut mulai pulih pada era pemerintahan Presiden B.J. Habibie dan berlanjut pada pemerintahan presiden-presiden berikutnya.

“Dengan itu saya tentu sangat terharu karena sebagai bagian yang jumlahnya paling kecil tapi mendapat perhatian yang sama,” ujarnya.

Budi yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) itu mengatakan, organisasinya memiliki sejarah panjang di Indonesia. Embrio MATAKIN, kata Budi, telah berdiri sejak 17 Maret 1900, sebelum sempat dibekukan pada masa pendudukan Jepang dan kembali bangkit pada 1955.

Ia juga menyebut sejumlah umat Konghucu turut berperan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, termasuk keterlibatan dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Salah satunya adalah Djiaw Kie Siong, yang rumahnya menjadi tempat pengasingan Soekarno dan Mohammad Hatta bersama sejumlah pemuda di Rengasdengklok menjelang proklamasi kemerdekaan.

Menurut Budi, pelantikannya sebagai anggota Wantimpres menjadi salah satu wujud nyata dari semangat Bhinneka Tunggal Ika yang dipegang teguh Indonesia.

“Nah, ini dengan kejadian hari ini, peristiwa hari ini, saya merasa negeri ini benar-benar sudah memegang teguh salah satu pilarnya, semboyannya, Bhinneka Tunggal Ika,” tuturnya.

Ia berharap kebersamaan dan kerukunan masyarakat semakin kuat sehingga dapat mendorong kemajuan Indonesia. Budi meyakini besarnya potensi Indonesia perlu didukung oleh persatuan dan tekad bersama seluruh rakyat.