Ketua MUI Serukan Masyarakat Cerdas Berpolitik, Jangan Sampai Bermusuhan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua MUI Muhammad Cholil Nafis di acara "Urgensi Peran Dai Dan Dewan Kemakmuran Masjid Dalam Menjaga Ukhuwwah Di Tahun Politik" yang diselenggarakan oleh MUI Kota Bekasi, Rabu (15/10/2023). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ketua MUI Muhammad Cholil Nafis di acara "Urgensi Peran Dai Dan Dewan Kemakmuran Masjid Dalam Menjaga Ukhuwwah Di Tahun Politik" yang diselenggarakan oleh MUI Kota Bekasi, Rabu (15/10/2023). Foto: Dok. Istimewa

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH. Cholil Nafis, menyerukan agar cara berpolitik masyarakat Indonesia di tahun politik menjadi lebih cerdas dan naik kelas.

Hal ini dia sampaikan pada acara Urgensi Peran Dai Dan Dewan Kemakmuran Masjid Dalam Menjaga Ukhuwwah di Tahun Politik yang diselenggarakan oleh MUI Kota Bekasi, Rabu (11/10).

"Maka ke depan cara berpolitik kita naik sedikit menjadi lebih cerdas. Gagasannya (dari para calon) apa, programnya apa, kemudian track record dan integritasnya," kata dia.

Menurut dia, saat ini masyarakat Indonesia dapat dengan mudah mengakses informasi bagaimana kinerja dari para calon pemimpin selamat menjabat. Selain itu, masyarakat juga dapat memantau bagaimana komitmen kebangsaan dari para capres.

Ketua MUI Muhammad Cholil Nafis di acara "Urgensi Peran Dai Dan Dewan Kemakmuran Masjid Dalam Menjaga Ukhuwwah Di Tahun Politik" yang diselenggarakan oleh MUI Kota Bekasi, Rabu (15/10/2023). Foto: Dok. Istimewa

"Silakan dipilih sesuai kemauannya, tidak usah sampai bermusuhan," tegasnya.

Lebih lanjut, Cholil menyatakan dalam berpolitik, diskusi dan beradu argumen merupakan hal yang biasa. Bukan politik namanya jika tak berargumen, kata dia.

"Kalau diam saja, itu bukan politik, itu pasti Jumatan," ujarnya.

Ketua MUI Muhammad Cholil Nafis di acara "Urgensi Peran Dai Dan Dewan Kemakmuran Masjid Dalam Menjaga Ukhuwwah Di Tahun Politik" yang diselenggarakan oleh MUI Kota Bekasi, Rabu (15/10/2023). Foto: Dok. Istimewa

Dia juga menekankan bahwa agama tidak boleh menjadi alat untuk mengadang dan menghalangi-halangi kandidat lain. Menurut dia, bahwa memilih berdasarkan petunjuk agama itu boleh, akan tetapi, agama tidak boleh dijadikan alat merendahkan dan menghina calon lain.

"Memilih (calon pemimpin) itu ibadah dan ada pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, tapi jangan dipakai agama ini untuk menafikan dan merendahkan yang lain," paparnya.

"Sama halnya seperti bapak ibu sekalian boleh bilang suaminya paling ganteng, istrinya paling cantik, tapi tidak boleh bilang istri orang lain itu jelek," tambah dia.

"Jangan bawa-bawa agama untuk menjatuhkan lawan, tapi bawa agama ketika hendak memilih salah satu calon sehingga apa yang kita lakukan bernilai ibadah di sisi Allah," pungkasnya.